logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 KEDU & DIY
Line

Bom Tanda Berbuka Tak Lagi Terdengar

MENJELANG saatnya berbuka puasa, kini tidak ada lagi kerumunan massa yang berbondong-bondong untuk menikmati sekaligus menyaksikan peluncuran "bom", di halaman masjid besar Al Mansur di Kauman Wonosobo.

Sejak 31 tahun terakhir, masyarakat Kota Wonosobo dan sekitarnya, tidak lagi mendengar suara "bom" yang menggelegar, sebagai pertanda waktu berbuka puasa.

Pengelola masjid Al Mansur, KH Ahmad Chaedar Idris (47) yang ditemui Suara Merdeka, Senin kemarin mengatakan, mercon ukuran besar atau oleh masyarakat disebut bom, terakhir kali disulut di halaman masjib besar itu, pada Ramadan tahun 1973.

KH Chaedar mengaku, pada masa lalu membunyikan petasan/mercon tidak ada larangan. Sedangkan pengelola masjid membunyikan mercon dengan ukuran buah kelapa, dimaksudkan untuk memberitahukan kepada umat muslim di daerah pegunungan tersebut, sebagai tanda dimulainya berbuka puasa.

Menurut dia, kebiasaan menyulut "bom" sebagai tanda berbuka puasa sudah berlangsung lama dan berakhir pada Ramadan tahun 1973. Bom disulut di halaman masjid Al Mansur.

Bom yang disulut api, dengan cepat meluncur ke angkasa. Pada ketinggian sekitar 100 meter, bom itu pun meledak dengan bunyi menggelegar, yang bisa terdengar dalam radius puluhan kilometer. Sehingga terdengar di desa-desa di Kecamatan Watumalang, Mojotengah, Garung, Kertek, Selomerto dan Kecamatan Wonosobo.

Saat itu, ratusan orang berjejal di halaman masjid menyaksikan detik-detik peluncuran/penyulutan "bom". Pada waktu bersamaan, di kawasan lain di Kota Wonosobo dan sekitarnya, tiap petang di bulan Ramadan, ribuan masyarakat pedesaan juga menanti untuk bisa menyaksikan meledaknya bom tersebut di udara. Bom saat itu merupakan alat komunikasi yang efektif bagi masyarakat muslim di daerah pegunungan itu.

Kiai Chaedar menyatakan, beberapa waktu lalu, sejumlah jamaah pengajian mengusulkan agar kebiasaan yang telah lama hilang itu, dihidupkan lagi. Mereka ingin bernostalgia mendengarkan bunyi "bom" pertanda berbuka puasa. Namun dengan berbagai pertimbangan, keinginan mereka untuk mendengarkan bunyi "bom" tersebut tidak dikabulkan.

Bunyikan Sirine

Untuk mengganti bunyi "bom", maka pengelola masjid besar dan tertua di Wonosobo itu, kini membunyikan sirine sebagai pertanda berbuka puasa. Diakui, bunyi sirine, meski keras dan nyaring, namun radiusnya relatif terbatas.

Masjid Al Mansur Kauman dibangun pada masa kolonial, tahun 1830. Sampai sekarang sudah beberapa kali mengalami renovasi. Masjid itu pada awalnya beratap ijuk, kini sudah berganti seng.

Tetapi untuk pilar-pilar utama masjid besar itu, sampai kini masih dipertahankan. Pilar utama dan pilar pendukung bangunan utama, terbuat dari kayu jati besar dan panjang. Tinggi pilar utama, mencapai belasan meter dan sampai sekarang masih tetap kokoh.

Yang menarik, di komplek masjid besar Al Mansur, juga terdapat "petilasan" Kiai Walik sebagai tokoh pendiri Wonosobo. Namun ada yang menilai bahwa petilasan itu adalah makam Kiai Walik.

Sebagai masjid besar, selama Ramadan, masjid tersebut juga sarat dengan kegiatan ritual. Pengajian usai shalat Subuh dan Asar tetap dilaksanakan. Kegiatan tarawih dan tadarus pun terus berjalan.(Sudarman-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA