logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 OLAHRAGA
Line

Kompetisi Dua Wilayah Langkah Mundur

SLEMAN -Apabila usulan perubahan format kompetisi Divisi Utama dari satu wilayah menjadi dua wilayah disetujui, maka ini merupakan langkah mundur bagi PSSI dalam penyelenggaraan sistem kompetisi.

''Saya tidak tahu, tetapi kalau usulan itu akhirnya disetujui, jelas merupakan langkah mundur,'' kata Pelatih PSS Daniel Roekito menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela buka puasa timnya dengan organisasi suporter Slemania di Rumah Dinas Bupati Sleman, baru-baru ini.

Menurut dia, sebelum sistem satu wilayah digelar, dulu kompetisi Divisi Utama digelar dengan format dua wilayah, yakni timur dan barat.

Dengan alasan untuk lebih membina dan memajukan sistem kompetisi di Tanah Air, mulai dua periode lalu mekanismenya diubah menjadi satu wilayah.

Roekito yang pernah menangani sejumlah kesebelasan termasuk PSIS Semarang, mengaku tidak memahami misi atau alasan mengapa sistem kompetisi diusulkan untuk dikembalikan ke format semula.

''Kalau kompetisi Divisi Utama satu wilayah yang sudah berjalan dengan baik ini diubah menjadi dua wilayah, maka ini merupakan langkah mundur bagi persepakbolaan di Indonesia,'' jelasnya, seraya menambahkan, ''Aku tidak mengerti, alasannya apa?''

Biaya

Kalau soal biaya, rasanya juga tidak mungkin. Dia mengakui, dengan sistem satu wilayah biaya yang dikeluarkan relatif besar, tetapi itu sudah menjadi risiko tiap kesebelasan. Dia tidak yakin apakah perubahan format akan membuat biayanya lebih sedikit.

''Karena bagi tim yang masuk empat besar dan harus bertanding ke Senayan, juga memerlukan biaya dan itu tidak sedikit,'' jelas Roekito, yang pernah membawa tim masuk ke babak selanjutnya di Senayan.

Dikemukakan pula, hampir semua kesebelasan peserta kompetisi Divisi Utama mampu merekrut pemain-pemain asing yang cukup mahal, yang artinya mereka relatif tidak mengalami masalah dalam soal pembiayaan. ''Kalau saya lebih setuju satu wilayah, seperti sistem persepakbolaan di negara-negara maju. Itu baru namanya kompetisi,'' katanya.

Lagi pula, lanjutnya, yang namanya kompetisi semua kesebelasan harus saling bertemu. Bila dibagi dua wilayah, siapa pun juaranya menjadi tidak murni. Karena tiap wilayah paling hanya diambil empat untuk merebutkan posisi terbaik di Gelora Bung Karno Senayan.

''Jadi kalau alasannya biaya, rasanya kok tidak mungkin, buktinya mereka mampu merekrut pemain asing dengan biaya cukup mahal. Jadi biarkan alam yang menyeleksi, coba lihat di negara-negara maju yang namanya kompetisi itu satu wilayah,'' tutur pria asal rembag ini.

''Bahkan kalau perlu diadakan kompetisi lagi, seperti Piala FA (Iggris) atau Piala Raja (Spanyol) yang diikuti tim-tim Divisi II, Divisi I dan Divisi Utama. Finalnya nanti di Gelora Bung Karno Senayan. Barangkali sistem ini akan mempercepat kemajuan persepakbolaan di Indonesia,'' tambahnya.

''Jangan malah mengubah sistem yang sudah berjalan dengan baik.'' (sgt-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA