logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Nopember 2004 INTERNASIONAL
Line

Prancis Tak Mau Ditekan agar Menindak Organisasi Muslim

PARIS - Kaum Yahudi tampaknya semakin besar kepala, setelah pemerintahan Presiden George W Bush belum lama ini mengesahkan UU Anti-Semitik. Berdasarkan UU itu, siapa saja yang bersikap anti-Yahudi (Israel) dapat dikenai hukuman berat.

Tidak lama setelah Bush menandatangani UU tersebut, sebuah kelompok Yahudi yang berpusat di AS mendesak Pemerintah Prancis agar mengambil tindakan hukum terhadap salah satu organisasi terbesar muslim di Prancis.

Namun, Senin kemarin, Prancis dengan tegas menolak seruan tersebut. Kelompok Yahudi itu menuding organisasi muslim tadi melancarkan aksi anti-Semit dan punya kaitan dengan Hamas, suatu kelompok militan Palestina.

Mendagri Prancis Dominique de Villepin mengatakan Paris telah terbukti cukup keras terhadap kaum radikal Islam. Antara lain, dengan menanyai sekitar 100 orang yang dicurigai sebagai radikal pada tahun ini saja, dan mengusir 17 di antara mereka.

Tetapi, sekalipun pemerintahannya telah menunjukkan sikap keras, dia menolak tekanan Simon Wiesenthal Center (SWC) agar menyelidiki hubungan antara Union of French Islamic Organisations (UOIF) dan kelompok-kelompok pro-Palestina.

''Kami harus menghindari tindakan yang dapat menodai nama seseorang atau suatu kelompok, juga tidak mau membuat kesimpulan tergesa-gesa,'' kata Villepin kepada radio Europe 1.

''Sudah jelas negara kami telah dan akan selalu bersikap keras. Tetapi, bukanlah peran negara untuk membuat kesimpulan secara tergesa-gesa,'' tambahnya.

Berulangkali Membantah

Organisasi UOIF sendiri telah berulangkali membantah anti-Yahudi.

Dua pekan lalu, Wiesenthal Centre Cabang Paris mendesak Pemerintah Prancis agar melakukan penyelidikan guna ''membongkar'' dan ''kemungkinan mengecam'' kepemimpinan UOIF.

Wiesenthal Centre Cabang Paris itu juga meminta pemerintah agar mengganti para pemimpin radikal UOIF dengan orang-orang yang lebih moderat.

Shimon Samuels, direkturnya, menuduh UOIF sebagai organisasi radikal politik yang punya kaitan dengan Syekh Youssef al-Qaradawi, pemimpin spiritual Muslim Brotherhood, yang telah mengeluarkan fatwa mendukung aksi serangan bom jibaku.

Wiesenthal Centre juga mengaitkan UOIF dengan suatu kelompok pro-Hamas yang keberadaannya telah dilarang di AS.

Sekjen UOIF Fouad Alaoui menuduh Wiesenthal Centre berupaya menghalangi integrasi kaum muslim ke dalam masyarakat Prancis. ''Saya tantang siapa saja untuk membuktikan UOIF bersikap anti-Semitik,'' kata Alaoui, yang disebut-sebut punya hubungan erat dengan Muslim Brotherhood.

Katanya, dia akan menyambut baik suatu penyelidikan terhadap organisasinya, sehingga justru bakal dapat ditunjukkan bahwa ''ada orang-orang di Prancis yang tidak menginginkan kaum muslim menjadi rakyat penuh Prancis''. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA