logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 03 Nopember 2004 BANYUMAS
Line

Menggugah Orang untuk Sahur, Bersyiar lewat Kentungan dan Pantun

TEMBANG ''Ilir-Ilir'' yang diiringi musik kentungan, angklung, kendang, dan rebana terdengar sayup-sayup. Sekelompok warga terus berkeliling kampung bersyiar dengan melantunkan tembang, shalawat Nabi, berpantun, dan berpuisi.

Barisan pemusik itu tlasap-tlusup ke gang-gang. Pintu rumah penduduk diketuk hingga pemiliknya bangun. ''Saur, saur....!'' teriak salah satu dari mereka. Saat pemilik rumah membuka pintu dengan mata masih enggan dibuka karena kantuk, si penggugah langsung berakting membacakan pantun diiringi musik.

......

Makan bubur dengan es campur

Es campur kelapa dari Cibubur

Saur... saur... ayo... saur

Jangan lupa makan saur

Ting Tang Ting Tung

Ini musik bangunin orang saur

Orang lagi tidur segera bangun

Shalat malam dilaksanakan

Baca Alquran diseringkan

Hidupnya tenang penuh harapan

......

Itulah sekelumit bait pantun gubahan Wanto Tirta (35), tokoh yang melahirkan Kelompok Musik Suara Pinggiran RW 1 Desa Kracak Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Kelompok yang beranggota 20 orang itu selama Ramadan ini berkeliling membangunkan orang untuk makan sahur mulai dari pukul 01.00-03.00.

Menurut Wanto Tirta, salah satu misi Suara Pinggiran adalah menggugah hati warga untuk lebih menghayati puasa. Puisi dan pantun hanyalah sarana untuk menyampaikan nasihat kepada umat. Puisi-puisi tersebut antara lain berisi saran agar warga meningkatkan amal ibadah selama Ramadan, memperbanyak zikir, dan terus-menerus memohon ampun atas segala dosa selama satu tahun terakhir.

Terbiasa

Kegiatan membangunkan orang untuk makan sahur itu pernah dilakukan tahun lalu, tapi waktu itu cuma menggunakan musik kentungan dan rebana atau genjring. ''Kalau hanya kentungan itu biasa. Karena itu, kali ini selain ditambah kendang, angklung, terbang, juga baca puisi atau pantun,'' jelasnya.

Dia mengakui, pada awalnya warga kaget dan terbengong tak tahu maksudnya saat dibangunkan untuk makan sahur. Sebab, kelompok itu membangunkan warga sambil membaca puisi. Bahkan grup itu diolok-olok dan dibilang seperti orang gila karena malam-malam berteriak-teriak.

''Pada awalnya saya dianggap seperti orang gila karena malam hari berteriak-teriak tak jelas maksudnya. Namun, setelah berjalan seminggu, warga sudah tahu dan terbiasa,'' tuturnya.

Meski ada yang mencerca pada mulanya, Wanto yakin, puisi memiliki daya tinggi untuk menyentuh hati kaum muslimin yang menjalankan puasa. Apalagi, tembang dan puisi yang dilantunkan ketika membangunkan orang untuk makan sahur berisi nasihat-nasihat agama. Baginya, kegiatan bersama Kelompok Suara Pinggiran merupakan bagian dari syiar. ''Soal nasihat yang disampaikan melalui puisi dan tembang akan dijalankan atau tidak, itu terserah kepada setiap individu,'' ujar Wanto. (Sigit Oediarto-20e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA