logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 05 Nopember 2004 SALA
Line

Tinggalkan Anak Istri untuk Dalami Alquran

SEMUA orang beriman tentu tak ingin melewatkan kesempatan beribadah sebanyak-banyaknya pada bulan suci Ramadan.

Tak hanya berpuas dengan meningkatkan ibadah lewat puasa dan shalat tarawih, tapi ibadah yang lain pun tak boleh dilupakan, seperti memperbanyak zakat untuk kaum yang membutuhkan, dan lebih sering membaca Alquran.

Ada hal lain lagi yang tak kalah pentingnya, yakni selalu berusaha lebih mendalami Alquran sebagai pegangan hidup.

Sejak Rabu (3/11) menjelang magrib, beberapa masjid dipenuhi kaum lelaki yang ingin mejalankan hak-haknya selama Ramadan. Mereka membawa bekal, mulai dari sikat gigi, baju, sabun mandi, sampai seterika dan keperluan lainnya.

Salah satu masjid yang dituju adalah Masjid Gumulan Klaten Tengah. Ternyata, mereka akan melakukan iktikaf atau tinggal di masjid selama 10 hari terakhir Ramadan.

Terdapat hampir 100 orang di masjid tersebut. Mereka rela meninggalkan anak dan istri, untuk meningkatkan interaksi dengan Alquran. Salah satu peserta iktikaf di Masjid Gumulan, M Nanang Purnawan (32), bahkan meninggalkan istri yang kini sedang hamil tua menanti kelahiran anaknya ketiga, bersama dua anaknya yang masih kecil. Istrinya rela melepas Nanang untuk beriktikaf.

"Saya tinggal di masjid seperti peserta yang lain. Saya hanya keluar untuk bekerja, dan sehabis itu tidak pulang ke rumah, tapi langsung ke masjid. Tapi saya akan kembali ke rumah, bila istri saya melahirkan," kata Nanang, yang juga anggota DPRD Klaten itu.

Katam

Kegiatan ibadah, dimulai dengan berbuka bersama dan shalat magrib berjamaah. Kemudian, dilanjutkan dengan tahsin tilawah (memperindah bacaan). Selesai shalat tarawih, para peserta melakukan kajian Alquran untuk meningkatkan pemahaman terhadap ayat-ayat suci . Paginya, selesai shalat subuh, mereka kembali melakukan tahsin tilawah.

Selain beribadah, mereka juga melakukan kegiatan keseharian, mulai dari mandi, mencuci, sampai menyeterika di masjid. Mereka berbuka dan sahur sama. Kegiatan itu, ternyata mendapat respons positif dari masyarakat sekitar masjid.

"Kami hanya iuran Rp 15.000 untuk keperluan berbuka dan sahur, dari 3 sampai 12 November sehabis subuh. Yang memasak masyarakat. Uang sebesar itu, bisa cukup karena bantuan masyarakat di sini. Mereka sangat mendukung kegiatan ini," ujarnya.

Lima Masjid

Sementara itu, menurut drh Suharna, kegiatan yang diselenggarakan oleh DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Klaten itu sebenarnya sudah ada sejak PKS belum terbentuk. Baru tiga tahun terakhir, kegiatan itu dikelola atas nama partai.

Sebelumnya, mereka sering meminjam nama lembaga untuk mengadakan kegiatan tersebut, seperti meminjam nama Yayasan Hidayah. Tujuannya hanya untuk menjembatani dengan masyarakat. Tapi saat ini, sudah ditangani bersama masyarakat.

"Dulu kami pernah dilarang, ketika akan melakukan iktikaf di Wonosari. Tapi mungkin itu hanya karena sosialisasi yang kurang, dan tidak ada masyarakat yang memelopori. Tapi sekarang, sambutan masyarakat sangat bagus," ujarnya.

Panitianya anak SMA, anggota remaja masjid setempat. Merekalah yang mengurus kegiatan. Masyarakat sekitar masjid, banyak yang bergabung dengan peserta iktikaf, tapi saat ibadah saja. Kalau makan, mereka pulang ke rumah.

Iktikaf dipusatkan di lima masjid. Untuk wilayah kota dipusatkan di Masjid Gumulan, Klaten Tengah; wilayah eks kawedanan Jatinom di Masjid Beku, Karanganom; wilayah eks Kawedanan Pedan di Masjid Kauman Pedan; dan untuk wilayah eks- kawedanan Gondang Winangun di Masjid Raya Manisrenggo. Lalu untuk wilayah eks-Kawedanan Delanggu, dipusatkan di Masjid Kepoh Delanggu.

Setiap masjid, rata-rata diikuti 50 orang. Khusus untuk kota sampai 100 orang, hingga tidurnya berdesak-desakan.

Kalau siang, 50 persen peserta keluar untuk bekerja; hanya 50 persen yang tetap tinggal di masjid. Sebagian karena ingin katam Alquran dalam 10 hari.(Merawati Sunantri-92a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA