| Kamis, 11 Nopember 2004 | PANTURA |
Kali Gung, Nasibmu KiniOleh: Heri SetiardiBETAPA besar karunia yang Allah berikan kepada makhluk-Nya, baik berupa karunia yang menyangkut manusia secara langsung maupun karunia berupa faktor pendukung bagi kehidupan manusia berupa alam lingkungan. Begitu juga karunia berupa sungai bagi kehidupan manusia yang sangat memberi manfaat kepada makhluk hidup sebagai penyuplai kebutuhan air. Air sungai bisa untuk keperluan pertanian, perikanan, kelistrikan, peternakan, dan untuk kebutuhan manusia sendiri. Menyinggung cerita tentang sungai, kami jadi teringat akan sungai yang mengalir dari kaki Gunung Slamet ke muara laut pantai utara, yaitu Sungai Gung atau orang Tegal dan sekitarnya menyebut dengan istilah Kali Gung yang keberadaannya melintasi Kabupaten dan Kota Tegal. Banyak sejarah yang menceritakan keberadaan Kali Gung tersebut, misalnya Si Gringsing dan si Kasur yang menjadi cerita lokal yang mengingatkan akan kelestarian alam. Hal tersebut mengingatkan kita untuk tetap berusaha melestarikannya. Betapa tidak, keberadaan Kali Gung kini sangat memprihatinkan, penuh dengan pencemaran limbah rumah tangga, industri, dan pertanian. Belum lagi dengan adanya kerusakan akibat tidak terkendalinya penggalian bahan galian C yang merusak alur sungai. Keberadaan Kali Gung sebagai sungai semakin hari semakin rusak. Bila saja zaman dulu Tegal mempunyai seorang seniman sekelas Gesang, tentu akan tercipta pesona Kali Gung lewat syair lagu "Kali Gung nan Elok" ataupun akan terlukiskan dalam goresan kanvas tentang liuk-liuk badan sungai nan elok rupawan dengan ornamen kegiatan perempuan yang sedang mencuci di tepian bantaran sungai. Indah memang bila saja tergali aspirasi dari keberadaan Kali Gung. Tak mengherankan bila PT Kereta Api Indonesia mengangkat pamor Kali Gung menjadi nama salah satu kereta api ekslusif yang mempunyai harga diri besar sebagai trade mark dari sebuah kota/kabupaten. Namun sangat disayangkan, Pemkot setempat tidak cukup peduli untuk menggali potensi terhadap keberadaannya. Namun, malah membiarkan eksplotasi yang berlebihan yang berakibat pada kerusakan lingkungan. Apalagi kesadaran masyarakatnya juga masih rendah terhadap kelestarian sungai sebagai penunjang kebutuhan hidup. Kini airmu mengalir keruh menuju muara, liuk tubuhmu yang indah terbabat secara kejam oleh begu, buldozer, dan cangkul yang mengambil potensi kekayaan alami tanpa terkendali, terutama di sepanjang Kali Bakung Danawarih - Lebaksiu - Kajen. Seksimu Hilang Kesan seksimu sebagai sebuah sungai mulai hilang ditelan kemauan zaman yang tak kenal kompromi sehingga keseimbangan kelestarian lingkungan sama sekali tidak diperhatikan. Wajahmu pun mulai banyak jerawat kehitam-hitaman akibat buangan limbah pabrik (home industri) dan limbah rumah tangga. Pihak-pihak terkait hanya bisa menggelar cara pemecahan secara teoritik lewat berbagai pertemuan dan rapat-rapat, belum terlalu maksimal dalam penerapan di lapangan dengan suatu alasan, dana yang diperlukan untuk perbaikan tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima. Coba bayangkan saja, rata-rata pendapatan asli daerah dari sektor ini tiap tahunnya hanya sekitar 50 juta, sedangkan untuk biaya recovery mencapai miliaran rupiah. Inilah memang nasib lingkungan hidup dalam era otonomi yang selalu dikorbankan untuk kepentingan sesaat. Akankah hal tersebut terus terjadi? Masalah itu menjadi beban pemikiran kita semua, terutama pihak-pihak terkait yang mengurusi kelestarian lingkungan hidup. Hal tersebut tentu pula harus mendapat dukungan dari legislatif sebagai representatif dari wakil masyarakat. Tidak hanya menarget pendapatan asli daerah secara angka-angka, namun juga harus menciptakan keseimbangan kelestarian alam lingkungannya secara nyata. Yang jelas, Kali Gung semakin hari semakin rusak. Apakah hal itu akan kita biarkan? Ataukah ada langkah nyata untuk perbaikan pada masa mendatang? Banyak yang menanti jawaban atas pertanyaan tersebut secara nyata di lapangan. Akankah anak cucu kita kelak hanya melihat Kali Gung sebagai saluran limbah raksasa menuju pembuangan akhir ke laut, atau hanya akan menerima beban longsoran pengikisan tebing-tebing penyangga akibat eksploitasi bahan galian C yang tak terkendali? Semua itu berpulang pada diri kita sekarang, terutama kepada para eksekutif, legislatif, dan masyarakat sekitar sebagai stakeholder penentu kebijakan kelestarian fungsi sungai sehingga mampu memberikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. - Penulis adalah Direktur Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Balapulang-Tegal |