logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 05 Nopember 2004 EKONOMI
Line

Order Jahitan Tak Seramai Lebaran Lalu

DUA pekan menjelang Lebaran beberapa rumah mode dan tailor tidak lagi menerima order jahitan. Permintaan membuat baju membuat para penjahit membatasi pesanan paling lambat 10 hari sebelum Lebaran.

Namun, sejumlah rumah mode dan tailor mengaku pesanan baju untuk berlebaran tahun ini tidak seramai tahun lalu.

Rumah Mode Saras di Jalan Pleburan Semarang, misalnya, menjelang Lebaran menerima banyak pesanan baju muslim.

Rumah mode itu juga memajang baju-baju muslim untuk pria dan wanita di ruang tamu butik. Sebagai pemanis busana, desainer rumah mode menambahkan payet dan benang emas sebagai ornamen. Hasilnya, kesan mewah melekat sangat kuat pada baju-baju berwarna kalem yang dipajang di lemari butik tersebut.

''Baju-baju yang dipajang ini siap untuk dijual,''kata Anna, salah seorang pegawai di Rumah Mode Saras.

Sementara itu Rahmat, pemilik Sarinah Taylor and Shop mengaku Lebaran kali ini pesanan jahitan tidak sebagaimana tahun lalu. Penjahit yang membuka rumah mode di Jalan Sriwijaya itu sejak 10 hari sebelum Lebaran sudah tidak lagi menerima pesanan.

''Tetapi sekarang kami masih menerima pesanan jahitan karena order tidak terlalu ramai,'' katanya.

Dengan mempekerjakan 30 karyawan ia menerima pesanan blazer, setelan rok dan blus, baju muslim, kemeja, celana, dan jas.

Penjahit yang memulai bisnis 20 tahun lalu itu memasang harga Rp 50 ribu untuk celana, blazer Rp 150 ribu, sedangkan setelan rok dan blus Rp 125 ribu/setel.

Terus Turun

Rahmat mengatakan order jahitan yang dia terima terus menurun sejak pemilu legislatif April lalu. Kelesuan itu berlanjut hingga sekarang.

''Beberapa tahun lalu setiap menjelang Lebaran order meningkat hingga 25%. Sekarang memang ada peningkatan dibanding hari-hari biasa, tetapi tidak sebesar itu,'' lanjutnya.

Hal senada disampaikan oleh Intifaah Maisuri pemilik Zaki's Embroidery yang membuka usaha di Perumahan Depag, Tambak Aji, Semarang.

Meski sejak tiga bulan lalu menerima order kain bordir dari Malaysia, pesanan tahun lalu masih lebih ramai dibandingkan dengan sekarang.

Menurut dia, pesanan bordir sebanyak 100 potong dari Malaysia itu didapat berkat mengikuti pameran di Bali, September lalu. Pesanan yang masuk ke butiknya kebanyakan memang bordir.

Ongkos bordir bervariasi mulai Rp 40 ribu sampai Rp 200 ribu. Khusus bordir model ghea pesanan pengusaha Malaysia, Intifaah memasang ongkos bordir Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu belum termasuk kain.

''Selain dari Malaysia, ada pesanan dari Bengkulu, Semarang, dan Ungaran,'' jelasnya.

Dalam satu bulan pemilik butik yang mempekerjakan 11 karyawan itu bisa meraih omzet tak kurang dari Rp 10 juta.

Namun Lebaran tahun lalu dalam hitungan Intifaah pesanan yang mampir ke rumah modenya jauh lebih ramai dari tahun ini. (Ninik Damiyati-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA