logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Nopember 2004 EKONOMI
Line

Investor Asing Angkat Indeks Harga Saham

JAKARTA-Kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali berlanjut di PT Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pada penutupan kemarin menguat signifikan 17,333 poin ke level 918,713.

Investor yang terus masuk dan meminati saham-saham unggulan mengangkat indeks kembali. Indeks LQ 45 naik 3,449 poin ke level 200,803, JII naik 2,563 poin ke posisi 152,700, MBX naik 4,432 poin di level 244,366, dan DBX naik 4,814 poin pada level 214,555.

Perdagangan di pasar reguler berlangsung ramai dengan transaksi sebanyak 23.652 kali pada volume 3.537.834 lot saham senilai Rp 1,346 triliun. Sebanyak 106 saham naik harganya, 27 saham turun, dan 24 saham stagnan.

Saham-saham yang naik harganya pada top gainer di antaranya International Nickel (INCO) naik Rp 250 menjadi Rp 11.050, BCA (BBCA) naik Rp 150 menjadi Rp 2.650, Astra Argo Lestari (AALI) naik Rp 150 menjadi Rp 3.075, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 150 menjadi 12.900.

HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 100 menjadi Rp 6.550, BRI (BBRI) naik Rp 75 menjadi Rp 2.125, Telkom (TLKM) naik Rp 75 menjadi Rp 4.750, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 50 menjadi Rp 3.750, dan Indosat (ISAT) naik Rp 50 menjadi Rp 5.400.

Saham yang turun harganya di top looser antara lain Astra International (ASII) turun Rp 100 menjadi Rp 8.500, Indoncement (INTP) turun Rp 50 menjadi Rp 2.375, Gajah Tunggal (GJTL) turun Rp 25 menjadi Rp 550, dan United Tractor turun Rp 25 menjadi Rp 1.900.

Perburuan investor asing terutama terjadi pada saham-saham unggulan. Namun saham-saham lapis dua yang fundamentalnya bagus juga naik karena diburu oleh investor lokal.

Kenaikan indeks yang terus berlanjut juga karena ada sentimen positif, yakni harga minyak dunia kembali turun di bawah level 50 dolar AS per barel.

Sementara itu rupiah pada penutupan perdagangan kemarin berada di level Rp 9.050/dolar AS atau kembali melorot dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp 9.012/dolar AS.

Secara umum pelaku pasar menilai saat ini tidak ada sentimen positif yang mampu mendorong rupiah setelah usai divestasi 51% saham Bank Permata dan penjualan 10% saham Bank Danamon.

Bahkan beberapa analis pasar uang menilai saat ini rupiah cukup terdesak oleh dolar AS yang mulai menguat di pasar global setelah ada kekhawatiran pelaku pasar dunia atas penguatan mata uang euro secara tajam.

''Investor saat ini mulai kembali mengoleksi dolar AS,'' tutur analis sebuah bank swasta di Jakarta, kemarin.(dtc-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA