logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 SEMARANG
Line

Tiga Anak Panti Meninggal dan 10 Sakit

UNGARAN - Dalam kurun tiga bulan terakhir, tiga anak penghuni Panti Asuhan (PA) Almustafa, Desa Gentan, Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang dilaporkan meninggal dunia, sedangkan sepuluh orang lainnya menderita sakit.

Hingga sekarang, penyebabnya belum diketahui secara pasti. Beberapa pihak menduga mereka terkena penyakit misterius. Namun ada juga yang memperkirakan itu terjadi karena mereka mengonsumsi air sumur yang tercemar tinja.

Dr HM Saerozi MAg, mewakili pengurus panti menyatakan, musibah baru dia ketahui akhir pekan lalu setelah mendapat laporan dari salah seorang pengurus PA. Namun korban yang meninggal dunia telah dimakamkan oleh keluarganya masing-masing. Adapun sepuluh orang yang sakit dirawat di beberapa tempat atau dibawa keluarganya. Keluhan mereka sama: panas tubuh cukup tinggi disertai muntah-muntah.

Saerozi menepis anggapan penyebab sakit karena magis. ''Sakit mereka tidak ada kaitannya dengan roh jahat atau magis seperti diisukan beberapa pihak,'' tegasnya melalui telepon kemarin. Dia pun mengakui, masalah kebersihan lingkungan dan gizi makanan penghuni panti masih memprihatinkan. Menurut dia, kebersihan lingkungan memang masih perlu ditingkatkan. Apalagi banyak tikus berkeliaran di dalam rumah, selain penerangan dan sirkulasi udara tidak mencukupi.

Dia juga memperkirakan, air sumur yang dikonsumsi selama ini telah tercemar rembesan air tinja. ''Air minum ini juga yang menyebabkan mereka sakit,'' tambah Saerozi.

Gizi Memprihatinkan

Gizi makanan para penghuni panti memang memprihatinkan. Setiap bulan mereka hanya mendapatkan bantuan dari seorang donatur asal Jakarta Rp 3 juta/bulan. Uang itu untuk makan sekitar 60 penghuni. ''Bagi mereka, tempe goreng sudah merupakan makanan mewah''.

Sambil menunggu bantuan Pemkab Semarang atau donatur lain, pengurus Masjid Istiqomah Ungaran akan memberikan zakat melalui panitia ke panti asuhan tersebut. Ketua DPRD H Saryono merasa prihatin atas kejadian tersebut. Dia menjanjikan memberikan bantuan pengobatan kepada penghuni yang sakit. ''Di mana saja mereka dirawat, kami akan berkoordinasi dengan petugas Dinas Kesehatan''.

Kepala Dinas Kesehatan dr Sulthoni MARS mengatakan, kasus di atas akibat lingkungan yang kurang bersih sehingga mudah terjangkit penyakit. Selain itu, perilaku penghuninya juga kurang higienis. ''Yang perlu diperhatikan adalah nilai gizinya yang harus ditingkatkan,'' ujar dia.

Meski demikian, pihaknya menginstruksikan kepada Puskesmas setempat untuk mendaftar semua penghuni kemudian dimasukkan ke dalam golongan orang tidak mampu. ''Hal itu dimaksudkan agar mereka mendapat kartu sehat. Dengan kartu tersebut mereka dapat berobat gratis.''

Pihak Dinkes berjanji akan memberikan pelayanan kesehatan dengan membantu menciptakan lingkungan bersih, misalnya kualitas air sumur yang mereka gunakan akan ditingkatkan. Caranya dengan pemberian kaporit terus menerus agar bakteri-bakteri yang ada tidak bersarang dalam air sumur.

Selain itu pihaknya bekerja sama dengan Dharma Wanita Dinkes memberikan bantuan uang, pakaian layak pakai serta bahan kebutuhan sembako seperti Indomi, beras, dan aneka jajan. ''Kami juga merencanakan menyediakan air bersih, misalnya dengan membuatkan sumur lagi,'' tambahnya. (C17,rny-91i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA