| Jumat, 05 Nopember 2004 | NASIONAL |
Bush Bertekad Rangkul Semua Pihak
WASHINGTON - Presiden George W Bush telah merancang agenda untuk masa jabatan empat tahun selanjutnya. Agenda politik pemerintahannya berkisar dari penciptaan stabilitas di Irak, sampai dengan pengkajian ulang jaminan sosial dan peraturan pajak. Beberapa menit setelah Senator John Kerry, kandidat dari Partai Demokrat, mengakui kekalahannya dalam persaingan pemilu presiden yang sengit, Bush bersumpah akan merangkul semua pihak (Republik atau Demokrat). "Masa jabatan yang baru adalah peluang baru untuk menjangkau seluruh negeri ini. Saya butuh dukungan Anda sekalian. Dan saya akan bekerja untuk mendapatkan dukungan tersebut," kata presiden dari Partai Republik tersebut, Kamis kemarin. Namun prioritas puncaknya di dalam negeri, yakni perubahan peraturan pajak dan mendorong kembali disusunnya UU guna meningkatkan produksi energi, dapat menyulut kebencian sebagian kelompok masyarakat AS. Situasinya diperkirakan bakal sama seperti saat pengurangan pajak yang dia upayakan selama masa jabatan pertama, kata sejumlah anggota Kongres. Kalangan Demokrat mengatakan, Gedung Putih telah memerintahkan Departemen Keamanan Tanah Air, Departemen Pendidikan, dan badan-badan federal lain agar mengencangkan ikat pinggang, sehubungan dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi dan kemungkinan pengurangan anggaran belanja, mulai tahun depan. Kebijakan mengencangkan ikat pinggang tersebut merupakan bagian dari rencana Bush untuk mengurangi defisit anggaran sampai setengah, dari angka lima tahun terakhir. Namun kalangan konservatif di bidang fiskal bahkan ragu dia bakal mencapai tujuan tersebut. Kebijakan Luar Negeri Para pejabat pemerintahan dan tokoh-tokoh Partai Republik mengatakan, agenda kebijakan luar negeri juga menghadapi tantangan besar. Yang segera bakal dihadapi adalah, menjaga pemilu Irak tetap berjalan sesuai rencana dan memadamkan kekerasan di negara Teluk tersebut. Sejauh ini, PBB menolak keras untuk mengirimkan cukup banyak staf ke Irak untuk membantu melaksanakan pemilu tersebut. Sebab, PBB menganggap keamanan di sana sangat buruk. Beberapa pejabat pemerintahan Bush juga ragu, apakah pemilu Irak bakal terlaksana tepat waktu, meskipun presiden AS itu bersikeras pemilu akan diselenggarakan sesuai jadwal, yakni Januari 2005. "Meskipun kita berhasil untuk sementara meredakan serangan gerilyawan, apa yang kita lakukan hanyalah menundanya. Perlawanan gerilya akan kembali berkobar dengan kekuatan penuh," kata John Pike, analis pertahanan GlobalSecurity.org. "Pemilu tidak akan menciptakan stabilitas di Irak." Dia mengatakan, Bush mungkin terpaksa menahan sedikitnya 140.000 sampai 150.000 pasukan AS di Irak selama paling tidak dua tahun lagi. Langkah tersebut akan semakin menguras sumber daya militer Amerika. Awal tahun depan, Bush diperkirakan akan meminta Kongres menyetujui anggaran 65 miliar dolar AS (sekitar Rp 600 triliun) sampai 85 miliar dolar AS (sekitar Rp 750 triliun), untuk dana tambahan bagi operasi-operasi militer di Irak dan Afghanistan, kata para pembantunya di Kongres. Permintaan dana baru tersebut akan membuat Washington mengeluarkan dana amat besar untuk operasi-operasi militer dan upaya rekonstruksi di Irak dan Afghanistan, yang mungkin mencapai 300 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.700 triliun). Kerry Ajak Rekonsiliasi Bush mendeklarasikan kemenangannya dalam pidato di Washington DC, Rabu petang (Kamis pagi WIB). Sementara itu Senator John F Kerry - yang kalah - meminta rakyata AS kembali bersatu setelah berbeda pendapat selama kampanye. Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh sejumlah jaringan televisi AS, Bush mengatakan bangsa Amerika telah memberikan suaranya untuk menentukan pemimpin mereka. Menurutnya, kepercayaan dan dukungan rakyat Amerika tersebut merupakan tugas baginya untuk melayani mereka semua. "Saya akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi tugas tersebut setiap hari sebagai presiden Anda," katanya. Istrinya (Laura Bush), Wakil Presiden Dick Cheney, dan keluarga mereka masing-masing juga hadir dalam acara tersebut. "Ada banyak orang yang harus saya sampaikan terima kasih, dan Laura adalah yang pertama," katanya. Dia memuji Kerry, dan mengatakan senator Massachusetts yang menjadi saingannya itu - serta para pendukungnya - harus bangga pada semangat mereka selama berkampanye. Bush memastikan kemenangan atas Kerry setelah merebut suara di Negara Bagian Ohio yang memiliki 20 EC (electoral college). Dengan demikian dia mengumpulkan 274 EC (dari seluruhnya 538 EC), sedangkan Kerry 252 EC. Hasil suara dari dua negara bagian yang belum dihitung, yakni Iowa dan New Mexico, tidak mempengaruhi lagi kemenangan Bush. Sekitar dua jam sebelumnya, Senator John Forbes Kerry di Boston secara terbuka mengucapkan selamat kepada Presiden George Bush yang berhasil kembali memenangi perebutan kursi presiden AS. "Saya tadi berbicara dengan Presiden Bush dan menyampaikan selamat kepada dia dan Laura atas kemenangan mereka," kata Kerry, dalam pidato sambutan di Faneuil Hall. Dia mengatakan, dalam pembicaraannya di telepon tersebut, dia dan Bush berbincang mengenai rakyat Amerika yang terpecah selama kampanye dan kini perlu bersatu kembali. Di sela-sela pidatonya, banyak orang yang berteriak meminta Kerry untuk kembali maju pada pemilihan presiden AS tahun 2008 mendatang. Dia hanya menyambutnya dengan ucapan terima kasih. Kerry mengakui kekalahannnya dan menelepon Bush, setelah berdasarkan perhitungan suara di Ohio dia tidak mungkin mengejar ketinggalannya dari Bush.(rtr-ben-30) | ||||