logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Nopember 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Gereget Kompetisi Liga Indonesia Terancam

-- Ketika pendulum krisis kepemimpinan di tubuh PSSI belum jelas ke arah mana bakal menemukan keseimbangannya, dunia persepakbolaan nasional diributkan oleh munculnya keinginan mengubah format kompetisi. Isu itu menambah jumlah persoalan yang harus diselesaikan oleh lembaga yang untuk sementara dipimpin oleh Pjs Ketua Umum Agusman Effendi ini. Padahal, mereka sedang dipusingkan oleh makin menguatnya keinginan banyak pengda yang meminta digelarnya munaslub dan kekecewaan beberapa pihak atas kinerja Bidang Liga, Komisi Disiplin, ataupun Komisi Banding. Pada sisi lain, prestasi persepakbolaan kita tetap belum beranjak, seperti kegagalan yang diperlihatkan tim nasional senior dan U-20 menghadapi lawan-lawan di tingkat Asia.

-- Pada pertemuan Asosiasi Pengelola Klub Sepak Bola Profesional (Akpro) di Surabaya akhir pekan lalu, sebagian besar peserta menegaskan aspirasinya agar Kompetisi Divisi Utama yang juga dikenal sebagai Liga Indonesia diselenggarakan dalam format dua wilayah. Usulan itu disertai gambaran kemungkinan jumlah peserta. Bila jumlah tim sama seperti sekarang, 18, dipandang frekuensi pertandingan tingkat wilayah kurang memadai sehingga pesertanya perlu diperbanyak. Muncul usulan menaikkan jumlah anggota Divisi Utama menjadi 24 atau 28. Bila usulan itu diakomodasi, jumlah klub di tingkat wilayah menjadi 12 atau 14 kesebelasan. Pada awal bergulirnya KLI, pembagian wilayah memang digunakan. Model ini baru berganti dengan sistem satu wilayah sejak KLI IX 2003.

-- Untuk negara yang memiliki karakteristik khusus wilayah, merumuskan format kompetisi bukanlah sesuatu yang sederhana. Brasil yang memiliki hutan luas dan terkonsentrasinya pembinaan pada kawasan tertentu, baru berhasil menggulirkan kompetisi nasional pada awal 1970-an saat mereka sudah berstatus juara dunia tiga kali. Namun, kejuaraan pada tingkat provinsi tetap mendapat porsi yang strategis. Di Eropa yang negara-negaranya relatif tidak luas, mereka sampai merasa perlu membuat kompetisi tingkat benua berformat semiliga, bukan lagi sistem gugur. Mereka menafikan panjang dan ketatnya kompetisi domestik, serta tidak bersahabatnya musim dingin. Indonesia yang luas dan terdiri atas banyak pulau, tentu juga sah-sah saja untuk ''merenungkan'' bagaimana seharusnya format kompetisinya.

-- Namun, ketika sistem Kompetisi Divisi Utama digagas lagi saat ini, rasanya tidaklah tepat. Usulan itu menyangkut dimensi etis dan strategis. Sekarang kompetisi belum selesai. Persaingan menuju ke perebutan posisi akhir mencapai tahap klimaks. Saling sodok memperebutkan juara dan pertarungan untuk menghindari jurang degradasi sedang seru-serunya. Gereget kompetisi, terutama dalam persaingan untuk tetap bertahan di Divisi Utama, bisa terganggu akibat munculnya usulan itu. Jelas tidak etis mengusulkan jumlah peserta bertambah saat ini, apalagi pengusulnya adalah Akpro yang beranggotakan tim-tim Divisi Utama dan Divisi I. Usulan itu seakan mengecilkan Kompetisi Divisi I yang telah selesai dan mengurangi derajat persaingan di Divisi Utama yang memasuki tahap akhir.

-- Dari dimensi strategis, kompetisi adalah puncak pembinaan yang seharusnya mengedepankan faktor ''pengalaman'' dan tujuan. Liga Indonesia pernah mencoba sistem dua wilayah selama delapan musim kompetisi. Cara seperti itu lebih mirip turnamen yang memang punya keunggulan pada ''derajat ketegangan''. Partai final yang merupakan puncak kompetisi memberi hiburan tersendiri. Akan tetapi, kebanyakan kompetisi menganggap semua pertandingan sama penting sehingga dinamikanya terjaga sejak awal lewat pergeseran posisi dalam klasemen. Dengan sistem ini, yang ingin dituju adalah pematangan pemain ataupun klub dari aspek teknik sampai keuangan. Perencanaan mantap dan mentalitas bahwa semua pertandingan penting menjadi unsur sentralnya.

-- Di negara yang sepak bolanya sudah maju, keinginan untuk menyaksikan partai final juga ada. Namun, kompetisi tetap dijaga ''sakralitasnya'' sehingga partai final digelar untuk kejuaraan lain. Di Indonesia yang tidak mengenal musim dingin, aneh bila waktu satu tahun hanya cukup menggelar kompetisi liga. Romantisme partai final di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan bisa dirintis dengan menggelar Piala PSSI atau Piala Liga. Di Inggris, Piala Liga juga digelar, begitu pula Piala FA yang identik dengan Piala Jerman, Piala Prancis ataupun Piala Italia. Ide Akpro bisa diakomodasi dengan membentuk kejuaraan lain. Mengubah format kompetisi sekarang berarti juga mengurangi gereget dan tidak menyadari bahwa dengan penyatuan dua wilayah, satu tahap kemajuan sudah didapat.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA