| Rabu, 03 Nopember 2004 | KEDU & DIY |
Ramadan, Perajin Peci Bernapas LagiSIANG itu seusai menunaikan Shalat Zuhur di mushala dan masjid, sejumlah warga Desa Bandung, Kecamatan Kebumen dan Desa Bojongsari Alian yang berdekatan, kembali bekerja membuat songkok alias peci. Kaum lelaki, termasuk bapak-bapak, duduk di kursi sederhana menjahit kertas karton. Selesai karton berbentuk lingkaran bulat telur dan kain tripot dijahit, segera mengambil beledu yang telah dijahit di atas kertas koran bekas. Pekerjaan itu dilakukan dengan cepat. Berhubung sudah terampil, hanya dalam hitungan menit sebuah peci dilapis beledu sudah jadi. Giliran para perempuan mengambil alih. Bisa istri, bisa pula anak-anak mereka. Kaum perempuan bekerja paling akhir, yakni menjahit ujung bawah peci sekaligus perapian atau finishing. Begitulah sehari-hari pemandangan di dua kampung yang menyatu dan populer disebut Desa Bandungsruni. Hampir di tiap rumah terlihat kesibukan serupa. Kaum ibu yang telah nenek-nenek pun ikut bekerja menjahit peci. Padahal, upah mereka tergolong tak seberapa. Untuk satu kodi berisi 20 peci, para perajin menerima upah Rp 5.000. Kadang dua hari bisa 10 kodi, namun yang belum lancar paling banter lima kodi atau 100 peci. Karena dibikin di rumah, dengan santai para perajin itu mengerjakan pekerjaan sambil ngligo alias tanpa baju. Samsudin (50), misalnya, warga Desa Bandung paling ujung timur itu malah tengah istirahat nglekar di lantai semen. Sehari 100 Peci Ketika Suara Merdeka datang ke rumahnya, Samsudin mengaku habis nglembur beberapa kodi peci. Dia dibantu beberapa anaknya bekerja dengan sistem borongan. Lelaki tersebut sudah puluhan tahun membuat peci. Sejak lulus SD tahun 1966-an, dia langsung menjadi buruh peci. Samsudin menyatakan, hidupnya tidak semujur temannya yang sudah menjadi juragan peci seperti H Ma'ruf, H Abas, atau H Muchlis. ''Saya ini bermodal dengkul. Sudah bisa begini Alhamdulillah,'' ujar bapak tujuh anak yang pernah merantau ke Jakarta, namun kembali menekuni membuat peci. Samsudin yang membikin peci paling murah, mengaku tiap dua hari bisa menyelesaikan 200 peci. Namun bagi pemula untuk jumlah yang sama bisa empat sampai lima hari. ''Jadi hasilnya sangat mepet,'' ungkap dia. Kerajinan membuat peci di desa berjarak sekitar lima kilometer timur dari kota Kebumen itu sudah lama tumbuh. Tepatnya tahun 1960-an. Konon kala itu ada warga Desa Bandung merantau dan mondok di Gresik, menjadi pedagang di Jakarta atau Lampung. Di antara mereka, ada yang bekerja menjadi pembuat peci di Gresik. Setelah pulang, ada satu-dua santri mencoba merintis membuat peci. Lama-kelamaan, perajin peci terus bertambah. Saat ini produksi peci Kebumen telah tersebar ke Lampung, Jakarta, Semarang, dan kota-kota lain di Jawa. Tiga Bulan Setelah beberapa puluh tahun industri rumah tangga peci, juga berkembang pula industri tas, sepatu, dan pakaian. Namun khusus industri peci, hanya marak pada bulan tertentu. Khususnya sejak bulan Rajab, Ruwah, dan Puasa. Maklumlah, hanya pada bulan itu pesanan berdatangan. Di luar bulan tersebut, seperti diakui oleh Tasrif (38), warga Dukuh Kedungbajul Bojongsari, mereka terjun ke sawah bertani atau kerja lain. Saat ini dibantu dua anak lelaki dan istrinya, mereka terus menerima pesanan. Bahan baku mulai beledu, kertas karton, kertas semen, dan benang dipasok dari para juragan. Di desa itu sudah ada dua-tiga orang sebagai majikan peci yang punya jaringan pemasaran di kota-kota besar. Soal harga jual, tentu para perajin tidak banyak tahu. Namun bisa dibedakan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, peci yang paling murah dengan bahan beledu kasar. Eceran biasanya dijual Rp 10.000. Adapun peci yang agak baik bisa dijual Rp 25.000, dan peci yang halus bisa laku di atas Rp 30.000. Peci buatan Bandungsruni itu selama ini juga menggunakan merk terkenal, mulai Ali Jufri, Presiden, Timun Mas, Kitab Suci, atau Qoblaf. Untuk sampai ke Desa Bandung, saat ini telah ada angkutan umum. Malahan jalan masuk ke desa sentra industri peci di Kebumen itu kini telah diaspal, meski sempit. Memang tidak semua perajin peci hidupnya sukses. Namun paling tidak, industri peci selama ini mampu menghidupi warga dan menciptakan lapangan kerja. Maka setiap memasuki bulan Ramadan, industri peci di Bandungsruni tersebut seperti bernapas kembali.(Komper Wardopo-76s) |