| Selasa, 09 Nopember 2004 | SEMARANG |
Terbayang MahalnyaDIHAPUS? Raut Surtini terlihat bi ngung. Sekali lagi dia mencoba bertanya, mempertegas hal yang baru saja dia dengar soal rencana pemerintah menghapus seragam sekolah. Barangkali tak pernah mengikuti warta di media massa, Surtini hanya bengong. Benar saja, saat Suara Merdeka meminta komentar perempuan berkerudung itu, dia mengaku baru mendengar kali itu. "Wah, nggih abot, kedah tumbas pakaian sae (wah, ya berat, harus beli pakaian bagus)" tukasnya sederhana. Pakaian bagus yang dimaksudkan penjaga toilet sebuah masjid di Semarang itu adalah pakaian yang layak untuk bepergian. Sehari-hari, selain seragam, pakaian yang biasa dikenakan tiga putranya di rumah adalah baju harian. Kalau boleh dibilang, warnanya sudah kumal. "Masa hanya satu-dua setel?" Sama seperti Surtini, Tini (42) mengeluhkan hal yang senada. Menurutnya, seragam bisa menghemat biaya sekolah, karena pengeluaran untuk pakaian sekolah itu bisa diadakan sekali setahun saja. "Untuk orang berduit mungkin tidak terasa, tapi bagi kami yang bergaji pas-pasan, biaya untuk pakaian itu cukup berat," ujar ibu rumah tangga ini. Pendapat senada juga terlihat dari komentar sejumlah orang tua murid lain. Mereka umumnya khawatir jika seragam justru membuat jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin lebar. (Renjani PS-73) |