| Jumat, 05 Nopember 2004 | WACANA |
Surat PembacaImbauan untuk Penggemar MerconUntuk menghindari kerugian yang semestinya tidak perlu terjadi, saya sampaikan bahwa budaya membakar petasan dan kembang api adalah pemborosan. Padahal boros adalah salah satu perbuatan yang dilarang agama. Karena itu sebaiknya mulai sekarang dilarang menyulut petasan atau kembang api. Kondisi saat ini masih banyak saudara kita yang hidup dengan prihatin. Tidak pekerjaan akibat PHK atau belum dapat pekerjaan, tidak mampu bayar sekolah, makan seadanya dan sebagainya. Mereka perlu mendapat uluran tangan dermawan. Jadi tidak sepantasnya bila sebagian dari kita ada yang tidak peduli dan cuek kemudian pesta dengan petasan dan kembang api sesukanya. Bunyi petasan, dari dulu juga cuma begitu-begitu saja, nggak ada indahnya. Sementara kalau mau sedikit berpikir, dampak buruk yang ditimbulkan sangat banyak. Mulai dari orang yang kaget, terganggu istirahatnya, sampai korban luka dan meninggal dunia akibat terkena ledakan. Belum lagi kalau dihitung secara materi berapa banyak uang yang terbuang percuma hanya untuk sebuah bunyi ledakan yang tak berguna itu. Pokoknya lebih banyak ruginya daripada untungnya. Tetapi anehnya masih banyak orang yang melakukan hal seperti itu. Sepertinya mereka bangga, padahal bahkan rata-rata mereka justru dari keluarga terpandang. Saya imbau yang memiliki banyak duit, lebih baik dan bermanfaat bila uang itu disedekahkan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Saya yakin tetangga pasti masih ada yang berkekurangan, bantulah mereka, atau salurkan ke anak-anak yatim-piatu atau panti asuhan. Daryoso Jl Tusam 1396, Semarang *** Layanan Mentari Tidak Profesional Saya warga Semarang yang mengambil S2 di Yogya. Sejak 28 Oktober 2004 sore jasa seluler Mentari yang saya pakai (08157779...) tidak bisa digunakan untuk mengirim SMS maupun telepon keluar. Kebetulan saya sedang di Semarang hingga langsung mendatangi layanan Mentari di J1 Gadjahmada. Di sana ternyata keluhan sama dirasakan banyak pelanggan Mentari. Hal yang menjengkelkan, jawaban staf Mentari adalah sama, yaitu: "Ada gangguan jaringan, tunggu 1 atau 2 hari lagi". Jawaban seperti ini buat saya sama sekali tidak profesional, tidak jelas dan tidak menyelesaikan masalah. Juga kerugian pelanggan tidak diperdulikan. Bersama Surat Pembaca ini saya yang dilindungi oleh hak-hak sebagai konsumen saya ingin mengetahui persoalan serius tersebut sekaligus kejelasan penyelesaiannya dan jaminan bahwa hal tersebut tidak akan terulang. Kepada sesama pelanggan Mentari yang merasa dirugikan mohon terus mengkritisi sebagai koreksi dan kontrol. Kepada warga yang akan menggunakan jasa seluler mohon berpikir ulang sebelum memilih layanan Mentari jika persoalan yang sama masih saja terjadi. Susetyoadi Tmn Dewi Sartika 2 Sampangan, Semarang *** Kecewa Dunkin Donuts Tanggal 26 Oktober 2004 saya dan kakak membeli dunkin di Dunkin Donuts Stasiun Tawang Semarang pada pagi hari setelah turun dari KA Senja Utama Jakarta - Semarang. Kami membeli selusin donuts dan 2 nata de coco selasih (nota terlampir). Yang membuat kecewa, setelah sampai di rumah ternyata semuanya sudah keras. Padahal setahu saya empuk dan enak karena sering membeli. Kenapa yang sudah keras masih dijual. Kan kasihan pembelinya. Makanan tersebut kami beli untuk oleh-oleh keluarga, harganya juga nggak murah untuk ukuran karni. Bagaimana tanggapan Dunkin Donuts. Betty Wulandari K Jl Mangga 149 Jambu, Ambarawa *** Pengaturan Pedagang Pasar Baru Kalinyamat Suatu saat saya masuk pasar Kalinyamat Jepara yang besar dan luas. Sayang pengaturan pedagang rasanya masih kurang teratur dan kurang rajin, khususnya bakul kecil lesehan yang tidak mampu beli kios. Bakul sayuran/lombok tempatnya lesehan di tepi jalan masuk ke pasar. Bila musim hujan akan mengadu kepada siapa. Salah satu jalan, pihak kepala pasar harus peduli terhadap para pedagang sayur tersebut. Mereka yang masih tercecer ini harus diberi tempat/los khusus dan agar dapat masuk ke dalam pasar. Menurut laporan para bakul lesehan di luar pasar ini, awalna telah tersedia satu barak/los panjang di dalam pasar. Tapi kabarnya tempat tersebut dijual oleh oknum tertentu, dijual bebas kepada yang berduit. Lalu berubah jadi toko/kios milik bagi yang bermodal puluhan juta rupiah. Di mana letak keadilannya dan di mana pemerataan bagi warga kecil. Amar Makruf Purwogondo, Kalinyamat, Jepara *** Reuni SMPN I Salatiga Setelah sukses tahun lalu untuk lebih mempererat tali persaudaraan sambil kangen-kangenan, panitia Reuni Alumni SMPN I Salatiga angkatan 1973 lulus 1975, kembali akan mengadakan Temu Kanget dan Halal Bihalal pada hari Rabu, 17 Nopember 2004 Pukul 10.00 di bangsal sekolah Jl Kartini 24 Salatiga. Silakan hubungi Ayu Adiarti (ketua) (0298) 322196/081325672, Edi Triyanto Basuki 08122813735, Hartini (0298) 314601, Mas Bukhin 08156581003, Amin Ismanto Solo 08122584316, Subiyanto Semarang 08164246907. Sie Humas, Drs Dodhy Yulianto MBA *** Iklan Fuji Film Membingungkan Tertarik membaca iklan, 31 Oktober 2004, tentang kamera digital Fuji ''Finepix A 120'', saya ingin membeli karena di samping harga dan resolusi (3.1 MP), juga ada bonus cetak gratis 100 lembar dan batere charger Sanyo. Namun pada 2 November setelah menanyakan di lima toko atau agen ''resmi'' Fuji di Semarang (FIP Gajah Mada, Duta Indah, Bursa Kamera, Hetero, dan Varia Foto), ternyata kamera jenis ini tidak tersedia. Pihak toko mengatakan barang tersebut belum disediakan oleh Fuji Jakarta. Sebagian lagi mengatakan tidak menyediakan tipe tersebut tapi tipe yang lain. Lucunya lagi, ada yang tidak mengerti jika pembelian kamera tersebut ada bonusnya. Bahkan ada toko yang tidak mengetahui kalau ada iklan tersebut. Dari kejadian ini, saya kecewa dan tidak habis mengerti mengapa dalam beriklan di media cetak, Fuji Film tidak menyediakan tipe ''Finepix A 120'' di daftar toko yang masuk dalam agen resminya. Sepertinya pihak Fuji terkesan asal beriklan tanpa memperhatikan stok barang tertentu yang tersedia di beberapa toko. Satrio Seno P Jl Tejokusumo II No 27, Tlogosari Semarang 50197 *** Guru Menjadi guru merupakan impian, hidup enak, fasilitas terjamin, dihorrnati masyarakat. Tetapi itu terjadi di negeri dongeng bukan di lndonesia, apalagi di Kendal. Guru, terlebih guru swasta masih diangap sebagai anak tiri, Walau mereka mengabdi mencerdaskan murid di negara sama, jam kerja sama, capai dan pegel lirunya sama juga, tapi gaji dan kesejahteraan berbeda. Banyak guru hidup sederhana mengarah ke prihatin. Bagaimana kita bisa menuntut kualitas murid dan sumber daya manusia yang bagus jika kesejahteraan guru dan bangunan SD bobrok tidak segera di perhatikan. Kenda! dalam waktu dekat akan mengadakan pemilihan bupati, yang berminat untuk "lowongan kerja'' ini, tolong perhatikan nasib guru. Ingat suara guru digugu dan ditiru. Aryo Widiyanto AMd Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal
|