| Rabu, 03 Nopember 2004 | KEDU & DIY |
Didominasi Wisman DomestikYOGYAKARTA - Tingkat hunian hotel di Yogyakarta selama puasa ini hanya sekitar 50%, tapi pada Lebaran nanti mencapai 100%. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Stev B Indarto mengungkapkan kondisi tersebut kepada wartawan, kemarin. ''Pada masa puasa ini tingkat hunian hanya 50%. Namun, mulai 12-22 November, semua kamar hotel berbintang dan melati telah dipesan,'' jelasnya. Menurut survei yang dilakukan sejumlah pihak, di pusat kawasan hotel seperti Malioboro dan Prawirotaman, semua hotel kecil yang berkapasitas 20 kamar, habis dipesan wisatawan domestik. Menurut Indarto, setiap musim liburan khususnya Lebaran hingga tahun baru, kondisi serupa pasti akan terjadi. Yang tidak mudik Lebaran juga ikut berwisata ke Yogyakarta, sehingga tidak mengherankan kalau kota tersebut bakal penuh. Sejumlah humas hotel di Yogyakarta mengakui calon pengunjung sudah memesan kamar sejak pertengahan Oktober. Humas Hotel Jogjakarta Plaza Yustina Risnasari mengatakan, dari 129 kamar hotelnya, semua sudah penuh dari kelas standar sampai tertinggi. Naik Dia mengatakan, kenaikan tarif hotel untuk libur Lebaran Rp 100.000. Kendati demikian, para calon wisatawan tidak keberatan bahkan ada yang memesan untuk satu minggu. Hotel Ibis di Jalan Malioboro pun mengalami hal serupa. Menurut humasnya, Eunike Martani, 90% tamu yang memesan 148 kamar berasal dari Jakarta. Mereka mengaku sekadar berlibur bersama keluarga dan Yogyakarta merupakan tempat kondusif untuk berlibur. Humas Hotel Novotel Dyah Retno Wikan mengungkapkan, hampir 100% tamu hotelnya berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan beberapa dari Medan serta kota lain di Sumatra. Turis mancanegara hanya lima persen dari total tamu. Stev B Indarto menambahkan, kondisi seperti itu hanya terjadi pada saat-saat liburan. Pada hari biasa, tamu yang datang ke Yogyakarta lebih banyak dengan kepentingan bisnis. ''Semua hotel pada musim liburan penuh dan ada pihak yang ingin menambah jumlah hotel. Namun, melihat kondisinya, tampaknya kota ini sudah terlampau padat untuk kehadiran hotel baru. Hotel penuh saat liburan tidak bisa dijadikan patokan untuk membuat hotel baru,'' ujarnya. (D19-76e) |