logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Nopember 2004 NASIONAL
Line

TKI Beramai-ramai ke Malaysia

Ringgit yang Bikin Mereka Betah di Sana


TKI BERMASALAH: Sunarti (berjilbab), TKI asal Desa Ngasinan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, berbincang dengan Kepala Dinas Tenaga Kerja Jateng Diah Anggraeni. Dia merupakan satu di antara 102 TKI bermasalah yang dipulangkan .(79) - SM/Rukardi

ADA raut yang nyaris seragam tiap kali para calon tenaga kerja Indonesia (TKI) ditanya alasannya tertarik kerja di Malaysia. Jawabannya memang bisa beragam, tetapi raut bingung jelas tak bisa disembunyikan. "Apa ya? Ya, cari pengalaman," ujar Yanti (23) dan Diana singkat, di Bandara A Yani Semarang, Senin malam, saat akan diberangkatkan ke Malaysia bersama 102 TKI lainnya. Keberangkatan mereka dilepas oleh Wagub Ali Mufiz.

Dari sejumlah komentar yang bernada serupa itu, hanya Hayati (23), TKI asal Boyolali, yang menegaskan alasan beberapa TKI yang sudah pernah mengenyam manis getirnya kerja di Malaysia. Seperti sebagian TKI asal Jateng lain yang ingin mengulang pengalaman di negeri seberang, Hayati punya kenangan yang memaksanya ingin kembali. Setahun lalu dia pernah mengais ringgit di salah satu perusahaan elektronik milik Jepang di Sungai Way, Selangor. Karena pabrik bangkrut, dia terpaksa pulang meski kontraknya belum selesai.

"Di sana ada PPMI, jadi betah serasa di rumah," jelasnya. PPMI? Gadis berkain penutup kepala itu menggambarkan layaknya sebuah keluarga. PPMI atau kependekan dari Persatuan Pekerja Muslim Indonesia, bisa dikatakan organisasi yang lebih mirip arisan. Anggotanya tentu para pekerja migran asal Indonesia di Malaysia.

Tak sekadar berkumpul, PPMI juga sering mengadakan acara khusus, seperti pengajian hingga acara jalan-jalan. Kedekatan emosional dengan rekan senasib di negeri tetangga itu yang membuatnya betah berlama-lama di Malaysia. Sembari memainkan ujung kain kerudungnya, Hayati mengaku, nyaman kendati kehidupan di negeri itu sebenarnya tak ada yang istimewa.

Kota Sungai Way, menurutnya, lebih mirip Tangerang. Tak ada yang istimewa, sehingga impian akan Malaysia dengan budaya dan alam yang berbeda dari Indonesia sempat buyar saat dia melangkahkan kaki kali pertama di negeri tersebut. Tapi yang membedakan, tentu saja sistem penggajian. "Yang jelas lebih banyak, selisihnya bisa sampai Rp 500.000 lebih," cetusnya.

Di antara 100 TKI yang berangkat melalui satu pintu di Bandara A Yani itu, gaji yang diterima bervariasi pada kisaran 400-800 ringgit Malaysia/bulan (Rp 900.000-Rp 2.000.000/bulan).

Yanti asal Cilacap, misalnya, akan menerima gaji penuh 400 ringgit/bulan (Rp 920.000), karena sebelum berangkat gadis berambut ikal itu telah melunasi biaya administrasi Rp 5 juta.

Sesuai dengan janji perusahaan, dia akan mendapatkan fasilitas asrama, sehingga pengeluaran pokok tiap bulan hanya dipotong 30 ringgit untuk biaya listrik. Yang lebih berpengalaman, bisa meraup gaji sampai 800 ringgit/bulan (Rp 1.840.000). "Untuk kebutuhan lain-lain, gaji bersih yang bisa diterima sekitar 550 ringgitlah," jelas Hayati. Jumlah itu membuat mereka mampu menyisakan gaji untuk menabung. (Renjani PS, Setiawan HK-69t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA