| Selasa, 02 Nopember 2004 | PANTURA |
Kasus Pembunuhan NelayanWartono Ditusuk saat Tidur SiangKAJEN- Teka-teki kronologi pembunuhan anak buah kapal (ABK) Bintang Arindo di Perairan Sri Lanka akhirnya terjawab setelah para saksi memberikan keterangan kepada polisi, Senin kemarin. Setelah membunuh Wartono bin Sarji (44), warga Wonokerto Wetan, Trisno (33) tersangka pembunuhan mencoba bunuh diri dengan mencebur ke laut dan menggores lehernya dengan pisau. Beberapa ABK Bintang Arindo menceritakan kronologi terjadinya pembunuhan tersebut. Samari (27), salah seorang ABK menuturkan, pembunuhan tersebut diawali dengan terjadinya percekcokan pada Minggu pukul 04.00 antara Trisno dan Supri (30). Wartono kemudian datang melerai dan minta agar percekcokan dihentikan karena mereka teman. "Waktu itu Wartono sempat menasihati dan bilang tunggal perahu aja pada padu (satu kapal jangan bertengkar-Red)," ujar Samari. Namun Trisno sepertinya tidak puas dan mengira Wartono membela Supri. Hingga kemudian dia melaporkan kepada Wakil Nakhoda Dayono dan meminta agar dipindah ke kapal lain. Wartono yang piket jaga pada pukul 09.00-11.00 tak mengira jika Trisno dendam. Maka saat berganti piket dengan Trisno pada pukul 12.00, dia yang kelelahan dengan tenang tidur di dekat kamar kapten. "Tiba-tiba sekitar pukul 12.00 kami dan ABK lain yang sedang tidur di ruangan lain mendengar teriakan Wartono. Saat kami berlari menghampirinya, perut Wartono sudah bersimbah darah. Sementara beberapa orang melihat Trisno berlari ke ruang depan mengejar Mahendra (22), ABK lain yang tidur di ruang depan. Dia menusuk perut Mahendra namun ujung pisau patah sehingga hanya melukai tangannya. Waktu itu aksi Trisno dilihat oleh Ciswanto alias Buncis, sehingga dia lari dan menceburkan diri ke laut sambil membawa pisau." Melihat Trisno menceburkan diri ke laut, Ciswanto bersama ABK lain meminta kepada juru mudi agar memutar kapal untuk menolong Trisno. Dengan bantuan pelampung Trisno akhirnya bisa diangkat namun lehernya sudah berdarah karena goresan pisau. "Begitu diangkat Trisno pingsan satu hari satu malam, karena kami takut akhirnya dia kami ikat dengan rantai," tutur Sahrozi (28), ABK lain. Adapun Wartono yang ditusuk perutnya oleh tersangka mampu bertahan empat jam, sampai kemudian mengembuskan nafas terakhir pada pukul 16.00 di atas kapal. Sebelum meninggal, Wartono mengatakan penyesalannya kenapa Trisno melakukan hal itu. "Waktu itu Wartono sempat bilang, aku salah apa kok Trisno kejem temen karo aku, anakku cilik-cilik (aku salah apa kok Trisno tega sekali dengan saya, anak saya masih kecil-kecil-Red)," tutur Sahrozi menirukan kata-kata terakhir Wartono. Tertangkap Petugas Kapal yang sebenarnya hendak berlabuh ke Muara Baru, menurut dia, kemudian tertangkap petugas perairan di pelabuhan Merak yang waktu itu menggunakan kapal KPLP Trisula. "Rabu siang (27/10), kapal kami tertangkap operasi dan diamankan petugas. Jenazah korban divisum dan dikafani, kemudian Rabu malam dibawa ke Wonokerto," ujar M Nuhari (22), ABK lain. Sementara menurut ABK Kasdono (25), yang bertugas sebagai koki mengatakan, sebelum pembunuhan, Trisno berlaku aneh. "Tiga hari dia selalu diam dan tak mau bicara, bahkan saat makan tak mau pakai lauk," ujarnya. Sementara itu, menurut Kasat Reksrim Polres Pekalongan AKP Usup Sumanang SH, para saksi secara bergantian akan diperiksa. Adapun tersangka sampai saat ini masih dirawat di Puskesmas Kajen.(G16-14s) |