logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 MURIA
Line

Makna Tradisi Puasa

ISLAM mensyariatkan berbagai macam puasa; puasa Ramadan, Senin dan Kamis, puasa Rajab, dan puasa Dawud. Christina. teman Katolik saya mengatakan, agamanya mengenal puasa 40 hari dengan satu kali makan untuk sehari semalam.

Katman, teman Budha, juga mengaku ada kewajiban puasa sekian puluh hari setiap tahun, yang pelaksanaannya tak harus berurutan seperti puasa Ramadan.

Agama lain juga mempunyai ibadah puasa. Komunitas orang Samin, berpuasa agar keluarga dan anak mereka selamat dari marabahaya.

Sebenarnya, makna puasa -setidaknya menurut Islam- adalah menahan/mengekang (imsak) dari makan, minum, dan semua hal yang membatalkan puasa.

Orang sakit tertentu, atau mereka yang akan menjalani operasi bedah, pun diwajibkan puasa. Konon, para pengamal ilmu kanuragan tertentu juga menerapkan puasa untuk mendapatkan ilmu yang menjadi targetnya.

Puasa, nampaknya luas sekali kegunaannya, sehingga tak berlebihan bila Muhammad SAW bersabda, ''Berpuasalah, maka engkau akan sehat.''

Mungkin kita masih ingat dengan para calon presiden dalam Pemilu 2004, mereka juga berpuasa. Puasa ternyata bukan hanya bermakna ritual ibadah, tetapi bisa menjadi prosedur dalam entitas tertentu.

Lain lagi dengan tradisi puasa sebagian santri atau muslimin di Kudus, yakni puasa dalail khairot. Adalah KH Ahmad Basyir (dari Bareng, Jekulo) yang sampai sekarang menjadi shohibu dalail khairot.

Dalail khairot, sebenarnya adalah kumpulan beribu-ribu salawat yang disusun oleh Syeh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, ulama dari Maroko, Afrika Barat.

Ketika Syeh Abu Abdillah kebingungan karena tidak ada timba saat hendak mengambil air wudlu di sebuah sumur di padang pasir, datang anak perempuan dan bertanya, ''Anda orang alim, hebat, dan terkenal; mengapa tidak bisa mengatasi masalah begini?''

Kemudian sejenak, anak perempuan itu membaca sesuatu di atas mulut sumur tersebut, maka air pun memancar dan melimpah sehingga mudah diambil untuk berwudlu.

Syeh lalu mendekat dan balik bertanya kepada anak itu, ''Dengah apa gerangan engkau mempunyai keutamaan seperti ini?''

Anak perempuan tersebut kemudian berucap bahwa dia membaca salawat untuk Nabi. Sejak saat itu, Syeh menyusun kitab yang disebut dalail khairot fi nailil muyassarot.

Tradisi amalan membaca salawat dalail khairot itu, kemudian dibarengi dengan puasa tiga tahun terus-menerus.

Kini, amalan itu telah menjadi tradisi bagi sementara kalangan dalam rangka mencapai spiritual tertentu, sebagaimana dijalani KH Ahmad Basyir. Syeh Muhammad Amir bin Idris (Pekalongan), Syeh Muhammadun (Pati), dan para ulama Sunni di Timur Tengah, juga mempopulerkannya.

Daya tarik puasa dalail, yang tercermin pada awal kemunculannya, menyebabkan beribu-ribu orang setiap tahun minta ''ijazah'' kepada KH Ahmad Basyir. Mereka datang dari berbagai pelosok, bahkan ada yang dari seberang. Ada yang datang sendiri, ada pula yang datang bersama jamaahnya.

Aktualitas puasa bukan hanya bermakna ibadah. Puasa bisa merupakan prosedur medis, instrumen pembelajaran dan sarana mencapai tujuan yang diinginkan.

Kekuatan puasa dalail, luar biasa untuk mengatasi kesulitan-kesulitan di dunia ini. Kata KH Ahmad Basyir, ''Permasalahan akhirat yang sulit pun bisa dicapai dengannya, apalagi masalah-masalah dunia.''

Dengan puasa, berapa banyak masalah yang dapat kita atasi? Berapa kebohongan yang harus kita sudahi? Berapa kebocoran yang harus kita hentikan? Berapa pihak yang tidak lagi kita suap?

Puasa dari kolusi, korupsi, kesombongan, dan kebohongan, adalah kesalehan sosial. Kita buka dan sahur dalam makna menghidupi yang miskin, fakir, dan bodoh. Bisakah kita menjadi ''perempuan kecil'' yang lebih utama dari seorang syeh?(90a)

Penulis adalah staf pengajar STAIN Kudus dan anggota Lakpesdam NU Kudus


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA