| Kamis, 11 Nopember 2004 | NASIONAL |
Nusakambangan dan PenghuninyaSandy Harun Pernah Pulang Terlambat
PARA terpidana korupsi yang semasa menghirup udara bebas "bermandikan" uang, kini merasakan sepi yang menjerat setelah dikirim ke Nusakambangan. Penjahat yang menjadi penghuni "Pulau Penjara" itu harus hidup tanpa saluran televisi, radio, dan sulitnya sinyal handphone. Namun Tommy Soeharto rupanya tetap memiliki keleluasaan lebih. Enam koruptor negeri ini yang sejak Kamis (4/11) lalu resmi menjadi penghuni bui tiga lembaga pemasyarakatan (lapas) di Nusakambangan mulai merasakan kegelisahan yang menyesakkan. "Tidak ada radio, tidak ada televisi. Lebih enak di Jakarta, dekat dengan keluarga pula," kata Lintong Sirongoringo, narapidana korupsi dengan vonis 4 tahun yang menghuni Lapas Kembang Kuning. Mantan Kepala Cabang Bank Mandiri Panglima Polim itu sebelumnya menginap di Lapas Cipinang sejak divonis membobol uang Bank Mandiri Rp 20 miliar pada 2002. Di Nusakambangan, praktis uang sebesar itu menjadi tidak berarti. Jangankan nonton televisi, mendengarkan radio pun tidak diperkenankan. Sejak menyeberang dari Dermaga Wijayapura Cilacap menuju Dermaga Sodong Nusakambangan, kesenyapan itu sudah terasa. Akses jalan beraspal menuju lapas mengelupas di sana-sini dengan semak belukar di kanan dan kirinya. Menguliti Ular Ada beberapa blok bangunan, salah satunya bekas bangunan kepala lapas yang hampir ambruk dimakan usia. Atapnya bolong, dan temboknya tidak lagi utuh. Sejumlah napi yang beberapa bulan lagi dinyatakan bebas tampak bergerombol di salah satu tepi jalan. Mereka tampak sibuk. Ternyata menguliti ular. Ya, di semak belukar itu belum lama ini baru saja dilepas ratusan ular kobra. Ular tersebut keburu tertangkap petugas sebelum diperdagangkan. Entah mengapa, alternatifnya justru dibuang di Pulau Penjara itu. Yang pasti, ular-ular itu juga menjadi penghuni baru Pulau Nusakambangan yang telah disimbolkan sebagai pulau paling "ngeri" di Indonesia. Dan, rombongan Komisi A DPRD Jateng yang melakukan kunjungan kerja ke sana pun tak henti-hentinya memberikan tanggapan atas pulau itu. Namun, di balik kengerian Nusakambangan, toh selebritas cantik Sandy Harun ternyata betah di sana. Siapa lagi yang dia kunjungi, kalau bukan Hutomo Mandala Putra yang akrab dipanggil Tommy Soeharto. Putra mantan presiden Soeharto itu memang dikenal punya hubungan khusus dengan Sandy Harun. Bahkan, Sandy dikabarkan memiliki akses khusus untuk dapat berlama-lama di dalam sel Tommy. Meski kabar itu langsung dibantah oleh Kalapas Batu Sudwi Haryatmo BcIP SH. Bantahan juga disampaikan menyangkut kabar Tommy sering "menghilang" dari Blok Blok Ruang Admisi dan Orientasi sel No 16A Lapas Batu, Nusakambangan. "Saya taruhannya," kata Sudwi yang pernah bertugas di Lapas Ambarawa dan Kudus itu. Istri Tommy Menurut Sudwi, Sandy Harun pernah meminta izin untuk menemui Tommy. Kala itu dia mengaku sebagai istri Tommy. Jam berkunjung hanya dibatasi sampai beberapa jam. "Namun Sandy Harun pernah pulang terlambat sampai waktu magrib. Saya tegur dia, tolong patuhi jam berkunjung, nanti saya yang kena sanksi," katanya saat menceritakan masuknya Sandy Harun ke Pulau Nusakambangan. Sekarang ada baiknya mengikuti dulu kunjungan rombongan Komisi A ke Nusakambangan. Begitu masuk ke Lapas Batu, rombongan yang didampingi Koordinator Urusan Pemasyarakatan Kanwil Depkeh HAM Sutomo Rahardjo SH dan Kalapas Batu Sudwi Haryatmo langsung menjumpai dua koruptor di sel isolasi, yakni Dedi Abdul Kadir yang divonis 6 tahun dan Duryani (keduanya sebelumnya menghuni Lapas Sukamiskin, Bandung). Keduanya mengapit sel terpidana mati bandar ekstasi Ang Kim Sui, warga Belanda keturunan China. Anggota Komisi A langsung menyodorkan sederet pertanyaan kepada keduanya secara bergantian, termasuk wartawan. Mulai dari kondisi kesehatan sampai fasilitas yang diberikan. Kunjungan diteruskan ke blok sebelahnya. Seorang petugas tampak membuka pintu kamar No 17A (versi petugas nomor 16A). "Selamat pagi Mas Tommy, ini dari Komisi A DPRD Jateng," sapanya setelah membuka engsel dan membuka pintu. Tommy Soeharto di dalam sel seukuran 4X4 meter itu. Bahkan, Sutomo Rahardjo menyampaikan salam. Senyum Tommy terus mengembang dan menjabat tangan rombongan itu satu per satu. Di sel itu tersedia satu kipas angin berdiri dan TV warna. Sebuah teko pemanas air elektrik, piring, sendok, dan gelas tergeletak di meja kayu. Sel itu dilengkapi kamar mandi yang ada WC-nya. Kamar mandi itu dengan penutup tembok yang tingginya sekitar 1 meter. Berkemas-kemas? Lantainya juga tidak seperti sel napi koruptor, tetapi sudah dilapisi karpet plastik kotak-kotak. Sebuah dipan tampak rapi dengan lipatan sprei. Tommy mengenakan kaus biru tua dipadu celana pendek biru muda. Alas kakinya memakai sandal plastik Lyly cokelat. Hampir semua rombongan masuk ke sel itu seperti berbaris. Namun, tidak seperti berhadapan dengan para napi korupsi. Tak satu pun pertanyaan yang telontar. Satu-satunya pertanyaan yang telontar adalah apakah Tommy berpuasa atau tidak. Tommy yang memiliki goresan di dahi itu pun menjawab dengan canggung. Praktis tak terjadi dialog panjang seperti dengan napi korupsi sebelumnya. Mereka seperti berhadapan dengan seseorang yang punya jabatan penting di negeri ini. Tidak dengan seorang narapidana atas kasus kepemilikan senjata api ilegal dan keterlibatan dalam pembunuhan hakim agung Syafiudin Kartasasmita. Bos PT Humpuss itu seperti masih menyimpan sisa-sisa kekuasaan seperti ketika ayahnya menjadi penguasa rezim Orde Baru. "Kasihan juga dia," ujar seseorang setelah mengetahui sel yang dihuni Tommy. Permakluman juga disampaikan petugas ketika ditanya Tommy disediakan sebuah pesawat TV di selnya. Menariknya, di tembok dekat pintu keluar terpasang beberapa foto dua anak Tommy yang sedang bermain-main di taman. Foto itu terpasang dalam potongan-potongan figura, seperti pada umumnya sebuah keluarga. Barangkali Tommy juga sering merindukan buah hatinya itu. Meski saat itu Tommy benar-benar di dalam sel, keragu-raguan masih saja tersimpan di dalam benak. Benarkah Tommy kerasan hidup bertahun-tahun di penjara Nusakambangan menghabiskan kurungannya? Maka, seloroh ini mungkin bisa menjadi kenyataan mengingat Tommy masih memiliki sisa-sisa kekuasaan, meski Kalapas Batu berkali-kali menyanggahnya. "Setelah kita keluar dari Lapas Batu, mungkin Tommy juga berkemas-kemas untuk segera bertolak ke Jakarta," kata seseorang di antara rombongan. (Agus Toto W-33t) | ||||