| Kamis, 11 Nopember 2004 | WACANA |
tajuk rencanaKenaikan Indeks Saham Cermin Kepercayaan Pasar-- Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta belakangan ini cukup signifikan. Terakhir bahkan mampu menembus level tertinggi, yakni 901,380 yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal di Indonesia. IHSG sebagai benchmark utama tetaplah menjadi indikator penting mengenai kepercayaan pasar khususnya investor asing. Membaiknya indeks berarti juga meningkatnya kepercayaan terhadap bursa dan terhadap perekonomian nasional. Karena keputusan investasi, walaupun dalam bentuk portofolio, selalu didasarkan atas pertimbangan banyak faktor secara nasional, regional, ataupun global baik menyangkut aspek ekonomi makro maupun faktor-faktor nonekonomi seperti politik, sosial, dan keamanan. -- Walaupun parlemen masih terus ribut, langkah-langkah 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla rupanya telah menumbuhkan keyakinan baru termasuk di kalangan pelaku pasar. Paling tidak, itulah yang dicerminkan dari perkembangan di lantai bursa yang tetap bullish di mata investor. Ini adalah reaksi awal yang memberikan harapan baru bagi pemerintahan baru. Benarkah demikian? Tentu ada yang berpendapat, semua itu lebih dipengaruhi faktor global katimbang perbaikan di dalam negeri. Penilaian seperti itu juga pernah dialami kabinet Megawati. Seakan-akan kestabilan makro bukan merupakan keberhasilan dari usaha kita sendiri. -- Yang jelas, kondisi riil menunjukkan perkembangan yang baik termasuk tingkat kepercayaan. Dan, selayaknya momentum seperti ini tidak disia-siakan. Momentum yang juga telah dipicu sejak masa pemerintahan sebelumnya, yakni dengan semakin stabil perekonomian makro kita. Sampai sekarang, kondisi makro makin baik dan ditunjang reaksi pasar yang positif. Inflasi 2004 kendati agak meningkat, diperkirakan sampai akhir tahun masih di bawah 7%. Sampai Oktober inflasi sudah 6,4% tetapi itu lebih karena faktor siklikal. Sementara itu, kurs rupiah juga menunjukkan gejala yang makin mantap. Kendati lebih sering berubah-ubah, tak jauh dari angka rata-rata Rp 9.000/dolar AS yang diperkirakan akan terus bertahan sampai akhir tahun. -- Karena itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menunjukkan kecenderungan meningkat walaupun tetap perlahan-lahan. Tahun ini pertumbuhan mungkin akan mencapai 4,9% sedangkan tahun depan pemerintah berani mematok 5,4%. Kondisi yang makin kondusif itu menambah kepercayaan pasar dan investor terutama investor asing. Sebab, merekalah yang banyak memiliki kekuatan untuk menggerakkan bursa yang sekarang memiliki nilai transaksi Rp 1,006 triliun. Bagi kita, membaiknya indeks saham memang belum cukup karena yang lebih ditunggu adalah bergeraknya sektor riil baik investasi maupun perdagangan. Namun, itu adalah tahap awal yang baik karena ketika kepercayaan makin meningkat biasanya segera disusul oleh direct investment. -- Memang diakui, semua itu tak bisa lepas dari pengaruh global. Begitu pun fluktuasi yang terjadi di pasar uang ataupun pasar modal. Hari-hari ini kondisi global mulai menunjukkan sedikit kecerahan setelah sebelumnya terpukul oleh kenaikan harga minyak dunia yang sampai lebih 50 dolar AS per barel. Sekarang ada tendensi harga minyak menurun lagi walaupun masih sangat tinggi dibandingkan dengan posisi awal. Akan tetapi, begitulah yang namanya ekonomi. Sinyal sedikit saja bisa memberi harapan baru dan sebaliknya keadaan bisa berubah cepat atau menjadi buruk kalau ada gonjang-ganjing di pasar minyak. Bagaimanapun minyak masih sangat sensitif termasuk dalam kaitan pergerakan kurs dolar. Dan, ketika dolar bergoyang maka bisa dipastikan semua terkena imbas. -- Kita ingin sekali lagi menggarisbawahi perlunya memanfaatkan momentum perbaikan makroekonomi serta meningkatnya kepercayaan pasar seperti diperlihatkan oleh posisi kurs rupiah dan indeks saham di lantai bursa. Dan, itu rupanya telah disadari termasuk oleh kabinet yang baru. Sebaliknya, kita pun berharap jangan sampai kepercayaan yang sudah membaik itu dirusak atau diganggu oleh berbagai kejadian yang tidak perlu seperti keributan di DPR ataupun faktor-faktor instabilitas lain. Sudah waktunya kita berpikir tentang Indonesia dalam skala makro dan untuk kepentingan bersama. Dengan begitu, segala daya dan upaya serta pikiran diarahkan ke sana. Kesadaran tentang keindonesiaan penting untuk memantapkan rekonsiliasi serta dukungan bagi pemerintahan yang baru. |