logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 08 Nopember 2004 RAGAM
Line

Etika Sosial Alquran (3)

Tentang Turunnya Alquran

Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagi cara, yaitu Malaikat Jibril ''memasukkan'' wahyu itu ke dalam hati Rasulullah tanpa memperlihatkan wujudnya. Ia secara tiba-tiba merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya. Nabi SAW mengatakan hal ini : ''Rohul kudus mewahyukan ke dalam kalbuku''.

Malaikat Jibril menampakkan dirinya kepada Nabi Muhammad SAW sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapannya, sehingga dia cepat mengetahui dan menghafal ayat-ayat yang disampaikannya itu. Wahyu itu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemercing lonceng.

Cara ini dirasakan oleh Rasulullah sebagai yang paling berat sehingga dia mencucurkan keringat, meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin. Apabila Nabi SAW sedang mengendarai unta, maka ketika itu juga untanya terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu dengan menampakkan wujud aslinya (surah An-Najm ayat 13 dan 14).

Setiap kali menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW lalu menghafalkannya (QS.75:16-19). Hafalan tersebut dikontrol oleh malaikat Jibril. Selain itu, Rasulullah juga membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Alquran kepada mereka (QS.16:44). Di samping menyuruh para sahabat menghafalkan ayat-ayat yang diajarkan, Nabi SAW juga memerintah mereka agar pandai menulis untuk menuliskan dia atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.

Sahabat yang pandai menulis sangat berhati-hati dalam menuliskan ayat-ayat itu. Hal itu didorong oleh keyakinan mereka bahwa Alquran adalah firman Allah SWT yang harus dijadikan pedoman hidup, sehingga perlu dijaga dengan baik. Ketika di Madinah, Rasulullah memiliki beberapa juru tulis, diantaranya yang terkenal ialah Zaid bin Tsabit.

Masa turunnya Alquran dibagi ke dalam dua periode. Petama, periode Makkah, yaitu masa Nabi SAW bermukim di Makkah (610-622), mulai dari turunnya wahyu pertama sampai beliau melakukan hijrah ke Madinah. Masa tersebut disebut juga periode sebelum hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan selama periode pertama ini dinamakan ayat-ayat Makkiyyah, yang berjumlah 4.726 ayat, dan meliputi 89 surah.

Ciri-ciri ayat-ayat Makkiyyah antara lain pendek-pendek, dimulai dengan perkataan ya ayyuha an-anas (wahai manusia), kebanyakan mengandung pembahasan masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, serta berbagai masalah yang menyangkut kehidupan ukhrawi (akhirat).

Kedua periode madinah, yakni masa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah (622-632). Masa ini disebut juga periode hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan dalam periode ini disebut ayat-ayat Madaniyyah yang berjumlah 1.510 ayat dan mencakup 25 surah. Ada pun ciri-ciri ayat-ayatnya adalah panjang-panjang (tiwal), diawali dengan perkataan ya ayyuha allazina amanu (wahai orang-orang yang beriman/percaya), kebanyakan berisi hukum-hukum yang jelas, dan banyak membicarakan orang yang berhijrah (kaum Muhajirin), kaum Ansar dan kaum munafik serta ahli kitab.

Untuk menjaga kemurnian Alquran, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Bukhari dan Muslim, setiap tahun Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memeriksa bacaan Rasulullah, dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi sendiri juga melakukan hal yang sama, yaitu mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya sehingga terpeliharalah Alquran dari segala kesalahan/kekeliruan.(Dr. H. Awaludin Pimay, Lc.,M.Ag-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA