| Selasa, 09 Nopember 2004 | SEMARANG |
Lalu Lintas Hewan Diperketat
UNGARAN - Pengawasan lalu lintas hewan ternak di Kabupaten Semarang diperketat, menyusul munculnya isu antraks di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menewaskan dua penduduk. Pasar hewan yang menjadi prioritas pengawasan adalah Pasar Hewan Ambarawa. ''Lalu lintas hewan ternak selalu kami jaga; sebab daerah itu termasuk wilayah lintasan yang dilalui dari arah timur dan barat,'' kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Ir Bambang Tri Wahono MM melalui Kasubdin Kesehatan Hewan, drh Bambang Sutrisno, kemarin. Dia menyatakan, pasar hewan itu merupakan pasar terbesar di kabupaten tersebut. ''Kami akan meningkatkan pengawasan di Pasar Hewan Ambarawa, sebab merupakan pasar hewan yang cukup besar,'' kata Bambang. Pasar yang digelar setiap hari pasaran Pon (menurut penanggalan Jawa) itu, menjual beraneka jenis hewan ternak dan unggas, seperti sapi potong, kambing/domba, kerbau, ayam, kelinci, itik, dan burung. Pasokan sapi berasal dari Kabupaten Blora, Boyolali, dan Grobogan. Minggu Pon (7/11) lalu, pihak Dinas Peternakan memeriksa fisik dan laboratoris terhadap ternak yang masuk. ''Pemeriksaan difokuskan terhadap sapi, kambing, dan kerbau, yakni dengan mengambil secara acak sampel darah dan faeces (kotoran) untuk diperiksa di Laboratorium Keswan Kesmavet Tipe C,'' ujar Bambang Sutrisno. Hewan-hewan yang kurus dan sakit, diberi obat dan vitamin. Penyakit lain seperti batuk, juga segera diadakan upaya pengobatan. Berdasarkan pemeriksaan serum darah atau uji cerology itu, akan diketahui gejala penyakit strategis, seperti antraks, brucelucys (penyakit keguguran), dan salmonelusys. Pada pemeriksaan Minggu lalu, di pasar Ambarawa tidak ditemukan penyakit hewan menular, khususnya antraks. Digemari Menurut Sujiyanto (43), seorang pedagang sapi di pasar tersebut, ternak dari Kabupaten Semarang mendapat sambutan yang baik dari luar Jawa Tengah. ''Ternak kami digemari orang-orang Sukabumi, Bogor, dan Jakarta,'' kata dia. Setiap tahun Sujiyanto mengirim sapi potong hingga ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, masing-masing 200 ekor. Menurut Bambang Sutrisno, ternak dari Kabupaten Semarang cukup digemari masyarakat luar karena dapat beradaptasi dengan lingkungan. Pihak Dinas Peternakan mengimbau kepada khalayak agar membeli sapi sehat yang telah diperiksa oleh dokter hewan atau mantri hewan setempat. ''Ternak yang akan dikirim ke luar daerah, juga dilengkapi dengan surat keterangan pengiriman ternak dan surat kesehatan hewan yang mendapat persetujuan dari dokter hewan Dinas Peternakan.'' (rny-91a) |