| Selasa, 09 Nopember 2004 | MURIA |
Lebaran di Rumah yang BerantakanDI depan rumah-rumah di perkampungan Dukuh Tambakrejo RT 05 RW VI, Desa Mulyoharjo, Kecamatan Kota, Jepara, dalam beberapa hari terakhir ini banyak tumpukan genteng. Sekitar enam rumah di bagian barat perkampungan dekat bantaran sungai dan tambak tersebut, tampak sudah tak berpintu. Sehelai kain gorden lusuh, melintang berfungsi sebagai daun pintu darurat. Di deretan paling tengah, terdapat dua rumah yang sudah dibongkar. Hanya ada puing-puing batu bata dan kayu di atas halaman rumah tersebut. Menurut cerita salah seorang tetangganya, untuk sementara, penghuni rumah tersebut ''titip badan'' ke sanak saudaranya yang lain. Masih di lingkungan tersebut, pagi itu, meski di bulan puasa, aktivitas warga tampak ramai. Beberapa ada yang melanjutkan membongkar rumah di atas tanah milik Pemkab, yang telah ditempatinya sejak zaman Belanda. Sebagian lagi memikul bahan-bahan bangunan untuk di boyong ke sekitar 200 meter arah utara perkampungan tersebut. Seorang laki-laki berusia kira-kira 50 tahun, tampak melepas lelah di depan rumahnya sambil mengusap keringat yang membasahi dahinya. Wajar sekali, pagi itu warga desa tersebut memang sedang mempersiapkan relokasi tempat tinggal, karena Pemkab memberi deadline 31 Desember; mereka sudah harus pindah rumah yang tak jauh dari perkampungan tersebut, sekitar 200 meter arah utara. Di lokasi tersebut akan dibangun Kawasan Industri Mulyoharjo (KIM). Meski lokasi kepindahannya masih tergolong dekat, perkampungan yang terdiri atas 43 keluarga dengan jumlah penduduk 170 jiwa lebih itu, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Suka cita nuansa Lebaran dengan menempati rumah yang nyaman, bakal tak akan dirasakan tahun ini. ''Pada Lebaran kali ini, kami kehilangan banyak acara dan waktu yang biasa digunakan untuk bercengkerama dan bersantai dengan keluarga. Apalagi rumah kami kondisinya begini,'' kata Tumisih (32), ibu beranak dua, warga dukuh tersebut. Apa yang dikatakan Tumisih itu dibenarkan Sumirah (45), tetangganya yang saban hari pekerjaannya menjemur ikan di tambak di depan rumahnya. ''Riyaya tahun niki, tiyang mriki mboten saget santai, soale usung-usung omah (Hari raya tahun ini, warga di sini tidak bisa bersantai, karena harus mengusung (pindah) rumah),'' tuturnya. Beban yang mereka pikirkan, di antaranya adalah bagaimana membangun rumah yang baru itu agar tidak terkatung-katung. Mengingat, uang paku yang mereka terima sebagai konsekuensi relokasi belum mencukupi. Uang paku antara Rp 6.000.000-Rp 17.000.000, belumlah cukup. ''Apalagi yang mendapat Rp 6.000.000. Hanya cukup untuk bangunan fondasi dasar,'' tuturnya. Meski sedih tampak di wajahnya, mereka memiliki harapan dengan akan dibangunnya kawasan industri, di tanah seluas 28 hektare, bekas tempat tinggalnya. ''Mudah-mudahan kami kelak bisa bekerja di sana,'' tutur Ngarsiman, ketua RT setempat. (Muhammadun Sanomae-90a) |