| Jumat, 05 Nopember 2004 | SALA |
Tradisi Ritual Kejawen Selikuran Bulan PuasaBawa Ambengan ke Pemuka KampungRITUAL tradisi Kejawen Selikuran bulan puasa tahun Be 1937 (1425 H), Kamis (4/11), digelar masyarakat pedesaan. Acara tersebut ditandai dengan warga yang berbondong-bondong membawa ambengan (sesaji kenduri selamatan) ke rumah pemuka kampung. Di Kampung Salak, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri Kota misalnya, ritual Selikuran digelar di rumah kepala lingkungan (kaling). Ada pula yang dilaksanakan di rumah ketua rukun tetangga (RT), ketua rukun warga (RW) atau di rumah kepala dusun (kadus). Bagi yang tidak punya waktu membuat ambengan, dapat mengganti dengan memberikan iuran uang sebagai biaya pembuatan sesaji kenduri. Budaya Lokal Penegasan sama juga dikemukakan petugas protokol Pemkab Wonogiri Maryati SSos. Di Kampung tempat tinggalnya, Desa Hargosari, Kecamatan Tirtomoyo, kecuali Selikuran juga digelar ritual Songolikuran pada tanggal 29 bulan puasa kelak. Ada pembagian pembuatan ambengan yang didasarkan batas jalan. Bupati H Begug Poernomosidi SH menyatakan, tradisi itu merupakan peninggalan nenek moyang dan perlu dilestarikan. Sebab tradisi tersebut merupakan bagian dari budaya lokal yang ikut memberikan identitas keberagaman budaya Indonesia. Bupati melihat ada nilai positif dari ritual tradisi kenduri Selikuran. Sebab didalamnya ada muatan positif berupa manifestasi perwujudan rasa syukur yang disertai pemanjatan doa permohonan keselamatan dan kebahagiaan pada Tuhan. Bentuk dari malem selikuran diawali adanya prosesi kirab (arak-arakan) dari Keraton menuju Taman Sriwedari dengan menggunakan kereta kencana Kiai Siswanda, yaitu titian kereta harian PB X. Kemudian diikuti pusaka Keraton yang dibawa barisan Pakasa (Paguyuban Keraton Surakarta), barisan jodhang (kotak kayu) berisi nasi dan jajan pasar yang dipagari iringan ting (lampu minyak). Setiba di Sriwedari, dipanjatkan doa memohon keselamatan bagi negara dan warganya. Selesai pembacaan doa, nasi tumpeng dan jajan pasar dibagikan kepada masyarakat. Keberadaan tradisi selikuran itu sekaligus untuk memperingati berdirinya Sriwedari. (Bambang Pur-20s) |