logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Nopember 2004 PANTURA
Line

Panti Asuhan Umar bin Chotob

Shalat Tarawih Dilakukan Pukul 02.00

MENDIDIK anak untuk hidup mandiri dan kreatif sesuai dengan kemampuan serta kepandaiannya. Itulah yang menjadi jiwa dan semangat Panti Asuhan Umar bin Chotob. Panti tersebut di bawah Pengurus Daerah Aisyiyah Bagian Pembina Kesejahteraan Sosial Kabupaten Batang.

Gedung panti asuhan tersebut menempati areal tanah seluas lebih kurang satu hektare di Desa Cepokokuning, ujung selatan Kecamatan Batang. "Panti Asuhan Umar bin Chotob berdiri pada 1994. Sekarang ini, jumlah yang mondok 34 anak," ujar pengasuh panti, Achmad Muryidi.

Anak didiknya itu sekarang bersekolah mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi. Selepas SD, ada yang masuk SMP atau MTs, selanjutnya ada yang SMA, SMK, dan MA.

Selama Ramadan ini, ada kekhususan yang dilaksanakan, yaitu menunaikan shalat tarawih pada waktu dini hari.

"Ini yang khusus di bulan Puasa, anak-anak melaksanakan shalat tarawih tidak seperti yang lain, selepas shalat isya. Namun di Panti Asuhan Umar bin Chotob, shalat tarawih kami laksanakan pukul 02.00 dilanjutkan shalat tahajud kemudian sahur, shalat subuh, dan tadarus Alquran," papar Achmad Mursyidi.

Bangun pagi hari, anak-anak sudah disibukkan untuk bersekolah. Yang masuk siang hari, diisi kegiatan keagamaan.

Dalam menjalankan aktivitasnya, Mursyidi dibantu oleh Mukim dan Kuwat Samudera. "Selama bulan Puasa ini anak-anak sudah khatam membaca Alquran sampai tiga kali," ujar dia.

Telaah Alquran

Untuk kegiatan keagamaan, selaian tadarus, anak-anak panti juga diajak untuk menelaah kitab-kitab, antara lain fikih dan hadis yang kemudian diskusi bersama.

Pola yang diterapkan di panti asuhan itu memang seperti di pondok pesantren modern. Sebab, anak didiknya tidak hanya dibekali ilmu-ilmu keagamaan tapi juga keterampilan.

"Kami beri pelajaran bagaimana cara bertani pepaya. Anak-anak mendapat pelajaran bagiamana cara memilih biji yang bagus, lalu pembibitannya, kemudian penanaman, perawatan, sampai panen."

Tidak hanya itu, di belakang bangunan itu terdapat kandang ayam, kambing, dan sapi. Peternakan itu dijadikan anak-anak panti sebagai laboratorium hidup, bagaimana mengelola hewan piaraan.

Biasa Kreatif

"Kami mengajari anak-anak bagaimana memelihara sapi penggemukan. Termasuk juga kambing sehingga mendidik anak untuk bisa kreatif," ungkap Mursyidi.

Di Panti Asuhan Umar bin Chotob diterapkan lima sikap yang harus dijiwai anak-anak. Pertama, ikhlas, anak-anak harus ikhlas dididik, belajar, dan bekerja. Kedua, sederhana, sikap itu harus dijiwai dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, mengembangkan sikap ukhwahislamiah dan bertoleransi. Keempat, berdikari. "Di sinilah titik berat yang kami ajarkan, sehingga membiasakan anak-anak untuk tidak tergantung pada orang lain. Akan tetapi, mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan sendiri."

Kelima, membiasakan anak beraktivitas dan berkreativitas sesuai dengan kemampuannya. Artinya, pengurus memberi keleluasaan anak-anak mengekspresikan kepandaiannya.

Selama ini untuk pembiayaan, panti ditanggung pengurus dan donatur. Achmad Mursyidi berharap uluran bantuan dari pemerintah. "Harapan kami, dari pemerintah bantuan itu rutin diberikan. Tidak insidensial, toh semua ini untuk kepentingan pembangunan sumber daya manusia."(Arif Suryoto-34j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA