logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Nopember 2004 MURIA
Line

Dibentuk Tim Petani Kudus dan Grobogan

  • Atasi Pompa Liar di Saluran Klambu-Wilalung

KUDUS - Balai Pengelolaan Sumber Daya Air wilayah Sungai Serang, Lusi, dan Juwana (BPSDA Seluna) membentuk tim penanganan pompa air liar yang terdapat di sepanjang saluran Klambu - Wilalung dari unsur petani. Anggota tim tersebut berasal dari wilayah Kecamatan Undaan (Kudus) dan Kecamatan Klambu (Grobogan).

Pengoperasian sejumlah pompa diesel dengan kapasitas 8 dim di sepanjang jaringan saluran itu, sebagaimana diberitakan Suara Merdeka kemarin, mengakibatkan krisis air bagi areal yang terdapat pada bagian hilir (bawah) makin parah.

Para petani khsususnya di tiga desa, yakni Ngemplak, Wates, dan Karangrowo, Kecamatan Undaan, terlambat tanam bibit padi pada musim tanam (MT) I 2004/2005. Benih yang telah ditebar dan berumur 40 hari belum bisa dicabut untuk ditanam karena lahan masih kering tak dapat pasokan air.

Padahal, umur ideal benih tanam adalah 25 hari. Tak jelas kapan mereka bisa memulai tanam pada MT I tersebut, puluhan wakil petani tiga desa tersebut menggeruduk dan mengadu kepada anggota DPRD. Aksi dilakukan setelah penyelesaian pada tingkat bawah buntu.

Kepala BPSDA Seluna Ir Agus Purwadi CES mengemukakan, tim petani lintas kabupaten itu akan melakukan penertiban bersama terhadap keberadaan pompa air liar yang terdapat di sepanjang saluran irigasi Waduk Kedungombo. Pembentukan tim yang beranggotakan petani anggota Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) dua kecamatan bertetangga itu dipandang tepat.

Di samping pembentukan tim yang akan bekerja untuk kebutuhan jangka pendek, dalam waktu dekat juga direncanakan pembentukan asosiasi gabungan petani dua wilayah kecamatan itu yang terdapat di sepanjang jangkauan layanan/pasokan air irigasi dari saluran Klambu - Wilalung.

''Yang akan memfasilitasi pembentukan Induk P3A Saluran Klambu - Wilalung adalah Dinas PSDA Jateng. Dengan keterbentukan asosiasi gabungan atau untuk persiapan pembentukannya, diharapkan terealisasi pertemuan antara petani dan petugas pengairan tiap dua mingguan di tingkat jaringan,'' papar Agus Purwadi.

Ketua P3A Undaan Kaspono mengemukakan, permasalahan khususnya tiap kemarau panjang selalu muncul karena sistem irigasi Waduk Kedungombo tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan sejak proyek itu dibangun. Air yang ditampung waduk sering tidak mencukupi untuk memasok lebih dari 63.000 hektare areal sawah beririgasi teknis yang seharusnya dilayani.

Menurut keterangan, elevasi waduk tersebut saat musim kemarau panjang sering berada pada titik kritis. Padahal justru saat puncak kemarau itulah, petani sangat memerlukan bantuan air. Sebab, mereka jelas tidak mungkin berharap bantuan air hujan dan dari sungai-sungai kecil lain.

Di luar hubungannya dengan sistem irigasi Kedungombo, lanjutnya, pihaknya telah mengusulkan (secara lisan) kepada DPRD agar rencana pembuatan embung di Kali Bakinah (perbatasan Kecamatan Jati dan Kecamatan Undaan) Tahun Anggaran 2005 diloloskan. ''Sebab, embung ini akan bermafaat untuk mengatasi kekeringan, untuk mengairi sawah ataupun air minum warga,'' imbuhnya.(yit-15j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA