| Jumat, 05 Nopember 2004 | MURIA |
Miskin Bukan Alasan untuk MinderCHOIRUN ANNISAH beberapa kali membetulkan kerudung putih yang dipakainya, sambil sesekali menyeka butiran keringat di dahinya dengan bagian dalam telapak tangannya. Namun, sorot mata dan perhatian si bocah mungil berusia tujuh tahun itu seakan tidak terlepas dari lelaki berkopiah hitam yang memberikan mauidhoh khasanah di tengah ruangan yang dipenuhi anak-anak sebayanya. Sang lelaki itu begitu lantang memberikan pencerahannya hingga anak-anak yang hampir tertunduk menahan kantuk menantikan buka puasa pun kembali berjaga dan mendongakkan lagi kepalanya. Nisa, begitu ia biasa dipanggil, hanyalah satu dari sekitar 450 anak dari 19 panti asuhan di Kudus yang Rabu (3/11) sore lalu mengikuti acara buka puasa bersama di pendapa kabupaten. Acara tersebut diselengarakan oleh Dharma Wanita Kabupaten Kudus yang diketuai Ny Rina Tamzil SH. Rina menuturkan, kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai upaya berbagi kebahagiaan bersama dengan anak-anak panti asuhan tersebut sekaligus menyemarakkan nuansa Islami selama bulan suci Ramadan. ''Diharapkan, mereka dapat menjalani kehidupan mereka dengan sabar, tentu sambil mengupayakan masa depan yang lebih baik,'' ungkapnya seusai memberikan bantuan sebesar Rp 50.000 untuk setiap anak panti asuhan yang hadir dalam kesempatan itu. Pemapar mauidhoh khasanah dalam kesempatan tersebut adalah KH Duri Ashari dari Semarang. Dalam pencerahannya, ia mengatakan perlunya umat Islam menerima rezeki, karunia, bahkan hal terburuk sekalipun yang diberikan Tuhan kepada umat manusia dengan ikhlas dan tawakal. Sikap tersebut, lanjut dia, lebih didasarkan pada kenyataan bahwa semua itu hanyalah ujian hidup. Untuk itu, ia mengharap anak-anak panti asuhan yang kondisinya tidak berlebih hartanya, hendaknya tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak percaya diri. Menurut pendapatnya, miskin harta di mata Allah bukan merupakan suatu kenistaan asal tidak miskin iman dan akhlak. ''Miskin harta itu soal rezeki, miskin iman itu kebangetan. Tidak perlu minder karena miskin harta, jika kita serius mengupayakannya secara halal, insya Allah, Tuhan pasti akan memberikan,'' jelasnya. Ulama dari Semarang itu juga menambahkan, ada tujuh keuntungan dan keutamaan yang dimiliki orang-orang miskin di antara umat-umat lain yang mempunyai kondisi yang lebih baik. Keutamaan itu di antaranya, kalangan duafa ternyata justru dapat membantu orang kaya melalui pekerjaan yang dilakukannya. Selain itu, kemiskinan jika dijalani dengan sabar dan iman akan menjadi tempat bertambahnya pahala, tempat rasa syukur, dan menjadi sarana untuk dicintai oleh Allah. Bahkan kemiskinan pada satu sisi juga dapat menghindarkan bencana dan mempertebal mental serta memujarabkan doa. ''Makanya, tidak ada alasan untuk rendah diri jika kita miskin harta asal bukan miskin iman,'' katanya mengakhiri pencerahannya. (Anton Wahyu Hartono-90n) |