| Kamis, 11 Nopember 2004 | SALA |
Jalur Selatan Rawan Bencana
KOTA- Upaya pengalihan konsentrasi arus mudik dari pantura ke jalur selatan tampaknya bakal tak semulus rencana. Memasuki musim penghujan, sejumlah lokasi di jalur itu rawan banjir serta tanah longsor. Bahkan Kebumen beberapa waktu lalu sempat tergenang, sehingga arus lalu lintas yang melalui daerah itu tersumbat. Terkait dengan itu, perhatian Pemprov Jateng tengah dipusatkan di jalur selatan Jawa Tengah, sehingga lokasi pada puncak arus mudik yang jatuh pada H-2 sudah siap. "Kami berupaya memaksimalkan penanganan di Kebumen serta jalur selatan, sehingga saat arus mudik memasuki puncaknya, hal itu tidak mengganggu. Untungnya musibah itu sudah terjadi, sehingga sudah disiapkan antisipasinya. Semoga pada puncak arus mudik H-2 sudah normal," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jateng Mardijono, saat meninjau di Terminal Tirtonadi dan Stasiun Balapan, kemarin. Kepala Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Provinsi Jateng H Soeharto menuturkan, di lokasi yang rawan longsor sudah diantisipasi dengan menyediakan alat berat dari Dinas Bina Marga Provinsi Jateng. Adapun jalur yang diperkirakan rawan longsor antara lain jalur alternatif dari Tanjung sampai Bumiayu, kemudian Bumiayu sampai daerah selatan Buntu. Di tempat itu banyak terdapat bukit-bukit yang jika terkena hujan akan rawan longsor. Di daerah jalur selatan atau Buntu ke timur arah Purwokerto terdapat gorong-gorong rusak, sehingga kendaraan yang melintas hanya bisa berjalan satu per satu dan merayap pelan. Semua aparat DLLAJ Jateng juga diturunkan di tempat rawan banjir dan longsor, setelah melihat curah hujan di mayoritas daerah di Jateng sudah cukup tinggi. Mulai H-7 lalu, jembatan timbang juga sudah tidak diaktifkan sehingga aparatnya bisa dialihkan untuk menjagaan di daerah rawan tersebut. Mardijono mengungkapkan, selain daerah rawan bencana, yang diantisipasi juga kemacetan yang disebabkan pasar tumpah. Nyaris di tiap jalur selalu terdapat pasar tumpah. Sebagai antisipasi, 30 aparat keamanan baik dari kepolisian, Satpol PP maupun hansip akan ditempatkan di lingkungan pasar. Untuk terminal paling padat di Jateng, yakni Terminal Tirtonadi karena merupakan persimpangan jalur dari berbagai jurusan se-Jawa. Terminal Tirtonadi Solo dan Purwokerto tercatat menjadi tolok ukur keramaian pemudik di Jateng. DLLAJ Jateng, kata dia, akan menginstruksikan jajaran Pemkot dan Pemkab guna kembali mengecek bus angkutan umum mengenai kelaikan kendaraan. Misalnya, ban tidak boleh vulkanisir serta dilengkapi martil pemecah kaca. "Kepolisian sempat menemukan bus yang masih menggunakan ban vulkanisir dan yang belum dilengkapi martil pemecah kaca. Padahal jauh-jauh hari sudah kami instruksikan untuk ketentuan itu pada awak armada," katanya. Dari pantauannya, mulai Semarang menyusuri Demak, Kudus sampai Pati, kondisinya masih normal. Namun masih ditemukan beberapa truk besar yang lalu lalang di jalan. Padahal saat H-4 seharusnya sudah berhenti. Atau jika masih berada di jalan harus masuk ke kantong-kantong parkir. (G18,sri-80s) |