logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 WACANA
Line

Surat Pembaca

Dianaktirikan, Sarjana Bahasa Prancis

Sebuah keluhan untuk Bpk kepala Dinas P dan K Brebes. Tulisan ini saya buat dalam rasa kekecewaan yang mendalam. Betapa tidak, selagi orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan (baca:guru) bersuka cita dan menyambut baik seleksi penerimaan guru bantu dan CPNS 2004, saya malah hanya bisa menelan pil pahit dan gigit jari.

Untuk ikut seleksi pun saya gagal, apalagi diterima sebagai guru bantu, sepertinya mencari jarurn ditumpukan jerami. Sulit sekali. Alasannya, tidak ada jurusan Bahasa Prancis yang ada Bahasa Inggris.

Memang, dasar pendidikan saya jurusan Pendidikan Bahasa Prancis lulusan IKIP tahun 1994.

Mulai tahun 1994 itulah saya menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) karena pada waktu itu ada Program 1lmu - Ilmu Sosial ( A3 ). Setelah ada perubahan kurikulum sarnpai sekarang saya dialihbidangkan mengajar Bahasa Inggris. Semua berkat kebijaksanaan kepsek dan dukungan rekan-rekan guru.

Jadi notabene, saya sudah mengajar Bahasa Inggris selama kurang lebih sepuluh tahun. Rasanya, bukan waktu singkat dan kemampuan mengajar Bahasa Inggris pun tidak perlu dipertanyakan lagi. Selama itu saya sudah mengalami 4 kali perggantian kepala sekolah. Saya banyak mengalami suka duka, mulai honor ribuan rupiah dan ratusan ribu rupiah. Itulah romantika kehidupan pendidikan.

Harapan saya, pihak yang berkompeten khususnya Bpk kepala Dinas paham dan dapat rnemberikan sedikit jalan untuk masalah ini. Bukan honor tinggi yang diharapkan, tetapi perubahan nasib sebagai tujuan utama. Haruskah seurnur hidup jadi GTT. Tentu saja tidak. Untuk Bpk Drs H Tarsun MM, maaf.

Siti Zulaeni
JI Ustad Abbas 24 Rt 2/Rw 12, Brebes

***

Bravo Partai Kecil

Di awal Ramadan ada parpol kecil datang ke pasar tradisional di kabupaten saya untuk membagi sebungkus kurma serta selembar jadwal imsak, subuh, maghrib dan waktu shalat, lengkap dengan logo partainya. Para pedagang gendong pun senang karena untuk membeli kurma Rp 4.000 s.d Rp 5.000 tentu berat.

Kegiatan ini terang-terangan dan tanpa menuai protes. Seandainya dilakukan menjelang pemilu, tentu tuduhan muncul, mencuri start-lah, money politic-lah dan lainnya. Mungkin bagi partai kecil ini, bersedekah kepada bakul gendong adalah dianggap ibadah.

Syukur lima tahun mendatang para bakul bersuara untuk partainya. Jika tidak, karena mereka sudah lupa, ya tidak mengapa. Yang jadi pertanyaan, apa yang dilakukan partai-partai besar saat ini. Apakah wakil legislatifnya sibuk menebalkan kantongnya dan menyuplai pundi-pundi partai yang telah kosong untuk kampanye lalu.

Apakah ritme kehidupan mereka dalam siklus 4 tahun tidur dan jaga l tahun saja. Mengapa mereka pura-pura simpati kepada rakyat sampai dibelain sembunyi-sembunyi pada saat fajar, hanya ketika kampanye tiba. Padahal mereka punya waktu 24 jam x 5 tahun?

Tidak malukah kepada partai kecil, dengan cashflow kecil, mampu melakukan sesuatu tanpa memikirkan musim pemilu masih jauh. Saya sebagai rakyat kecil terus terang menaruh apresiasi yang tinggi kepada partai kecil tersebut.

M Sajat Turkhamun
Ngawen Rt 1/Rw 11, Muntilan

***

Toyota, Mengecewakan

Saya pelanggan Toyota yang setia, tapi Toyota tidak setia bahkan cenderung meremehkan pelanggan. Pertengahan Juli 2004, mobil saya Toyota Camry 3000 cc th 2000 setelah di cek di bengkel resminya di Solo, ada spare part yang bocor dan harus diganti dan langsung saya setujui untuk dipesankan. Sampai 10 September 2004, barang belum juga sampai di Solo. Karena saya akan pergi lama dan dikatakan barangnya akan segera datang maka mobil saya tinggal di bengkel. Tanggal 20 September saat saya pulang, ternyata mobil belum selesai.

Bengkel resmi Toyota Solo menyatakan bahkan sudah mengirimkan STNK, no rangka, no mesin mobil ke PT Toyota Astra Motor Jakarta. Termasuk spare part bekas dari mobil saya tersebut. Dari hal-hal tersebut saya analisa berarti Toyota pusat yang mengecewakan.

Ini dibuktikan di pembicaraan telepon saya ke Toyota call center 15 Oktober 2004 (mobil saya masih di bengkel). Saya ingin bicara dengan orang yang berwenang, tapi tidak disambungkan. Bahkan dia mengatakan akan ''membantu''. Saya menolak dengan kata itu, yang konotasinya saya yang salah atau nunggu spare part 3 bulan apakah hal yang wajar.

Terakhir saya katakan sudah lelah menunggu, jadi kalau sampai dengan 19 Oktober belum ada solusi saya akan masukkan ke surat pembaca di empat harian terbesar. Tanggal 19 Oktober pukul 12.00 saya diberitahu spare part sampai di Solo sekitar 3 minggu.

Kesimpulannya, untuk mengganti spare part mobil Toyota Camry saya membutuhkan waktu lebih kurang 4 bulan, yang menurut Toyota pusat sudah cepat sekali. Akhir kata untuk para pembaca, karena Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru sudah dekat, bila ada yang mau membeli mobil baru saran saya berhati-hatilah. Pilih merk yang tepat.

Tan Wei Kein
Jl Jambu 75 Lawiyan, Solo

***

Kecewa atas Pelayanan Mc Donald Ciputra Mall

Sebagai pelanggan Mc Donald Ciputra Mall Semarang, saya kecewa atas pelayanannya. Tanggal 2 November 2004 sekitar pukul 14.30, saya beserta beberapa teman ingin menikmati makanan di tempat itu. Namun sayang mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari karyawan yang melayani.

Selain tidak ramah, juga tidak tepat waktu dalam menyediakan makanan yang dipesan. Bahkan jika ditanya selalu melemparkan tanggung jawab kepada karyawan lainnya. Begitu juga dengan karyawan tersebut, bila diminta tanggung jawab, malah marah-marah.

Pernah suatu kali minta paket pesan antar dengan nilai Rp 50 ribu, pelayanannya juga mengecewakan. Paket baru saya terima satu jam lebih, padahal paket mau ditujukan untuk orang sakit. Saya berharap pihak menajemen memperhatikan dan meningkatkan mutu pelayanan. Apalagi sebagai restoran yang bertaraf internasional, tentu McD tidak ingin jelek di mata pelanggannya.

Andri P Raharjo
Jl Karangwulan Barat 4/15 Semarang

***

Soal Onderdil Suzuki

Saya mengklarifikasi tulisan saya mengenai onderdil motor yang rusak. Peristiwanya terjadi beberapa waktu lalu. Motor saya rusak dan karena tidak memungkinkan dimasukkan ke dealer resmi Suzuki, maka saya bawa ke bengkel terdekat dan harus ganti salah satu suku cadangnya.

Dengan termuatnya tulisan saya di Surat Pembaca 1 November lalu, saat itu juga petugas Suzuki datang. Akhirnya saya tahu permasalahan suku cadang tersebut sbb: Adanya kesalahpahaman antara saya dan pihak Suzuki. Tanggal 13 Oktober 2004 barang sudah datang tetapi HP saya tidak dapat di hubungi.

Tanggal 16 Oktober 2004 saya tulis surat. Jadi sebenarnya pada saat itu barang sudah ada, tetapi saya tidak tahu. Bengkel umum salah mengalisa kerusakan, karena suku cadang yang diganti seharusnya tidak perlu diganti. Suku cadang tersebut selama pemakaian hampir tidak pernah memerlukan ganti. Kini motor ditangani dengan baik dan profesional oleh pihak Suzuki.

Hendro Wibowo
JI Banjarsari 3A Tembalang Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA