| Rabu, 03 Nopember 2004 | NASIONAL |
Puasa dan Pendidikan AkhlakOleh: H Ibnu Djarir (Pengurus MUI Jateng)
PEMERINTAHAN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dengan Kabinet Indonesia Bersatu yang terbentuk pada bulan suci Ramadan (21/10), semoga mendapat inspirasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa. Hal ini berkaitan dengan misi kabinet tersebut yang ingin mengadakan perubahan di segala bidang kehidupan dalam rangka mengatasi krisis multidimensional. Semenjak pertengahan 1997 di negara kita terjadi krisis moneter, yang kemudian diikuti dengan krisis dalam bidang-bidang lain hingga akhirnya timbullah krisis multidimensional. Namun, akar dari segala krisis itu adalah krisis akhlak. Bagaimanapun bagus sebuah sistem, bila orang-orang yang menjalankan sistem itu rendah akhlaknya maka tidak ada artinya sistem yang bagus itu. Dengan kata lain, man behind the gun sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu program. Sebagai contoh, orang yang memiliki akhlak luhur, dalam keadaan lapar pun tidak akan berani mencuri barang orang lain karena takut berbuat dosa kepada Tuhan. Sebaliknya, orang yang sudah kaya yang tidak pernah menderita kelaparan tetapi masih juga mencuri harta kekayaan negara karena dia tidak takut berbuat dosa kepada Tuhan. Kesadaran untuk tidak berbuat jahat atau berbuat dosa kepada Tuhan adalah landasan kesadaran moral atau akhlak. Ibadah puasa mendidik umat manusia agar menjadi umat yang bertakwa. Sebagaimana tersebut dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya, "Hai orang-orang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu. Semoga kamu bertakwa." Orang yang bertakwa itu sejatinya pasti takut berbuat dosa kepada Tuhan, bahkan dia dengan sadar berupaya selalu menjalankan perintah-perintah Tuhan dan menjauhi semua larangan-Nya. Seorang intelektual muslim, Haji Agus Salim (almarhum), menyatakan yang dimaksud dengan takwa adalah sikap hati-hati dalam bertingkah laku untuk menjauhi dosa agar terhindar dari siksa api neraka. Dengan takwa itulah, manusia mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuat dosa. Pada masa sekarang, banyak orang sudah tidak takut berbuat dosa lagi. Pengetahuan agama yang dimiliki seseorang tidak menjamin menimbulkan kesadaran untuk tidak berbuat dosa. Ketinggian ilmu yang dimiliki seseorang termasuk ilmu agama, tidak selalu sejajar dengan ketinggian akhlak. Karena itu, pendidikan akhlak sangat penting dalam pembentukan karakter bangsa (nation and character building) karena kita menghendaki keterwujudan suatu bangsa beradab. Penyucian Jiwa, Raga, dan Harta Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ibadah puasa adalah agar orang yang berpuasa itu mampu menyucikan jiwa, raga, dan hartanya atau tazkiyatun nafsi, walbadani wal-amwali. Nabi Muhammad SAW telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadan untuk menyucikan orang yang berpuasa dari ucapan yang tidak berguna dan ucapan serta perbutan yang cabul dan untuk memberi makan bagi orang-orang miskin. Dengan demikian, puasa itu mengandung nilai pendidikan agar setiap muslim menyucikan jiwanya dari sikap mental yang tercela dan menyantuni orang-orang miskin. Para ulama mendefinisikan puasa sebagai perilaku menjauhkan diri dari makan dan minum (di siang hari) serta hal-hal yang dilarang oleh Allah. Jadi, hakikat puasa tidak hanya mencegah diri dari makan dan minum pada siang hari tetapi juga menjauhkan diri dari kejahatan dan kemaksiatan. Dalam bulan Puasa, di samping umat Islam membayarkan zakat fitrah, juga mereka membayarkan zakat mal (harta) jika telah mencapai nisab dan haulnya. Hal ini tidak lain agar mereka setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, jangan sampai ada ganjalan karena harta bendanya belum dizakati. Zakat mal adalah untuk menyucikan harta benda orang Islam. Nilai-nilai pendidikan ibadah puasa bukan untuk diwujudkan dalam Ramadan saja, melainkan untuk diterapkan dalam bulan-bulan lainnya sepanjang tahun dan seterusnya. Dengan demikian, ibadah puasa Ramadan merupakan metode yang paling tepat untuk pendidikan akhlak manusia asal segala aturannya ditaati. Untuk mewujudkan bangsa beradab perlu manusia-manusia yang berakhlak mulia baik bagi segenap rakyat Indonesia maupun para penyelenggara negara. Adanya kontrak politik bagi para menteri dan para pejabat eselon atas dalam era pemerintahan SBY-JK merupakan langkah positif untuk memulai program pemberantasan KKN secara konkret, yang berarti bukan sekadar slogan untuk mendapat dukungan rakyat. Rakyat telah capai mendengar slogan pemberantasan KKN pada masa-masa lalu. Jika betul-betul mau memberantas KKN, saya kira beribu-ribu pejabat akan masuk penjara. Lihat saja pejabat-pejabat yang kaya raya dan bandingkan dengan penghasilan resminya. Sampai sekarang, mereka masih lenggang-lenggang kangkung tak tersentuh hukum. Rakyat benar-benar menghendaki perubahan, dalam hal ini perubahan dalam penegakan hukum yang adil dan tidak pandang bulu. Sebagi suatu test case dalam masa pemerintahan SBY-JK, kini sedang ramai-ramai dilaksanakan pendaftaran penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Apakah dalam pelaksanaannya benar-benar sudah bisa bebas dari KKN? Bila masih ada uang pelicin dan nepotisme (sistem famili/konco/golongan) maka rakyat sudah tidak tahu lagi ke mana hendak mengadu. Pandangan Imam Ghozali Berbicara masalah akhlak, Imam Ghozali dalam bukunya Ihya Ulumiddin bagian Bidayatul Hidayah memberi petunjuk tentang pengamalan al-akhlaqul karimah (budi pekerti yang luhur). Ringkasnya, seseorang yang ingin memiliki akhlak yang mulia, di samping harus memiliki hati suci, juga harus mampu mengendalikan semua anggota tubuhnya. Pertama, mata, jangan untuk menatap wanita yang bukan muhrimnya. Dan tentunya juga wanita, tidak boleh menatap pria yang bukan muhrimnya. Jangan melihat benda yang menimbulkan nafsu syahwat. Jangan melihat orang lain dengan rasa benci, mengejek, menghina, atau sinis. Kedua, telinga, jangan untuk mendengar omongan yang kotor atau jorok. Jangan mendengarkan pertengkaran, umpatan, caci maki, dan cerita tentang aib orang lain. Ketiga, lidah, jauhilah berkata dusta, melanggar janji, memfitnah, bertengkar, memuji diri sendiri, mengutuk, mencela, mengejek, dan berbicara cabul. Keempat, perut, jauhilah makanan dan minuman yang haram atau diperoleh dengan cara yang haram dan janganlah makan dan minum berlebih-lebihan. Kelima, alat vital, janganlah berbuat zina, bersodomi, homoseks, dan lesbian. Keenam, tangan, jangan untuk menerima harta yang tidak halal, mencuri (korupsi), menyakiti orang lain, menulis dan menggambar porno, menyentuh hal-hal yang dilarang. Ketujuh, kaki, jangan untuk memasuki tempat-tempat mesum, mendekati penguasa lalim, dan memenuhi panggilan penguasa lalim. Itulah petunjuk praktis dari Imam Ghazali yang mudah diingat-ingat bagi siapa pun yang ingin memiliki akhlak mulia.(78j) |