| Selasa, 09 Nopember 2004 | NASIONAL |
Oleh-oleh Khas dari Jateng (3-Habis)Jenang, Banyak Merek dan Kemasan yang Mirip
BAGI warga Kudus, setiap berkesempatan pulang mudik untuk merayakan Lebaran, atau mereka yang bukan dari kota tersebut dan berkunjung ke Kota Kretek, rasanya tidak lengkap bila tidak membawa oleh-oleh jenang, yaitu makanan kecil yang lembek, terbuat dari bahan baku utama ketan, gula pasir, gula tumbu, gula kelapa (gula merah), santan kelapa, dan mentega. Hampir di semua toko makanan ringan di Kudus menjual makanan yang telah menjadi trademark kota tersebut. Mulai dari terminal bus, kompleks kios Masjid Menara Kudus Kulon, kompleks Makam Sunan Muria, kompleks warung makan Taman Bojana, pasar tradisional, hingga di supermarket. Selain tentu toko pemilik pabrik jenang itu. Setidak-tidaknya terdapat empat perusahaan jenang terkenal, yang sekaligus membuka toko untuk melayani eceran, selain dijual pula di toko-toko lain. Perusahaan tersebut adalah PT Mubarokfood Cipta Delicia (MCD) dengan produknya Jenang Sinar 33, yang membuka toko/pusat penjualan di Jalan Sunan Muria. Kemudian Jenang Menara di Jalan RM Sosrokartono. Jenang Muncul di Jalan dr Ramelan. Jenang Asia Aminah di Jalan Masjid (Kudus Wetan). ''Tapi untuk memberi kesempatan bagi karyawan guna merayakan Lebaran, toko yang kami kelola ditutup mulai 14 sampai 16 November. Hanya biasanya di pinggir jalan depan toko banyak warga yang masih membuka tempat dasaran secara tiban untuk menjual jenang produk kami,'' papar Direktur PT MCD, H Muhammad Hilmy SE. Dia menyatakan, warga yang menginginkan produk jenangnya untuk oleh-oleh Lebaran bisa mencari di hampir semua toko penjual makanan ringan. Hanya, tambahnya, dia mengingatkan konsumen untuk berhati-hati dalam mengamati produk yang diinginkannya. ''Tolong diamati secara teliti bentuk tulisan merek dan desain bungkusnya,'' ujarnya. Hilmy tak mengada-ada, sebab sudah cukup lama persaingan dagang jenang memunculkan tak sedikit jenang yang merek (bentuk kata dan kemasannya) menyerupai jenang yang sebelumnya sudah terkenal. Tak cuma jenang produk PT MCD yang cenderung ditiru, tetapi juga merek jenang lain yang sudah dikenal secara luas. Tergantung Selera PT MCD memiliki beraneka jenis produk jenang. Antara lain merek Sinar 33 dalam kemasan 0,25 kg tiap bungkusnya, yang menggunakan plastik berlapis kertas. Kemudian Mabrur, Mubarok, dan Viva. Semua merek tersebut telah terdaftar pada Dirjen Hak Cipta Paten dan Merek Depkeh. Hilmy menerangkan, jenang Mabrur Ideal yang beraroma nangka, misalnya, dikemas dalam kardus cokelat dengan variasi kuning gading. Tiap kemasan berisi 16 butir irisan jenang yang terbungkus plastik. Juga ada Mabrur Kombinasi, berisi 30 irisan jenang dengan aroma nangka, durian, dan kawis. Khusus jenang Mabrur, tambahnya, pihaknya setiap musim ibadah haji selalu meluncurkan Mabrur Haji. Mabrur Haji merupakan makanan kecil resmi untuk jamaah haji yang diangkut pesawat Garuda Indonesia. ''Tidak gampang untuk bisa mendapatkan kepercayaan jenang kami menjadi snack resmi untuk jamaah calon haji,'' tuturnya. Pihaknya juga merupakan satu-satunya perusahaan makanan tradisional yang telah mengantongi Sertifikat ISO 9001-2000. Karena itu, tak mengherankan bila untuk di dalam negeri produk tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jaya, Batam, Sumut, Sumsel, Bali, dan Sulawesi. Selain itu, juga telah menembus pasar luar negeri, yakni Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Hong Kong, dan Arab Saudi. Akhirnya kembali kepada konsumen, akan memilih jenang merek dan jenis apa, untuk oleh-oleh saat balik ke kota tempat kerjanya, setelah berlebaran di kampung halaman masing-masing. Jenang merupakan makanan ringan yang cukup tahan lama, tahan hingga tiga bulan. Kota Getuk Lain Kudus, lain pula Kota Magelang yang selama ini dikenal sebagai ''Kota Getuk''. Di kota tersebut ada dua jenis getuk, yaitu getuk tradisional yang dikenal dengan getuk gondok, dan satunya lagi getuk kemasan. Getuk gondok, sistem pembuatannya masih tradisional dengan cara ditumbuk, kemudian dibuat bundar, segi empat, dan lainnya, dengan aneka macam warna. Sedangkan getuk kemasan dimotori Getuk Trio. Pada tahun 1958, almarhum Hendra Samadhana dan Setyawati, pengusaha bengkel alat-alat pertanian di Keplekan (sekarang Jl Mataram) Kota Magelang, ingin meningkatkan derajat makanan getuk. ''Waktu itu getuk hanya dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah sebagai pengganti nasi. Almarhum ayah saya ingin getuk diangkat menjadi makanan golongan menengah ke atas,'' tutur Ir Herry Wiyanto, salah seorang putra Hendra Samadhana, yang sekarang meneruskan usaha ayahnya. Dengan keahliannya membuat alat-alat pertanian, Hendra lalu membuat mesin untuk mengolah ketela menjadi getuk. Ketela itu digodok dicampur gula terus dimasukkan ke mesin pengolah. Berikutnya, diberi warna merah, putih, dan cokelat. ''Pengemasannya waktu itu belum memakai dus, tetapi masih menggunakan besek. Pemasarannya juga dilakukan door to door.'' Nama Getuk Trio mulai berkibar sekitar 1960-1962. Ceritanya, Ratu Sirikit, istri Raja Thailand, saat itu berkunjung ke AMN (sekarang Akmil) disuguhi Getuk Trio. Sejak itu getuk karya almarhum Hendra Samadhana terkenal dengan nama Getuk Sirikit. Ketenaran Getuk Trio telah mendorong minat warga kota tersebut untuk membuka usaha getuk kemasan. Hingga saat ini merek getuk kemasan ada 15 buah. Antara lain Getuk Marem, Getuk Eco, Getuk Tidar, Getuk Kyai Langgeng, dan Getuk Sarinah. Mereka yang ingin pesan Getuk Trio dapat menyampaikan pesanan ke Getuk Trio, Jalan Mataram 47 telepon (0293) 363546, atau ke Jalan Tentara Pelajar telepon (0293) 364538. Produknya itu tidak hanya tersedia di berbagai toko di Magelang dan Muntilan, tetapi bisa juga dibeli di berbagai toko di Jalan Pandanaran Semarang dan toko penjual makanan di Jalan Mataram Yogyakarta dan Bakpia 75. Mendoan Selain jenang Kudus, bagi mereka yang kebetulan melalui jalur Puwokerto, ada satu makanan khas yang tidak bisa dilewatkan begitu saja untuk dicicipi, yaitu tempe mendoan dan kripik tempe. Kedua makanan itu berbahan baku tempe. Bedanya, mendoan digoreng hanya setengah matang dan agak basah, sedangkan kripik tempe digoreng hingga kering. Mendoan enak dimakan hangat-hangat, sedangkan keripik tempe enak dimakan sampai beberapa hari setelah digoreng. Pusat kedua jenis makanan ini ada di Jalan Jenderal Soetoyo atau lebih dikenal Sawangan Purwokerto. Seperti halnya getuk goreng, mendoan dan kripik ini menjadi salah satu makanan khas Banyumas yang laris di saat Lebaran. Kuswanda (52), pemilik Eco 21 Sawangan, Purwokerto, tak mengelak bahwa Lebaran merupakan saat panen bagi pedagang mendoan dan kripik. ''Kalau khusus Lebaran, Eco 21 hanya memfokuskan membuat mendoan. Untuk kripik sudah disetok beberapa hari sebelum Lebaran. Kripik bisa tahan hingga 1 bulan. Kalau mendoan hanya enak disantap hangat, sehingga harus dimakan setelah digoreng,'' jelasnya. Produk mendoan Eco 21 ini, katanya, memiliki kekhasan. Selain rasa, ada menu spesial yang sangat pas disajikan dengan mendoan, yakni sambal kecap. Pesanan Melimpah Dia mengakui, saat Lebaran pesanan mendoan akan melimpah. Pekerjanya pun harus ekstra keras. Tak mengherankan, pada Lebaran harga mendoan menjadi Rp 1.000/biji atau naik Rp 100 dibandingkan dengan hari biasa. Kuswanda pun terus berupaya melakukan inovasi agar mendoan yang dihasilkan terus dikenal luas, tak hanya di Purwokerto, tapi juga di luar kota. Kalau untuk wilayah Purwokerto dan sekitarnya, mendoan sudah sering dijadikan menu untuk menjamu tamu pejabat atau orang-orang penting di kabupaten dan hotel di Purwokerto. Tetapi untuk di luar Purwokerto tentu perlu cara tersendiri agar mendoan bisa populer. Karena itu, dia tak bosan-bosannya menjalin hubungan dengan berbagai perkumpulan atau paguyuban wong Banyumas di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogya, dan kota lain, bahkan di luar Jawa. Melalui relasi-relasinya itu, dia menawarkan produk mendoannya untuk dijadikan salah satu menu hidangan pada saat perhelatan pernikahan atau pertemuan yang diselenggarakan Wong Banyumas. ''Saya punya hubungan dengan orang-orang Serulingmas, Paguyuban Pengiyongan di Sumatera, dan lain-lain. Orang-orang Banyumas yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya masih kangen terhadap mendoan. Karena itu, ketika ditawari, langsung diterima,'' jelasnya. Bila menerima order dari luar kota, Kuswanda memang tidak mengirim mendoan yang sudah siap saji karena tak mungkin mengingat mendoan hanya enak dihidangkan saat hangat. Cara yang dilakukan adalah membawa bahan mentahnya, yakni tempe tipis yang masih dibungkus berikut tepung dan bumbu, minyak goreng, serta tenaga ahlinya. ''Kalau tidak demikian, sampai kapan mendoan khas Banyumas bisa dikenal sebagai makanan yang enak disantap. Melalui cara saya, mendoan bisa bersanding dengan makanan lain di hotel berbintang lima sekalipun. Sebab orang yang punya acara di hotel kebetulan orang Banyumas dan menjadikan mendoan sebagai salah satu hidangannya di antara hidangan lain,'' ungkap dia. Marning Boyolali Selain Purwokerto, masih banyak kota lain di Jateng yang memiliki makanan khas. Di antaranya adalah Boyolali. Kota ini memiliki makanan khas berupa marning. Bukan marning sembarang marning. Itulah marning produksi Kabupaten Boyolali yang telah menembus pasaran dunia, walau hanya untuk oleh-oleh. Marning yang dikemas dengan aneka rasa itu paling banyak disukai oleh calon haji. Menjelang Lebaran, marning Boyolali laku keras. Ini diakui oleh pengelola Marning Asli, Ny Sri Wardani, yang beralamatkan di Jalan Pandanaran 211A. Biasanya marning yang terjual di pasaran hanya berkisar 75 kg/hari. Tetapi menjelang Lebaran meningkat dua kali lipat menjadi 150 kg/hari. (Prayitno,Doddy Ardjono,Sigit Oediarto,Suti Harjoyo-69,78t) | ||||