logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Nopember 2004 NASIONAL
Line

Radikalisasi Diri

Oleh: Prof Abdul Munir Mulkhan

(Dosen IAIN Sunan Kalijaga Yogya)

HIKMAH puasa yang sering dilupakan adalah ajaran tentang kritik dan radikalisasi diri. Puasa merupakan teknik mengenali diri dengan melakukan apa yang dibenci, ditakuti, dan tidak disukai. Sang raja yang takut jatuh dari singgasana kekuasaan berlaku bagai rakyat jelata, hartawan berlaku bagai si miskin dan papa, ulama berlaku bagaikan santri, meminta maaf pada orang yang memusuhi, melarang mengonsumsi makanan milik sendiri.

Dari tindakan seperti itu, seseorang bisa mengenali siapa dirinya dan siapa bukan dirinya sehingga muncul kesadaran akan jati diri dan kemanusiaannya. Penemuan dan pengenalan diri serta kesadaran kemanusiaan merupakan dasar pengembangan konsep diri. Konsep diri seperti itu, antara lain bisa dipahami dari berbagai ajaran yang berkembang dalam tradisi Jawa yang dikenal dalam konsep sapa sira sapa ingsun.

Selanjutnya, akan muncul kesadaran sosial yang semakin memperkuat harmoni kehidupan kemasyarakatannya. Kesadaran diri bukanlah ketika seseorang berjuang hanya bagi pemenuhan hajat hidup dan ego personalnya. Tanpa sadar diri adalah ketika segala tindakan seseorang selalu diletakkan dalam suatu perspektif sosial sehingga tidak merusak harmoni sosial dan kepentingan kolektif. Akan tetapi, sebaliknya justru makin memperkuat harmoni sosial dan pemenuhan hajat hidup sosial-kolektifnya.

Kritik diri melalui radikalisasi ego personal merupakan proses reaktualisasi diri dan pengayaan konsep diri itulah salah satu dari tujuan terpenting puasa. Keberhasilan puasa ditandai dengan tumbuhnya kesadaran sosial yang berakar pada akhlak dan etika diri itu. Sesudah menjalani puasa satu bulan, seseorang akan bersedia bertindak bagi kepentingan sosial dan pemenuhan hajat publik.

Karena itu, makna "diampuni dosanya yang telah lalu" dalam shauma ramadhaan iimaanan wa thisaaban (siapa yang puasa berdasar kepercayaan dan kesadaran diri) bukan sekadar bersih dari dosa masa lalu. Pengampunan bagi orang yang puasa itu, jika sesudah menjalani puasa perangainya berubah menjadi lebih suka beramal bagi kepentingan masyarakatnya. Setiap kali usai puasa, kesadaran diri dan kesadaran sosialnya semakin bertambah kaya.

Idul Fitri, kembalinya manusia yang berpuasa ke diri autotentiknya bagai anak manusia yang baru dilahirkan. Dari sini tata sosial ekonomi, politik, dan kebudayaan dikembangkan berbasis etika diri sebagai prinsip dasar pencapaian tujuan kemanusiaan universal hingga tumbuh kehidupan yang lebih berkeharmonisan, berkeadilan, berkemakmuran, dan berkemajuan. Seperti teknik hulul dalam tradisi Sufi, puasa itu ibadah untuk membangunkan kembali hasrat ketuhanan dengan mengendalikan hasrat kemanusiaan yang cenderung culas, egois, hedonis, dan apatis.

Praktik tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan seksual bagi suami istri pada siang hari walaupun halal adalah proses radikalisasi diri untuk memunculkan sifat-sifat ketuhanan dalam diri manusia. Melalui proses fisik dan jasadiah itu orang yang puasa melakukan operasi mental dan rohaniah. Hasilnya, kemampuan menahan nafsu dari ego pribadinya sehingga bersedia berbuat saleh melakukan tindakan bagi suatu tujuan memenuhi kepentingan orang lain yang lebih memerlukan.

Hikmah terdalam dari puasa adalah kesediaan tiap diri "membunuh nafsu" dan ego biologis memenuhi hajat hidup walaupun mampu dan bisa melakukannya. Makna itulah yang semestinya ditanamkan dalam diri tiap orang yang menjalani ibadah puasa.

Di sini pula makna lima ayat pertama Alquran diturunkan dalam Surat Al'alaq dengan kosa kata dan jumlah atau kalimat iqra' dilanjutkan bismi rabbika al-ladzi khalaq, khalaqa al-insaana min 'alaq, dan seterusnya. Inilah pencarian sangkan paraning dumadi dalam tradisi Jawa.

Karena itu, Ramadan diakhiri dengan memenuhi kewajiban membayar fitrah bagi mereka yang memiliki kelebihan makanan untuk keperluan sehari pada hari sesudah puasa. Zakat fitrah berupa makanan utama itu diberikan kepada fakir miskin yang lebih memerlukan sehingga pada Hari Raya Fitrah tidak ada seorang pun yang menderita tidak bisa makan hanya karena ditandai tidak adanya orang yang tidak bisa makan dan kelaparan sehingga kebahagiaan pada hari itu menjadi suatu kebahagiaan kolektif.

Berat 2,5 kg zakat fitrah merupakan ukuran minimal bagi mereka yang hanya memiliki kelebihan makanan untuk sehari pada hari sesudah puasa berakhir. Keberhasilan puasa seorang antara lain ditandai kesediaan memberikan apa yang dimiliki yang dia butuhkan bagi orang lain yang lebih membutuhkan ketika pada hari bahagia itu tidak bisa memenuhi hajat hidup minimalnya.

Makna lebih luas dari kewajiban fitrah itu adalah kesediaan tiap orang memberikan miliknya yang berharga bagi kepentingan publik, apakah itu kekuasaan, ilmu pengetahuan, atau peluang dan harta kekayaan.

Puasa adalah operasi rohaniah ketika si kaya bersedia memperlakukan diri bagai fakir miskin, penguasa memperlakukan diri sebagai rakyat jelata, ilmuwan berlaku bagai si pandir yang terus merindukan ilmu.

Inilah kritik diri paling radikal dari hikmah yang bisa dipetik dari puasa. Jika bisa memenuhinya, kita baru bisa berharap mencapai tingkat kesucian diri bagai anak baru lahir ke muka bumi dengan kepribadian fitri autentik yang belum diracuni ego nafsu pribadi, kepentingan dan keculasan politik kekuasaan, atau kerakusan ekonomi. Itulah manusia linuwih berwatak malaikat, maqam-nya lebih tinggi dari malaikat tapi tetap manusia biasa yang butuh makan, minum, sandang, dan papan.(33j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA