logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Nopember 2004 PANTURA
Line

Sukses setelah Buka Kios di Setono

KEBERADAAN Pasar Grosir Setono, diakui atau tidak, benar-benar mengangkat penjualan batik dan tekstil hasil alat tenun bukan mesin (ATBM) di Kota Pekalongan. Selain berhasil mengangkat ekonomi para pengusaha, secara otomatis pasar grosir itu juga mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak.

Seperti diakui oleh Feri, pengusaha ATBM Fariz Colection. "Terus terang, usaha kami berhasil setelah berdirinya Pasar Grosir Setono," kata Ferial Imamudin, pemilik Fariz Colection.

Memang, penjualan di dalam grosir pada awalnya belum sebagus di kios luar. Namun kini, penjualan di dalam pun ikut ramai. "Apalagi, menjelang Lebaran ini, pembeli sangat banyak," katanya.

Dia menuturkan, sejak sepekan lalu omzet pembelian meningkat 100 persen. Karena itu, dirinya terpaksa membantu istrinya yang setiap hari melayani pembeli di kios Grosir Setono, Blok D III Dalam 69 Pekalongan.

Namun, mengenai kenaikan omzet itu sendiri dirasakan terjadi sejak awal Ramadan lalu. Saat itu pembelinya justru pedagang-pedagang, untuk dijual lagi. Mereka berasal dari kota-kota di Jawa maupun luar Jawa.

Adapun sepekan sebelum Lebaran ini, sebagian besar penjualannya dilakukan secara ritail. Itu terjadi karena sebagian pembeli adalah pengunjung lokal Pekalongan dan pemudik.

"Dalam bulan terakhir ini, omzet kami meningkat menjadi Rp 190 juta; sedangkan pada bulan-bulan sebelumnya hanya Rp 140 juta. Peningkatan terbesar hingga 100 persen itu terjadi mulai sepekan lalu," katanya.

Produk yang dijual, kata Feri -nama panggilan Ferial-, berupa kurungan bantal, taplak meja, dan berbagai asesoris kebutuhan rumah tangga.

Dia mengakui, sebenarnya menjelang Lebaran ini ada kesempatan bagi dirinya untuk menaikkan harga produk ATBM dan batik. Namun hal itu tidak dilakukan, karena khawatir pelanggannya malah lari. "Mereka kan sudah percaya dengan saya. Karena itu tidak mungkin saya menaikkan harga," katanya.

Awal dari kesuksesan itu, menurut dia, dari usaha dagang batik oleh istrinya.

"Ketika itu, kami belum memproduksi sendiri. Namun setelah usahanya di Pasar Grosir berkembang, maka produk ATBM itu pun diproduksi sendiri. Dengan memproduksi sendiri, maka hasilnya akan seperti yang diinginkan, termasuk kualitasnya akan lebih baik ," katanya.

Peningkatan

Mengenai produk batik dan ATBM menjelang Lebaran ini, menurut Kepala Kantor Pariwisata, Totok Parwoto SSos, ada peningkatan. Sejak H-7 Lebaran, pasar sudah dipadati pengunjung. Itu artinya, ada peningkatan yang cukup berarti. "Rata-rata peningkatan penjualan sejak Ramadan sekitar 50%," katanya.

Banyaknya pembeli, membuat pengusaha tidak bisa memenuhi permintaan dari pedagang luar kota. Mereka sudah berusaha memproduksi semaksimal mungkin, namun tetap tak bisa memenuhi pesanan. Padahal, ada beberapa di antara mereka yang terpaksa memproduksi di luar kota, seperti Solo. "Kalau mengandalkan pembatik dari Pekalongan, jelas tidak memungkinkan lagi, karena mereka sudah mendapat pesanan sebelumnya," katanya.

Ramainya pasar batik dan ATBM itu, menurut Totok sudah diprediksikan sejak lama. Booming penjualan batik itu, diakui akan meningkatkan perekonomian masyarakat Pekalongan.

Berkaitan dengan padatnya pengunjung, Totok mengimbau agar di lokasi pasar grosir diciptakan kondisi yang aman dan nyaman bagi pembeli. Demikian pula pedagang, jangan menjatuhkan pedagang lainnya, serta pedagang harus menjaga mutu batik yang diproduksinya sehingga tidak akan membuat kapok pembeli.

"Kesan yang ada pada pembeli saat ini, harga masih lebih murah dibandingkan dengan produk lainnya; sedangkan kualitasnya cukup bagus. Kesan itu harus dipertahankan, sehingga ke depan nama pasar grosir di Pekalongan makin dikenal masyarakat di kota-kota besar di Indonesia bahkan di luar negeri." (Trias Purwadi-34a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA