logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 INTERNASIONAL
Line

Istri Setia yang Tersingkir karena Hidup Glamour

RAMALLAH - Suha Arafat, istri setia Presiden Yasser Arafat, dalam beberapa hari belakangan ini nyaris tidak pernah pergi dari sisi suaminya yang terbaring tanpa daya di RS Militer Percy, Paris.

Tiga tahun lamanya pasangan suami istri tersebut tidak pernah bertemu, karena Suha selama itu tinggal di Tunis, ibu kota Tunisia.

Ada yang menyebutkan Suha sengaja diungsikan ke negara Arab di Afrika utara itu karena tidak aman jika tetap berada di Ramallah, wilayah Tepi Barat, yang terus dilanda konflik dengan militer Israel.

Tetapi, ada juga selentingan yang menyatakan Suha pisah ranjang dengan suaminya, karena Arafat tidak suka pada gaya hidup wah yang dijalani sang istri di luar negeri.

Lebih muda 34 tahun dari Arafat (75), wanita berpendidikan Prancis putri pasangan kaya keluarga Kristen Palestina itu kali pertama bertemu pria yang kemudian menjadi suaminya, 20 tahun lalu.

Waktu itu, dia masih kuliah di Univeristas Sorbonne di Prancis. Arafat menyewa tenaganya untuk menjadi humas bagi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), saat pemimpin Palestina tersebut hidup dalam pengasingan di Tunis.

Suha belakangan menjadi penasihat ekonomi Arafat, sebelum keduanya menikah secara diam-diam pada 1990. Mereka baru mengungkapkan pernikahan itu dua tahun kemudian.

Anak semata wayang mereka, Zahwa, dilahirkan pada 1995 di sebuah RS swasta di Paris. Namun, sejak itu rumah tangga mereka dengan cepat berantakan dan secara de facto keduanya telah bercerai.

Dengan rambut disemir pirang, kebiasaan Suha membeli pakaian mahal dan bergaya hidup high-profile bertolak belakang dengan penampilan Arafat yang sederhana: selalu memakai seragam militer dan sangat terobsesi pada politik.

Merasa Terabaikan

Suha, yang setelah menjadi istri Arafat memutuskan masuk Islam, suatu ketika pernah mengeluh kepada sebuah koran Mesir. Menurutnya, sang suami tidak pernah memberinya sekerat pun permata. Arafat, katanya, hidup bagaikan bujangan.

''Ketika saya berkeluh kesah karena merasa terabaikan, dia memberi saya souvenir dan simbol-simbol revolusi Palestina,'' katanya, kepada koran tersebut.

Namun, belakangan dia membantah rumah tangganya berantakan. Dia malah menyebut Arafat ''suami paling berbahagia'' yang melantunkan lagu''Frere Jacques'' (satu-satunya lagu yang diketahui Arafat) bagi putri mereka, Zahwa.

Sekalipun pernah mengatakan dia ''menikahi suatu mitos'', Suha tidak pernah menunjukkan hal lain kecuali kesetiaan tanpa batas terhadap impian Arafat bagi terbentuknya sebuah negara Palestina.

Melihat latar belakangnya (berpendidikan dan bergaya hidup Barat), dia mengatakan tidak ada yang lebih terhormat daripada mengorbankan diri bagi perjuangan bangsa Palestina. Dia pun mendukung aksi serangan jibaku terhadap Israel.

Meninggalkan Timur Tengah pada awal 2001, setelah dikecam banyak rakyat Palestina yang menuduhnya mengkhianati perjuangan dengan cara hidup bermewah-mewahan, Suha sejak itu bolak-balik antara Paris dan Tunis. Di ibu kota Tunisia itulah PLO berkantor pusat.

Sekalipun praktis telah pisah ranjang, Suha - enam bulan sebelum bergegas ke Ramallah untuk mendampingi sang suami diterbangkan ke Paris - mengatakan dia siap kembali ke wilayah Palestina ''begitu diminta''.

Selama Arafat sakit, dialah satu-satunya orang yang terus-menerus berada di samping tempat tidurnya di RS Percy (gambaran seorang istri yang mengabdikan diri pada suami yang sedang berjuang menghadapi penyakit maut).

Gambaran itu jelas sangat bertolak belakang dengan kehidupannya pada awal-awal pernikahan dengan Arafat, yang ditandai dengan berbagai blunder yang mengakibatkan kepemimpinan Palestina ''sakit gigi''. (afp-yahoo-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA