logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 NASIONAL
Line

Menggapai Lailatul Qadar

Oleh: KH Maemun Zubair - (Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang)

HARI-hari terakhir ini kesibukan di masjid dan musala meningkat. Mereka rela leklekan dan menahan kantuk untuk menantikan sesuatu yang sangat diidam-idamkan. Tidak hanya tarawih dan tadarus Alquran. Pada malam-malam likuran (21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan) aktivitas ditambah dengan iktikaf, shalat tasbih, dan lain-lain. Pada tengah malam, di atas pukul 00.00 para pengurus takmir melalui pengeras suara membangunkan umat untuk shalat tasbih, tahajud, hajat, dan sunat-sunat lainnya. Mereka betul-betul ingin menggapai ''Lailatul Qadr''.

Betapa tidak, malam itu disebut dalam Alquran lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qodri Khairun min alfi sahr). Seumpama sehari orang shalat fardu 17 rakaat, maka selama seribu bulan pahalanya identik dengan shalat 510.000 rakaat. Padahal, rata-rata umur umat Muhammad 60 tahun. Kalau sehari melaksanakan shalat fardu 17 rakaat, dalam usia 60 tahun dia hanya akan mampu melakukan shalat 12.240 rakaat. Maka betapa besar kemuliaan yang dijanjikan Allah pada ''Lailatul Qadr''. Pertanyaannya, kapan sebenarnya malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu?

Dalam Alquran, Allah bertanya, ''Tahukah kamu, apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu?''. Pertanyaan itu dijawab-Nya dalam ayat berikutnya. Allah tampaknya sengaja merahasiakan kapan hari ''H'' Lailatul Qadr agar manusia berpikir. Karena kerahasiaan Allah itu, sampai sekarang berkembang kontroversi tentang penetapan datangnya ''Malam Seribu Bulan''.

Ada yang berpendapat, hari ''H'' sengaja dirahasiakan Allah agar umat Islam menghidupkan Ramadan sejak awal hingga akhir. Andaikata para kiai dan ulama sepakat Lailatul Qadr, malam 27 Ramadan, mungkin umat Islam di dunia akan pilih beribadah habis-habisan dan total pada malam itu thok. Malam-malam Ramadan yang lain bisa diabaikan. Ada juga yang menerjemahkan ''Salamun hiya hatta mathlail fajr'' (malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar) tidak hanya sampai terbitnya matahari, tetapi panjang sampai hitungan yang tidak terbatas. Pendek kata, kontroversi itu makin panjang untuk didiskusikan. Bahkan, mungkin kalau dibahtsulmasailkan tidak akan habis-habisnya.

Malam Likuran

Umat Islam yang meyakini Lailatul Qodr berada di malam likuran atau malam ganjil di atas 20 Ramadan (21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadan) mungkin dilandasi sebuah hadis ''Taharrau lailatal qodri fil witri awakhiri min syahri Ramadan''. Artinya, carilah Lailatul Qadr pada malam ganjil, sepertiga yang terakhir dari bulan Ramadan. Jadi, tidak usah disalahkan kalau kemudian para kiai, ulama, dan mubaliq di masjid dan mushala mengeksploitasi hadis tersebut besar-besaran. Dampaknya, tentu pada malam likuran semangat beribadah terasa bertambah.

Untuk niteni kapan hari ''H'' Lailatul Qodr, Al Imam Asy-Sya'roni memberikan guide dengan melihat awal Ramadan jatuh pada hari apa. Kalau awal Ramadan jatuh Jumat atau Selasa, berarti Lailatul Qodr jatuh malam 27 Ramadan. Kalau awal Ramadan Ahad atau Rabu, Lailatul Qodr jatuh malam 29 Ramadan. Kalau awal Ramadan Kamis, Lailatul Qodr jatuh malam 25 Ramadan. Kalau awal Ramadan pada Sabtu, Lailatul Qodr jatuh malam 23 Ramadan. Kalau awal Ramadan Senin, Lailatul Qadr berada di malam 21 Ramadan.

Imam Asy-Sya'roni juga memberikan salah satu tanda-tanda Lailatul Qadr, yaitu malam terang benderang, dan cerah. Tidak ada hujan dan bintang di langit. Angin semilir, dan tidak panas. Pagi harinya, matahari terbit tidak langsung memancarkan sinar panas, tetapi agak meredup, tidak mendung. Ada kaidah lain yang disampaikan untuk nengeri P> Lailatul Qadr versi Imam Asy-Sya'roni. Sesudah 15 Ramadan (tanggal 16-17 dan seterusnya) cari malam Jumat yang tanggal Ramadannya ganjil, itulah malam Lailatul Qadr.

Ramadan kali ini di atas 15 Ramadan saya lihat tidak ada yang tanggal ganjil di malam Jumat (Kamis malam). Kalau berdasar kaidah Imam Asy-Sya'roni, awal Ramadan tahun ini jatuh pada Jumat, berarti Lailatul Qadr malam 27 Ramadan. Tetapi saya tidak ingin terlibat dalam polemik dan kontroversi, kapan sebenarnya hari ''H'' Lailatul Qodr.

Saya setuju-setuju saja kalau ada yang berpendapat, malam kemuliaan itu sejak awal Ramadan hingga akhir Ramadan. Yang penting gelora semangat untuk beribadah terpompa tidak hanya di dalam bulan suci Ramadan, tetapi juga di 11 bulan lain di luar bulan suci Ramadan. Insya Allah kalau sejak awal Ramadan kita sudah membiasakan qiyamul lail, shalat tasbih, tahajud, hajat, tarawih, tadarus, dan lain-lain, kita mendapatkan berkah Lailatul Qadr. Amin. Wa'afwu minkum.(69t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA