| Senin, 08 Nopember 2004 | SEMARANG |
Mengamen Bukan Kedok KejahatanPARA musikus sudah melakukan checksound dan bersiap memainkan intro lagu perdana mereka. Namun saat nada pertama hendak dimainkan, mereka baru tersadar bahwa ternyata sang vokalis belum naik ke atas panggung. Tak ayal, para musikus itu: Wahyu (biola), Brosot (gitar melodi), Budi (okulele), Kucoro (crang), dan Ratno (celo) kebingungan. Lalu, sembari celingukan, mulut mereka memanggil-manggil, ''Mbok Yem...! Mbok Yem...! Mbok Yem!'' Demi mendengar namanya disebut-sebut, Parkiyem, nama lengkap Mbok Yem, bergegas dari kerumunan penonton menuju panggung. Dia rupa-rupanya terlampau asyik ngobrol sehingga tak menyadari bahwa saat itu harus manggung. Meski demikian, Mbok Yem tak sedikit pun terlihat canggung. Dia bahkan teramat percaya diri. Hanya dengan sedikit penyesuaian, tembang pertama ''Keroncong Tanah Airku'' dapat dia lantunkan dengan baik. Merdu suaranya, tak berselisih banyak dengan Sundari Soekoco atau Waldjinah sekalipun. Maka, 200-an penonton yang menyaksikan aksi panggungnya tak keberatan memberikan tepuk tangan. Mbok Yem dan kawan-kawan adalah wakil pengamen unit Argorejo yang menjadi salah satu pengisi acara Pertemuan Pengamen Semarang di gedung pertemuan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu (6/11) petang. Mereka bersama empat wakil pengamen dari unit lain, yakni Banyumanik, Krapyak, Simpanglima, dan Sampangan menghibur para tamu undangan, antara lain Kapolwiltabes Semarang Kombes Badrodin Haiti, YMT Kepala Kesbanglinmas Kota Farkhani, dan sesama pengamen lain. Acara tersebut rutin diadakan Kiprah Pengamen Semarang (Kipas) sekali setahun. Selain buka puasa bersama, pembagian bingkisan, dan pengarahan dari Kapolwiltabes, Pertemuan Pengamen Semarang dijadikan sebagai ajang silaturahmi sesama pekerja ngamen di Semarang. Pekerja? Ya, Marco Marnadi, Ketua Kipas menyebut mereka dengan istilah tersebut. ''Anggota Kipas adalah para pengamen profesional. Mereka menjadikan ngamen sebagai profesi, bukan kegiatan sambilan. Apalagi kedok untuk melakukan tindak kejahatan,'' katanya. Karena itu, dia menolak jika mereka hanya dijadikan sebagai objek kesalahan, dirazia dengan dalih mengganggu ketertiban. Anggota Kipas, kata Marco, semuanya memiliki keterampilan bermusik yang baik. Mereka dibina secara berkesinambungan serta mendapat kartu tanda anggota (KTA) sebagai bukti keanggotaan. Badrodin Haiti dalam pengarahannya mendukung upaya pembinaan yang dilakukan Kipas. Sebagai pengamen profesional, mereka harus mengikuti kaidah profesionalisme yang ditetapkan organisasinya. ''Kalau jadi pengamen profesional, tingkatkan kualitas, sehingga keberadaan Anda benar-benar dibutuhkan masyarakat''.(Rukardi-89) |