| Jumat, 05 Nopember 2004 | EKONOMI |
Waspadai Lalu-lintas TernakUNGARAN-Strategi pengendalian anthrax di daerah endemik atau tertular adalah membuat posko yang siap menerima dan mencari informasi tentang situasi penyakit tersebut, disusul dengan vaksinasi. Demikian dikemukakan oleh Prof HR Warsito MSc PhD, Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan di Kantor Dinas Peternakan Provinsi Jateng, Kompleks Pertanian Tarubudaya Ungaran, baru-baru ini. Pengarahan itu dihadiri oleh pejabat struktural di lingkungan Dinas Peternakan Jateng, 15 kepala dan kepala subdinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan di daerah yang endemik anthrax, serta kepala rumah pemotongan hewan (RPH). ''Siapkan data populasi ternak untuk kegiatan vaksinasi. Berapa yang dapat divaksin dan tidak, serta berapa yang telah divaksin,'' tutur Warsito. Menurut dia, tak kalah penting adalah mengadakan penyuluhan. Sebaiknya penyuluhan diserahkan kepada LSM, ulama, atau tokoh masyarakat, sedangkan pemerintah memfasilitasi. Selain itu, lalu-lintas ternak harus diwaspadai melalui pemeriksaan dan pengawasan. Posko tidak hanya untuk penyakit anthrax, melainkan untuk penyakit lain. Sementara itu strategi pengendalian anthrax di daerah nonendemik atau tak tertular terutama dilakukan melalui pengawasan dan pemeriksaan lalu-lintas ternak ''Baik di daerah endemik maupun nonendemik perlu dilakukan pemeriksaan terhadap ternak yang akan dipotong dan sudah dipotong di RPH, serta pemeriksaan daging yang beredar di pasaran,'' tambahnya. Ia berjanji akan menyiapkan vaksin anthrax sesuai dengan kebutuhan setiap daerah, terutama yang endemik anthrax. Drh Sugiyono Pranoto, Kepala Dinas Peternakan Jateng mengatakan saat ini di Jateng sudah disiapkan 20.000 dosis vaksin anthrax. Kebutuhan di daerah endemik berkisar 50.000 dosis sehingga masih kurang 30.000 dosis.(53) |