| Kamis, 11 Nopember 2004 | SALA |
Toko Roti Tak Seramai Tahun Lalu"TAHUN lalu hari-hari menjelang Lebaran seperti ini sudah ramai. Namun sekarang biasa saja. Rata-rata sehari masih terjual dalam kisaran 200 kardus," kata Ridwan, salah seorang karyawan Toko Roti Orion Solo. Bagi Toko Orion yang berada di kawasan Jalan Kapten Mulyadi Solo, sehari bisa menjual 200 kardus roti memang bukanlah hal yang luar biasa. Sebagai salah satu pusat penjualan roti (khususnya roti mandarin), jumlah tersebut barulah jumlah rata-rata yang biasa terjual setiap hari. Karena itu ketika menjelang Lebaran penjualan masih di kisaran angka tersebut, itu berarti masih belum ada peningkatan. Mungkinkah kondisi itu karena adanya larangan memberikan parsel di kalangan pejabat? Ridwan tak membantah hal tersebut. "Tahun lalu masa-masa puncak penjualan di sekitar H-4 hingga H-3. Namun demikian, sebelum itu pun biasanya pembeli sudah ramai. Tapi Lebaran tahun ini walaupun sudah mendekati H-4, ternyata masih seperti hari-hari biasa," tandasnya. Padahal, kata dia, tahun lalu pada saat-saat seperti ini penjualan sudah di atas rata-rata penjualan harian. Paling tidak di atas kisaran angka 200-an kardus roti. "Kalau meningkat, mestinya juga akan seperti itu. Namun kali ini ternyata belum," ujarnya. Tidak Kaget Meskipun begitu, Ridwan tidak kaget dengan kondisi yang demikian. Karena menurut dia, itu tidak dialami Toko Roti Orion saja. Hampir semua, bahkan di berbagai bidang usaha juga mengalami hal yang sama. "Yang saya dengar memang seperti itu. Mungkin karena kondisi masyarakat sekarang tidak seperti tahun lalu, hingga ketika mendekati Lebaran pun tingkat komsumtifnya tidak seperti dulu," tutur dia. Selain menjual roti mandarin yang menjadi ciri khasnya, toko tersebut juga menjual aneka roti lain. Misalnya aneka roti kering seperti bolu dan intip. Sementara yang roti basah antara lain roti semir dan bolu. "Pelanggan kami sebenarnnya tidak terbatas dari Kota Solo. Namun juga di kota-kota sekitarnya. Bahkan khusus untuk mandarin, kami juga memasok hingga ke Jakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota besar lain," imbuh Ridwan. Kondisi yang masih seperti biasa itu juga pengaruh larangan adanya pengiriman parsel. Menurut dia, khusus untuk penjualan parsel juga berbeda dari tahun lalu. "Biasanya yang parsel ramai, tapi sekarang tidak seperti sebelumnya." (Wisnu Kisawa-17s) |