| Jumat, 05 Nopember 2004 | INTERNASIONAL |
Isu 11/9 Jadi Penentu Kemenangan BushSAN FRANCISCO - Kegelisahan bakal terulangnya serangan kamikaze 11 September 2001, mungkin menjadi isu yang memengaruhi banyak pemilih untuk mendukung terpilihnya kembali Presiden George W Bush. Demikian menurut para pengumpul pendapat Republik, Rabu waktu setempat. Setelah berulangkali mendengar peringatan bahaya yang dikeluarkan Gedung Putih terhadap rakyat Amerika, sejumlah pemilih mengabaikan John Kerry dan mempertahankan ''presiden masa perang'' mereka, meski mereka mengecam perang Irak. Analisis-analisis lain tentang hasil pemilihan presiden itu menunjukkan, ''nilai-nilai moral'' merupakan satu-satunya isu top yang disebut para pemilih, sedangkan masalah sosial seperti pernikahan gay, kepemilikan senjata, dan aborsi dianggap sebagai masalah besar lain. Para pemilih yang mengganggap nilai-nilai moral sebagai keprihatinan utama dalam exit poll, juga mengagumi sikap teguh Bush terhadap apa yang mereka sebut kejahatan terorisme dan kediktatoran, kata para pengumpul pendapat. Isu Utama Pemilih Survei telepon pascapemilihan terhadap 800 pemilih di seluruh negara itu menunjukkan, terorisme mengalahkan keprihatinan-keprihatinan lain, dengan 23 persen pemilih menyebutnya sebagai isu utama mereka. Dari jumlah itu, 78 persen mendukung Bush, kata Kellyanne Conway, presiden Polling Company Inc. Conway, pengumpul pendapat dari kubu Republik dan penasihat bagi kampanye Bush, mengatakan isu tersebut didukung orang-orang berusia antara 35 sampai 44 tahun, seperti para orang tua yang mengikuti misa-misa agama - khususnya para ibu yang memiliki anak remaja. Dia menyebut isu tersebut ''sangat menentukan'' bagi terpilihnya kembali Bush. ''Kami tahu dari polling presiden satu setengah tahun lalu bahwa presiden selalu lebih kuat dalam menghadapi para pemilih Amerika tentang siapa yang Anda percaya untuk mengatasi perang melawan teror,'' jelasnya. Beberapa pengumpul pendapat lain sependapat. ''Ini sangat signifikan,'' kata pengumpul pendapat Tony Fabrizio, yang bekerja untuk kandidat presiden dari kubu Republik, Bob Dole, pada 1996. ''Hal itu merupakan alasan utama mengapa presiden mampu mengikis, atau hampir menghilangkan, celah gender bersejarah.'' Wapres Dick Cheney menyerang habis-habisan terorisme selama kampanyenya. September lalu, dia memperingatkan bahwa kemenangan Kerry bisa mengarah ke serangan ''menghancurkan dari sudut AS''. ''Negara memiliki banyak kegelisahan tentang aksi 11/9. saya kira hal itu merupakan salah satu kunci pemilihan. Yang pasti, peristiwa itu telah mendefinisikan kembali politik,'' kata sejarawan David Halberstam. Irak Poin Lemah Kedua pihak berbeda pendapat tentang apakah para kandidat memainkan isu terorisme secara berbeda. ''Jujur saja, presiden kita tidak menyadari atas terjadinya serangan 11/9,'' kata Jack Matlock, Dubes AS di Rusia semasa Presiden Ronald Reagan (Republik), seorang tokoh independen yang mendukung Kerry. ''Dia belum bersiap-siap untuk itu dan saya tidak tahu mengapa Kerry tidak berbuat lebih banyak.'' Para pengamat menyatakan Irak menunjukkan poin lemah bagi Bush. ''Masalah utama tentang Irak, bukan terorisme,'' kata Robert McNamara, menteri pertahanan mulai 1961 sampai 1968, kepada Reuters. ''Alasan utama perang itu adalah ancaman senjata pemusnah massal.'' Sejauh ini belum ada senjata semacam itu yang ditemukan di Irak. Conway mendapati bahwa, dari 17 persen pemilih yang mengganggap Irak sebagai isu paling penting, 75 persen di antaranya mendukung Kerry. Namun Bush berhasil mempertahankan fokus terorisme. ''11/9 menciptakan perasaan mudah terkena serangan. Pearl Harbor, misalnya tidak mampu menimbulkan perasaan semacam itu,'' kata sejarawan Anthur Schlesinger Jr, yang menjadi penasihat Presiden John Kennedy.(rtr-niek-46) |