| Jumat, 05 Nopember 2004 | NASIONAL |
Keterampilan BerpuasaOleh: Muslim A Kadir![]() (Ketua STAIN Kudus) HIKMAH Ramadan tahun ini, bagi bangsa Indonesia memiliki makna khusus. Kekhususan ini dimungkinkan oleh beberapa hal. Pertama, keberhasilan melewati pemilu dengan relatif aman tanpa ada ekses berarti. Kedua, keberhasilan memilih presiden dan wakil presiden. Ini kemenangan rakyat yang untuk kali pertama memilih secara langsung. Berjuta harapan dan impian diletakkan di pundak Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla. Sudah barang pasti, jaminan akan keberhasilan pemenuhan harapan ini bukan semata-mata menjadi tugas beliau berdua namun juga semua menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Bahkan sebenarnya, tugas ini milik segenap lapisan rakyat Indonesia yang sudah sekian lama berjuang untuk mengatasi krisis yang belum juga usai. Seberapa besar peluang memenuhi harapan ini? Pada dasarnya, bangsa Indonesia memiliki potensi yang melimpah baik dalam bentuk sumber daya manusia maupun alam. Di antara sumber daya manusia adalah kemampuannya melaksanakan ajaran agama yang merupakan aset nasional, bahkan juga konstitusional. Agama, dalam hal ini Islam, mengandung potensi mewujudkan kesejahteraan bagi umat manusia. Pernyataan ini tercantum dalam firman Allah SWT, Surah Al-Anbiya ayat 107. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa Muhammad SAW diutus hanya untuk mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Sejarah memberi kesaksian, beliau telah berhasil memenuhi tugas ini setelah mendidik para sahabat dan pengikutnya. Bekal utama untuk mencapai tujuan adalah Alquran dan Sunah yang antara lain mengajarkan bagaimana berpuasa. Berpuasa sebagai salah satu bentuk pelaksanaan ajaran Islam bermanfaat dalam kehidupan konkret manusia. Rasulullah secara eksplisit mengajarkan, melaksanakan puasa berfaedah bagi kesehatan, membentuk pengendalian diri bagi pemuda yang belum memiliki kesiapan untuk berumah tangga, serta manfaat praktis lain. Demikian besar kegunaan puasa ini sehingga dalam salah satu Hadis Qudsy dinyatakan, ia adalah untuk Allah SWT dan Dia yang akan membalasnya. Dari sumber ajaran ini, umat Islam kemudian menjabarkannya menjadi berbagai rumusan, seperti berpuasa membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia. Puasa membentuk disiplin kerja, dengannya kita tanggulangi korupsi dan lain-lain. Sebagai suatu ajaran bagi umat Islam masa kini, rumusan tersebut tidak ada yang salah. Sebagai suatu kenyataan konkret, muatan pengertian di dalamnya juga benar bagi generasi yang memperoleh bimbingan langsung Rasulullah. Akan tetapi, apakan rumusan-rumasan tersebut dan yang searti juga benar sebagai suatu kenyataan konkret umat Islam masa kini? Apakah puasa umat Islam Indonesia juga telah berhasil mewujudkan manfaat konkret seperti telah dicontohkan oleh Rasulullah? Pertanyaan ini akan lebih arif dijawab dengan kata "belum" daripada "tidak". Memang patut dihargai ragam metode dakwah yang telah dipakai untuk menjelaskan hal ini. Dimensi puasa yang kelihatannya sulit dimengerti adalah perbedaan antara ajaran dan pelaksanaan ajaran itu sendiri. Uraian tentang puasa, selama ini lebih merupakan bahasan tentang sisi ajaran, hukum, atau makna yang sifatnya normatif atau spekulatif. Akibatnya adalah keberhasilan umat untuk mengerti tentang puasa tercapai namun belum memiliki kemampuan akurat untuk melaksanakannya. Kegagalan ini sebenarnya sudah diingatkan oleh beliau dalam salah satu sabdanya yang menyatakan banyak orang berpuasa yang hasilnya hanya lapar dan dahaga. Keterbatasan kemampuan untuk melaksanakan puasa agar mampu menghasilkan manfaat konkret mungkin oleh keterbatasan mereka untuk menguasai ilmu tentang pelaksanaan ajaran itu sendiri. Sebagai suatu metode, rumusan ini berlaku bukan hanya untuk puasa semata melainkan juga banyak muatan ajaran Islam lain. Dalam menyampaikan misinya, Rasullah lebih menggunakan bahasa kegiatan daripada rumusan ilmu. Artinya, dalam setiap butir satuan kegiatan melaksanakan agama, beliau memberikannya dalam wujud praktik dan bukan hanya rumusan konseptual. Dalam ajaran, prosedur dan unsur-unsur konkret yang diperlukan belum tampak. Pendeknya, dalam praktik terdapat teknik melaksanakan ajaran agama yang belum tampak dalam rumusan konseptual. Ilmu tentang teknik ini disebut teknologi dan karena bidang bahasannya beragam disebut teknologi keberagamaan. Bila alur pikir ini disimpulkan maka keterbatasan umat untuk mewujudkan manfaat praktis puasa tidak lantaran keterbatasan aspek koginitif tetapi keterbatasan penguasaan teknologi keberagamaan untuk menjalankan puasa. Teknologi berpuasa membahas tidak hanya sisi normatif atau ajaran tentang puasa yang telah diajarkan oleh Rasullah semata namun juga bagaimana melaksanakannya menjadi kehidupan konkret. Hal itu dimaksudkan agar manfaatnya dapat diwujudkan dalam praksis kehidupan umat. Sebagai suatu produk pelaksanaan, berpuasa memiliki tiga buah unsur. Unsur pertama, aspek spiritualitas yang menunjuk pada dimensi internal orang berpuasa untuk merespons wahyu Allah SWT. Unsur kedua, merupakan wujud pelaksanaannya oleh pelaku yang bersifat perorangan sehingga dapat disebut sisi individualitas. Dan, unsur ketiga, lingkungan sosial pelaku dengan segala dinamika dan susunannya yang dapat disebut komunitas berpuasa. Agar dapat menghasilkan produk dalam kehidupan konkret, dimensi spiritualitas, individu, dan komunitas perlu diberdayakan sesuai dengan kaidah ilmiah. Muatan kaidah ini bukan sisi ajaran atau norma berpuasa melainkan rangkaian unsur-unsur pelaksanaan yang memiliki kaitan atas dasar kaidah ilmiah untuk membentuk atau mewujudkan gejala baru, dengan metode yang sesuai menurut keniscayaan kaidah tersebut. Pendeknya ini adalah teknik yang harus dipakai agar mampu menghasilkan kenyataan konkret yang dikehendaki. Produk ini dapat dihasilkan jika teknik tersebut memenuhi kriteria, yakni merupakan kegiatan, memenuhi pola keterkaitan unsur, melaksanakannya dalam praksis kehidupan. Demikian kompleks pola keterkaitan unsur yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya sehingga untuk menguasai suatu teknik berpuasa perlu pelatihan di bawah bimbingan tenaga yang berkompeten. Dengan penguasaan ini, pelaku puasa telah berketerampilan berpuasa. Pada lapis spiritual, keterampilan dapat diwujudkan dengan mendesain pola penghayatan sifat-sifat Allah SWT. Pada umumnya, orang beriman meyakini sifat-sifat ini dengan hanya menghafal jumlah dan satuan-satuannya. Bahkan lebih sering, mereka tidak mampu menghafal keseluruhan sifat tersebut dan juga tak mengerti maksudkan. Teknik ini hanya menghasilkan pengertian tentang sifat Tuhan tanpa mampu menumbuhkan afeksi atau kekuatan yang dikehendaki. Dalam keterampilan spiritual berpuasa, teknik penghayatan yang lebih produktif adalah dengan pola yang disebut penghayatan fungsional. Melalui teknik ini, pelaku puasa akan mampu menumbuhkan bukan hanya pengertian tentang sifat-sifat semata tapi juga afeksi dan selanjutnya kekuatan kejiwaan untuk berbuat relevan dengan kandungan di dalamnya. Bila produk ini dapat ditumbuhkan maka seseorang hanya memerlukan perangkat fisik untuk melaksanakannya menjadi perbuatan konkrit. Keberhasilan ini bersifat perorangan yang sangat dipengaruhi oleh struktur komunitas yang menjadi lingkungannya. Karena pengaruh lingkungan demikian besar terhadap individu yang menjadi warganya, komunitas disebut terampil berpuasa juga dapat menumbuhkan situasi yang kondusif untuk mereka yang melaksanakannya. Jika ragam keterampilan ini dapat diwujudkan dalam bulan suci Ramadan, peluang memberdayakan puasa untuk memenuhi harapan bangsa Indonesia menjadi semakin besar. Sudah barang tentu, uraian ini masih memerlukan jabaran dan perincian agar mudah dipraktikkan bagi mereka yang tertarik. Namun yang pasti, manfaat konkret berpuasa dalam praksis kehidupan akan lebih efektif dapat diwujudkan melalui keterampilan berpuasa daripada hanya melalui pemahaman hukum berpuasa.(33j) |