logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Nopember 2004 PANTURA
Line

Oleh-oleh Pemudik dari Pantura

Disiapkan 15 Juta Butir Telur Asin

OLEH-OLEH atau buah tangan, agaknya sudah menjadi barang bawaan "wajib" bagi orang yang baru pergi dari luar kota. Terlebih pada musim mudik Lebaran, buah tangan menjadi sesuatu yang harus mereka cukupi.

Tentu saja, barang itu harus memenuhi selera orang yang akan diberi, termasuk sesuai dengan kemampuan kantong si pemberi.

Bagi pemudik dari Jakarta yang melewati jalur pantai utara (pantura) Cirebon-Tegal, hampir sepanjang jalan banyak disuguhi tawaran aneka oleh-oleh. Mulai dari buah semangka di sepanjang jalan Gebang (Cirebon), kepiting dan rajungan rebus di Mundu (Cirebon), blewah dan bawang merah di Klampok (Brebes), serta telur asin Brebes.

Bagi yang menghendaki oleh-oleh lengkap, dapat menghubungi pusat oleh-oleh di Losari Barat (Cirebon).

Dari sekian tawaran oleh-oleh itu, agaknya pengrajin telur asin Brebes justru yang kini sedang bersiap-siap untuk mengeruk untung besar. Betapa tidak? Berdasarkan data dari Kantor Peternakan, dari 167 pengrajin dan pemilik toko/kios telur asin kini menyiapkan paling sedikit 15 juta butir telur untuk menghadapi Lebaran.

Itu jumlah yang besar untuk suatu perdagangan telur; dan barangkali kalau diketahui Muri (Museum Rekor Indonesia), Brebes akan dicacat sebagai penghasil telur asin terbesar di dunia.

Menurut Kepala Kantor Peternakan, Ir Nono Setiawan, kebutuhan normal telur itik di luar Ramadan berkisar antara 9 dan 9,5 juta butir per bulan. Namun mendekati Lebaran ini, kebutuhan kian meningkat hingga mencapai 15 juta butir.

"Kebutuhan telur pada hari biasa dapat dicukupi peternak lokal, tapi menjelang Lebaran harus mendatangkan dari daerah lain," paparnya.

Disebutkan, dari kebutuhan 15 juta butir dan baru terpenuhi 9,5 juta butir, mengharuskan pengrajin mencari bahan baku ke Kota Tegal, Slawi, Cirebon, Kebumen, Cilacap, dan Banyumas.

Seoarang pengrajin telur asin, Khaerudin, dari Desa Pesantunan, menyebutkan kondisi saat menjelang Lebaran yang rutin terjadi adalah harga bahan baku naik.

"Cari barang juga sulit, apalagi mencari yang berkualitas, harus berani bayar mahal," tukasnya.

Terlihat Gregetnya

Kesiapan pemilik kios dan toko telur asin menyambut kedatangan pemudik, sejak sepekan lalu sudah terlihat gregetnya. Seperti di sepanjang jalan raya atau tepatnya di Desa Pesantunan dan Desa Pebatan, Kecamatan Wanasari, puluhan pedagang membuat spanduk besar bertuliskan menyediakan oleh-oleh telur asin.

Hal sama dilakukan pedagang di Kota Brebes, mulai dari Jl P Diponegoro sampai Jl Achmad Yani; mereka bersiap menyambut kehadiran pemudik.

"Ya, ini kan momen setahun sekali. Mengapa tidak ikut-ikutan menyambut pemudik," ujar seorang pedagang di Jl P Diponegoro, kemarin.

Berdasarkan pengalaman pedagang, titik keramaian pembeli ada pada H-3 sampai H+10 Lebaran.

Orang yang membeli sebelum Lebaran, pada umumnya pemudik dari Jakarta maupun pelintas yang ke arah barat. Jumlah kebutuhan biasanya lebih besar. Seorang pedagang menuturkan, order pembeli terbesar dari instansi pemerintah dan swasta.

"Mereka biasanya setahun sekali membeli telur dalam jumlah besar. Ada yang sekali borong sampai 1.000 butir," ujar pemilik toko.

Pemudik yang sekadar membeli sebagai buah tangan keluarga, tak lebih membeli antara 50 dan 100 butir per orang. Tapi menurut para pemilik kios dan toko, mereka (pembeli itu) biasanya tak hanya telur.

"Mereka beli telur, biasanya sekalian beli air mineral, rokok, atau kebutuhan lain, sehingga saling mengisi," papar mereka.

Lokasi paling ramai jualan oleh-oleh di Kota Brebes, berada di dalam kota. Sayang, di seputar kota lokasi parkir kurang menguntungkan, karena sudah dipadati arus kendaraan jurusan Cirebon-Tegal.

Yang lebih santai berada di barat kota, sekitar setengah kilometer ke barat, atau persisnya di barat Kali Pemali. Di kawasan itu, tempat parkirnya agak longgar, bisa menjorok ke selatan, atau di utara jalan raya.

Lebih leluasa lagi di sekitar tempat parkir truk di Klampok, tiga kilometer arah barat Kota Brebes, yang dikenal sebagai tempat peristirahatan pengemudi. Di tempat itu, tersedia aneka oleh-oleh, termasuk MCK dan rumah makan.(Wahidin Soedja-42a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA