| Senin, 08 Nopember 2004 | SEMARANG |
Pelajaran Sejarah dari Kartu MonopoliADA kegembiraan yang menggumpal di dada Agus Sutrisno SPd, selepas mempresentasikan karya tulis di hadapan dewan juri yang diketuai sejarawan ternama Dr Anhar Gonggong, Kamis (4/11) lalu, di di Graha Utama Depdiknas Jakarta. Tentu saja guru SDN Anjasmoro 2 Semarang Barat ini pantas merasakan hal itu. Sebab, presentasi itu berhasil mengantarkannya menjadi juara II Lomba Karya Tulis Guru Sejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan Asdep Urusan Sejarah Nasional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Kala itu dia menyajikan karya tulisnya berjudul ''Pembelajaran Pengetahuan Sosial Berbasis Portofolio dengan Model Kartu Soal Mandiri''. Juara I Dra Rony Setyawati (SMAN 1 Batanghari, Jambi), sedangkan juara III Drs Albertus Rustamadji (SMAK Slamet Riyadi Cijantung, Jakarta). Dengan prestasi itu, Agus bisa membawa pulang hadiah Rp 2,25 juta. Sebelumnya, keenam finalis itu menyisihkan 192 peserta dari seluruh Indonesia. Kartu Soal Lelaki kelahiran Kendal, 3 Agustus 1966 adalah pengampu pelajaran IPS Kelas VI SDN Anjasmoro 2. Lulusan IKIP PGRI 998 itu pernah juga menjadi juara I Lomba Sinopsis Guru Se-Kota Semarang, juara harapan I lomba yang sama tingkat provinsi, dan juara harapan I Lomba Guru Berprestasi Se-Kota Semarang 2004. Kini dia menempuh program magister di Universitas Negeri Semarang. Sebelum mengajar di SD Anjasmoro sejak 2000, dia menjadi guru di SD Tugurejo 1, Kecamatan Tugu. Lantas, apa yang ditawarkan Agus lewat karya tulisnya itu? Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Agus hendak mengajak siswa membuat kartu-kartu soal sesuai dengan pokok bahasan dari guru. Menurutnya, kartu-kartu soal tersebut dipresentasikan dalam kelompok yang terdiri atas 5-7 siswa saat terjadi perdebatan atau diskusi antarsiswa. Pemilihan kartu-kartu yang akan dibahas isinya itu diadopsi dari permainan monopoli yang populer di kalangan masyarakat. Setiap pembahasan pun akan sesuai dengan materi yang tercantum di kartu terpilih. Misalnya satu kartu dibuka dan terdapat gambar Pangeran Diponegoro. Maka, kelompok akan melakukan pembahasan tentang sang pangeran yang gigih melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda itu. Dengan demikian, sistem pembelajaran dapat berjalan santai dan ditandai diskusi-diskusi aktif, sehingga tidak membosankan siswa. ''Nah, cara seperti ini yang saya harapkan dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah,'' komentar Dr Anhar Gonggong sebagaimana diceritakan Agus. (ed-89) |