logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 05 Nopember 2004 SALA
Line

Mengaku Akan Pasok Ginseng ke Konimex

MANAHAN - Didik Suharyanto, Co Pengawas CV Medical tetap yakin tidak ada hal yang menyimpang yang dilakukan perusahaannya dalam melakukan budi daya pengembangan tanaman ginseng. Bahkan secara rutin, dia melakukan konsultasi dengan ahli ginseng dari UGM Yogyakarta, Prof DR Ir M Anwar.

"Dia salah seorang ahli yang memang dimintai saran tentang pengembangan budi daya tanaman langka dari Korea itu," kata dia kepada Suara Merdeka, kemarin.

Tidak hanya itu, Didik juga menyebut perusahaannya sedang melakukan penjajakan dengan PT Konimex, perusahaan farmasi raksasa di Sukoharjo. CV Medical akan memasok ginseng yang diproduksi kepada perusahaan tersebut.

"Kami sedang melakukan penjajakan melalui Pak Pandu," kata dia.

Suara Merdeka yang mencoba meminta konfirmasi Pandu, mendapatkan kejelasan bahwa ternyata dia seorang yang pengusaha advertising di Solo yang banyak menggarap proyek promosi/reklame dari Konimex.

"Ya, saya memang sedang menyiapkan proposal ke Konimex untuk memasok ginseng. Sebab saat ini, ginseng di perusahaan itu dipasok dari Thailand," kata dia.

Pandu juga mengaku sebagai salah seorang staf di CV Medical, sekaligus juga investor yang menanamkan uangnya di perusahaann tersebut senilai Rp 400 juta.

"Saya sudah bergabung sekitar 11 bulan, dan selama itu tidak ada masalah. Kalkulasi saya juga cukup realistis, serta saya yakin kalau usaha tersebut sangat spesifik dan prospektif," kata Pandu.

Dibantah

Tetapi ketika Suara Merdeka meminta konfirmasi ke PT Konimex, ternyata pernyataan Didik itu dibantah. Tanto Nugroho, Humas Konimex menyatakan perusahaannya tidak memiliki hubungan bisnis dengan CV Medical, dan tidak pernah ada pembicaraan berkaitan dengan pasokan ginseng.

"Konimex tidak punya hubungan dengan CV Medical. Bahkan kalau soal ginseng, kami baru dalam tahap riset, dan kami minta sampel ginseng dari luar negeri. Jadi kami belum memproduksi apa pun yang berkaitan dengan ginseng. Karena itu, aneh kalau ada pernyataan kami menjajaki menerima pasokan dari salah satu perusahaan," kata dia.

Begitu pula tentang sosok Pandu, Tanto mengaku tidak mengenal, karena seluruh proyek advertising Konimex dikelola perusahaan di Jakarta. "Saya tidak kenal Pandu, apalagi kalau mengaku menggarap proyek advertising perusahaan kami," papar dia.

Informasi lain yang diperoleh Suara Merdeka, harga ginseng kering ternyata juga tidak Rp 8 juta per kilogram, sebagaimana dikemukakan Didik.

"Ah, nggak sampai, paling hanya Rp 1 juta," kata sumber Suara Merdeka yang mengetahui harga ginseng asli Korea itu.

Tentang keberadaan Timotius, Dirut CV Medical yang sangat sulit dihubungi, Didik mengatakan memang dia termasuk yang sedikit tertutup jika berhubungan dengan pers. Namun begitu, Didik meyakinkan suatu saat akan ada penjelasan resmi tentang CV Medical.

"Kalau sekarang ada persoalan ditanggapi, muncul lagi masalah ditanggapi, rasanya kok malah membuat lelah. Jadi biarkan saja, yang peting kami terus bekerja dan melakukan budi daya ginseng dengan baik. Suatu saat masyarakat akan tahu, bahwa bisnis ini sangat realistis, tidak ada yang disembunyikan," tandasnya.

Tentang proyek budi daya itu sendiri, dia mengaku memiliki ratusan hektare lahan. Namun saat ini memang baru bisa panen sekitar 1.000-2.000 paket ginseng, dengan kapasitas produksi 1-2 ton. "Kalau Suara Merdeka mau, saya ajak melihat kebun kami di Sleman; yang dekat," kata dia. (an-17a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA