| Kamis, 11 Nopember 2004 | SALA |
Tirtonadi Masih Adem-adem SajaTIRTONADI- Geliat arus pemudik yang masuk Terminal Bus Tirtonadi Solo adem-adem saja, belum menunjukkan peningkatan. Memasuki H-4, kemarin suasana di terminal masih seperti hari-hari biasa, belum menunjukkan aktivitas masa angkutan Lebaran. "Bisa jadi puncak ledakan pemudik akan berlangsung Sabtu atau Minggu tepat saat Idul Fitri. Sebelumnya kami memprediksikan puncak arus mudik akan berlangsung Jumat. Namun melihat kenyataan seperti saat ini, bisa jadi mundur," kata Kepala Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) Terminal Tirtonadi, Bambang Tukowibowo ST, kemarin. Dia menuturkan, masa angkuta Lebaran tahun ini agak menyimpang dari tahun-tahun sebelumnya. Keramaian arus mudik biasanya sudah berlangsung sejak H-7 dan puncaknya terjadi pada H-2 dan H-1. Namun tahun ini, pada H-7 aktivitas pemudik belum mewarnai terminal. Bahkan sampai H-5, juga belum menunjukkan peningkatan jumlah penumpang. Bambang memperkirakan, sepinya pemudik kali ini karena kegiatan pemilihan umum yang berlangsung pada tahun ini. Pada perhelatan nasional itu, banyak warga masyarakat yang merantau terpaksa pulang kampung untuk menggunakan hak suaranya. Dan pada masa Lebaran ini, mereka sudah tidak lagi mudik. "Apa pun kondisinya, kami siap melayani pemudik yang turun di terminal," tambahnya. Sementara itu agar tidak menimbulkan gangguan dalam masa angkutan Lebaran, Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan(DLLAJ) Solo mengadakan uji emisi gas buang bus yang masuk terminal. Mereka melakukan tes asap bus apakah sudah memenuhi ambang batas yang ditentukan. Hal tersebut dimaksudkan setiap bus laik jalan serta mengurangi polusi udara dari asap yang dikeluarkan. "Dari hasil tes, rata-rata emisi gas buangnya di bawah ambang batas," kata Kepala Subdin Teknik dan Sarana, Budho Laksono SH yang mengawasi tes tersebut. Selain melakukan tes emisi gas buang, para petugas DLLAJ juga memeriksa kelengkapan administrasi dan teknik setiap bus yang mengangkut penumpang. Kartu pengawasan atau trayek, SIM, STNK serta kondisi fisik bus dan mesinnya juga diperiksa. "Kalau ada bus yang tidak laik jalan, terpaksa kami batalkan pemberangkatannya, sebelum bus diperbaiki," kata Bambang. (sri,G18-80s) |