logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Nopember 2004 EKONOMI
Line

Usaha Sampingan, Produk Musiman

Pertanyaan:

Menjelang Lebaran ini saya mencoba bisnis kecil-kecilan, yaitu menjual roti kering ke lingkungan yang saya kenal. Pertama saya cobakan pada beberapa orang tua murid di play group anak saya. Di luar dugaan pesanan yang saya terima cukup banyak. Bahkan beberapa teman suami saya juga memesan dalam jumlah tidak sedikit. Pesanan yang banyak itu rata-rata setelah mereka mencoba kue yang saya buat.

Jujur saja, sebenarnya saya menyukai pembuatan kue sejak masih kuliah. Secara kualitas kue yang saya buat tidak kalah dari yang dipajang di supermarket-supermarket yang harganya jauh lebih tinggi. Saya sebenarnya berkeinginan membangun bisnis kue kering itu hingga memiliki merek yang dikenal. Namun saya ragu sendiri, apakah omzet penjualan hanya meningkat pada saat menjelang Lebaran dan Natal? Jangan-jangan setelah saya menerjuni omzetnya menjadi sangat kecil ketika Lebaran dan Natal usai. Yang saya tanyakan bagaimana memasarkan usaha rumahan sebagaimana saya hingga menjadi sebuah usaha yang besar? (Ny Lina Gunadi, Jati Indah Kudus)

Jawaban :

Minggu lalu kami menerima banyak pertanyaan yang serupa dengan Ibu Lina. Di antaranya Ibu Teguh di Jalan Ki Mangunsarkoro Semarang, Bapak Gagik di Graha Padma Semarang, dan Ibu Naning di Puspanjolo Semarang. Tapi di kolom yang terbatas ini kami baru bisa menjawab pertanyaan ibu Lina terlebih dahulu.

Ibu Lina, salah satu persoalan yang paling sering dihadapi seseorang yang akan memulai usahanya adalah ketakutan produknya tidak diterima oleh pasar. Dalam kasus pemasaran ada contoh yang menarik dari seorang wanita guru sekolah minggu bagi anak-anak di gereja bernama Mary Kay.

Semula ia merasa tidak memiliki kemampuan menjual, namun ketika ditawari menjual buku-buku pendidikan bagi anak-anak antusiasmenya muncul karena terkait dengan hobinya, yaitu mendongeng untuk anak-anak. Dari menjual buku pendidikan itulah kemudian nama Mary Kay dikenal sebagai tokoh penjual yang sukses dan kemudian menjadi pemilik Mary Kays Cosmetics yang bisa memekerjakan ratusan tenaga ahli kecantikan di seluruh dunia.

Ilustrasi itu saya sampaikan kepada Ibu Lina untuk menunjukkan bahwa modal dasar terpenting bagi seorang penjual adalah "antusias" terhadap produk yang ditawarkan. Jika Anda mengatakan sejak kuliah sudah memiliki hobi membuat kue, maka itu adalah modal yang sangat besar buat Ibu untuk bisa meyakinkan dan menarik konsumen yang dibidik. Antusiasme yang muncul dari dalam hati Ibu akan sangat berpengaruh pada pikiran dan hati konsumen yang Anda bujuk untuk membeli.

Jika skala usaha yang Ibu bangun adalah industri rumah tangga, maka memang harus memulai dari segmen yang sangat spesifik, yaitu orang-orang yang Ibu kenal. Promosi produk-produk rumah tangga terutama makanan biasanya paling efektif melalui proses dari mulut ke mulut. Ingat contoh-contoh aktual misalnya Soto Gebrak, Wajik Week, Gudeg Ceker, dan sebagainya. Agar produk Ibu selalu diingat sebaiknya harus membuat merek atau label yang gampang diingat oleh pembeli. Sebab, kalau promosi dari mulut ke mulut hanya menyebutkan "kue kering teman saya", maka biasanya mereka mudah lupa. Pada saat ingin membeli mereka akan mencari produk yang sama di supermarket-supermarket. Untuk membuat produk ibu tidak menjadi produk massal, di samping merekatau label juga harus membuat suatu ciri kue yang berbeda dari kue kering lainnya.

Mengenai perilaku mengonsumsi yang Ibu perkirakan hanya pada saat Lebaran dan Natal, Ibu bisa melakukan identifikasi hari-hari istimewa konsumen yang bisa menggunakan kue buatan Anda, contohnya arisan, ulang tahun, pertemuan orang tua murid, dan lain-lain. Untuk memperluas jaringan distribusinya Ibu bisa membuka kerja sama dengan swalayan, mini market, bagian banquet hotel-hotel, toko-toko pusat oleh-oleh, dan sebagainya.

Hobi dan keinginan Ibu untuk mengembangkan usaha merupakan antusiasme yang tumbuh dalam diri Ibu. Dengan antusiasme dan keahlian Ibu Lina, saya yakin produk Ibu tidak hanya laku pada saat Lebaran dan Natal. Nah Ibu Lina, tes pertama untuk menjadi seorang pengusaha adalah kemampuan mengalahkan keraguan Anda sendiri. Jika keraguan itu mampu Anda kalahkan, maka Ibu bisa memulai usaha sebagai pengusaha kue kering!

Sementara untuk Ibu Teguh, Bapak Gagik, dan Ibu Naning, jika kurang jelas bisa datang ke SwaConsult di Perkantoran Bukitsari 5-6 Jalan Bukit Raya Semarang dengan konfirmasi melalui Sekretaris IMA Jateng Sdri Fany telepon (024) 8412600.(53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA