| Selasa, 02 Nopember 2004 | WACANA |
George W Bush di Ujung Tanduk ?Oleh: Eddy MaszudiPOSISI George Walker Bush dan Dick Cheney sebagai pasangan Capres Cawapres dari Partai Republik benar-benar di ujung tanduk dalam Pemilu yang berlangsung hari ini, 2/11/2004. Sebagai orang nomor satu di AS dan dunia internasional, Bush Jr menginvasi Irak dan Afghanistan penuh dengan kontroversi dan kebohongan. Kebijakan luar negeri dengan doktrin preemtive strike ini berakibat blunder bagi nama baik AS di dunia Internasional, khususnya di dunia Islam, negara-negara berkembang maupun di mata rakyat AS sendiri. Bila selama ini AS mengklaim sebagai penyebar, pelindung, penjaga dan terdepan dalam praktik demokrasi. Maka kebijakan AS di Afghanistan dan Irak sangat bertentangan dengan nilai-nilai dasar demokrasi itu . Oleh karenanya, lewat pemilu ini rakyat AS akan memberikan suaranya kepada pemimpin yang gagal menciptakan lapangan kerja, gagal di bidang ekonomi, atau kepada pasangan John Kerry dan John Edward calon pemimpin baru AS yang lebih visioner, konsen terhadap demokrasi, HAM dan tata dunia baru yang adil untuk semua bangsa dan negara. Di Ujung Tanduk Ada lima faktor mengapa George W Bush sebagai Presiden AS berada dalam posisi di ujung tanduk dalam Pemilu ini. Pertama, Presiden Bush Jr telah berbohong kepada dunia internasional bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Pengakuan Penasihat Keamanan Nasional AS Condoleezza Rice membuat heboh. Dalam tulisan di The New York Times (3/10) disebutkan, Rice sebetulnya mengetahui, sebelum invasi AS bulan Maret 2003, Irak tidak sedang membangun program persenjataan nuklir. Padahal alasan utama invasi AS ke Irak adalah rezim Saddam Hussien dianggap mempunyai senjata pemusnah massal. Juga Saddam mempunyai hubungan dengan Usamah Bin Ladin. Tuduhan ini sampai sekarang tidak terbukti. Kedua, invasi AS ke Irak dan Afghanistan membuat negara-negara di dunia resah. Sebab negara-negara yang berbeda pendapat tentang bagaimana memerangi terorisme internasional, sewaktu-waktu bisa mengalami nasib seperti Irak dan Afghanistan. Sekarang ini negara seperti Iran, Suriah, Libya, Palestina bahkan Indonesia bisa mengalami nasib yang sama dengan negeri seribu satu malam. Di mata AS negara-negara tersebut adalah sarang teroris dan menentang utama invasi AS ke Irak. Padahal masalah terorisme adalah masalah perlawanan bawah tanah yang dilakukan si lemah ketika berhadapan dengan si kuat yang berlaku semena-mena. Presiden AS Geogre Walker Bush tangal 17 September 2002 menyampaikan laporannya tentang The National Strategy of the United State of America, yang intinya lebih menekankan pada perang melawan terorisme. Terdapat nuansa aneh dalam stategi keamanan nasional AS yang disampaikan Bush tersebut, yakni menyamakan teroris dengan tiran. Jadi pasca Tragedi WTC 2001, Presiden Bush Jr bingung menghadapi ancaman secara paradigmatik. Terorisme adalah ancaman yang menyerupai bayangan, padahal dalam menghadapi bayangan senjata secanggih apa pun tidak akan efektif. Ketiga, rendahnya prestasi ekonomi Presiden Bush. Di masa pemerintahan Bush Jr ekonomi AS mengalami kelesuan yang sangat luar biasa. Munculnya skandal keuangan terbesar dengan tumbangnya perusahaan-perusahaan raksasa seperti Enron (melibatkan Geogre W. Bush), Woldcom dan Global Crossing adalah bukti AS sekarang ini bukan kiblat dari praktik clean and good governance. Padahal masalah ekonomi selama ini adalah kunci utama bagi kandidat Presiden di AS untuk menduduki kursi di Gedung Putih. Lihat bagaimana rakyat AS memilih Bill Clinton untuk keduakalinya dengan alasan Bill Clinton adalah presiden AS yang sukses dalam bidang ekonomi. Lemahnya prestasi ekonomi Bush Jr akan menjadi makanan empuk bagi lawan politiknya Keempat, perang melawan terorisme internasional tidak membuat dunia semakin aman, damai, akan tetapi AS telah berubah dari "pendekar demokrasi" menjadi aktor state terorism yang sangat membahayakan bagi masa depan perdamaian internasional. Sekarang ini watak Israel yang tetap menjajah bangsa Palestina, sama dengan karakter atau watak AS di bawah Bush jr yang tidak mau keluar dari Irak. Oleh karena itu mempercayai AS sebagai polisi dunia sama saja mempercayai Israel yang akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Palestina. Kelima, kebangkitan kubu demokrat yang mempunyai jagoan baru, dan mampu memberikan jalan aternatif bagi masa depan AS pasca Tragedi WTC, 9-11-2001. Pada bagian yang lain publik negeri Paman Sam mulai sadar, bahwa George Bush sebagai presiden AS yang terpilih empat tahun lalu adalah pembual, dan telah membawa bangsa dan negara AS sebagai sumber ancaman negara-negara lain. Doktrin Preemtive Strike Bush Jr sangat membahayakan bagi eksistensi PBB dan perdamaian internasional. Budaya Politik AS Dalam budaya politik AS sebetulnya hanya adalah dua partai yang dominan, yakni Partai Republik dan Partai Demokrat. Sedangkan Partai Hijau, Partai Liberal, maupun kubu independen belum pernah mencicipi kursi kepresidenan selama kurang lebih 300 tahun bangsa AS berdiri. AS yang mempunyai penduduk 250 juta adalah negara pluralis. Akan tetapi warganegara AS keturunan Anglo Saxon adalah yang dominan. Memang sekarang ini bangsa-bangsa seluruh dunia telah berimigrasi ke negeri Paman Sam untuk mendapatkan harapan baru. Sedangkan penduduk asli seperti suku Indian, suku Astek, menjadi kelompok minoritas dan marjinal. Partai Republik mempunyai ideologi konservatif, lebih suka perang dalam menyelesaikan masalah, perbedaan pendapat dengan negara lain.Dalam sejarah negara ini, kelompok konservatif dulunya adalah pendukung perbudakan yang mempunyai basis di Amerika Serikat bagian Selatan. Partai Demokrat mempunyai ideologi liberal yang tidak menyukai perang, pro perdagangan bebas, lebih suka menyukai pendekatan diplomasi dalam mengatasi masalah hubungan internasional. Partai Demokrat dan Partai Republik dalam sepanjang negeri Paman Sam berdiri, sama-sama sepakat untuk mengabdi kepada hal yang sama yaitu menjadikan AS sebagai negara super power baik itu di bidang ekonomi, militer dan teknologi serta melindungi bangsa Yahudi. Jadi perbedaan Partai Republik dengan Partai Demokrat hanyalah pada masalah strategi di lapangan. Bila kubu Republik berkuasa maka kebijakan main tembak, melanggar hukum internasional dan melakukan invasi ke negara asing adalah hal yang biasa. Sedangkan Kubu Demokrat berkuasa lebih suaka melakukan embargo ekonomi, mengkaitkan masalah perdagangan internasional dengan negara-negara berkembang dengan HAM dan demokrasi. Padahal kekuatan internasional pasca tumbangnya Uni Soviet sebagai negara adi daya sudah bergeser. Peta politik internasional sekarang ini mulai bergeser dari Uni Polar ke multi polar. Memang AS tetap negara nomor satu, tapi kekuatan baru sekarang ini sedang tumbuh dinamis dan siap menjadi pesaing AS. Uni Eropa sekarang mulai menjaga jarak dengan AS masalah ekonomi dan kritis terhadap politik luar negeri AS. Jepang tetap menjadi penantang utama AS dibidang ekonomi. Sedangkan RRC yang mulai mematuk, tampaknya akan menjadi negara super-power baru yang siap berhadapan dengan AS .Sedangkan India, Brazil, Indonesia, Pakistan, Kanada dan negara-negara berkembang mulai meneriakkan perlunya tata dunia baru. Tata dunia lama hasil Perang Dunia II (1945) sudah usang dan harus direformasi, bila PBB ingin tetap berwibawa di hadapan lebih dari 190 anggotanya. Sikap keras AS untuk mempertahankan sistem tata dunia lama, akhirnya hanya membawa dunia dilanda aksi terorisme. Padahal bila AS bersikap demokratis, maka terorisme tidak akan muncul dan AS tidak terjebak sebagai negara imperialis baru. Jadi untuk mengurangi sikap konservatif bangsa AS adalah adanya pergantian kepemimpinan nasional lewat pemilu dan mengubah paradigma sistem pertahanan dan keamanan AS. Tabu Dalam budaya politik AS dikenal lima hal yang tabu dibicarakan, atau dibongkar. Satu, tidak boleh mengotak-atik hak-hak istimewa bangsa Yahudi baik itu di bidang ekonomi dan lobi. Dua, presiden AS harus laki-laki. Tiga, presiden AS harus keturunan Inggris atau Anglo Saxon. Empat, presiden AS harus beragama Protestan/Anglikan. Lima, AS akan tetapi melindungi bangsa Israel, siapa pun yang berkuasa. Hal yang tabu ini dalam konstitusi AS memang tidak ada. Akan tetapi bila kita mengamati secara jeli, maka hal-hal yang tabu tersebut benar-benar ada. Lihat bagaimana Presiden Kennedy yang beragama Katholik harus disingkirkan, dan lobi Yahudi adalah pemegang utama setiap kebijakan politik luar negeri AS. Dengan demikian, budaya politik AS yang selama ini kita jadikan kiblat dari praktik demokrasi modern sebetulnya penuh dengan bopeng. Oleh karena Indonesia yang sekarang ini sedang membangun sistem politik yang demokratis, tidak harus mengadopsi sistem politik, dan budaya politik AS yang penuh dengan hal-hal yang tabu. Apalagi AS yang sekarang ini sangat arogan dalam menyikapi masalah tuntutan masyarakat internasional untuk restrukturisasi dan demokratisasi DK PBB. Sebagai penantang Presiden Bush yang populer sebagai pemimpin yang kuat, tegar dan mampu "menyatukan" rakyat AS untuk melawan terorisme internasional, maka John Kerry harus mempunyai strategi yang jitu agar citra sebagai calon presiden AS yang jujur bisa menarik simpati publik AS. Sebetulnya posisi Kerry sekarang ini diuntungkan dengan terbongkarnya kebohongan Bush sehubungan dengan invasi ke Irak dan masalah kepemilikan Saddam akan senjata pemusnah massal. Kerry sebagai orang yang pernah berkarier dalam militer harus mampu memberikan strategi alternatif agar perang melawan terorisme internasional lebih berwajah humanis, tidak melanggar HAM. Sedangkan di bidang ekonomi kandidat dari Partai Demokrat ini harus mampu menciptakan iklim baru sehingga ekonomi AS lebih bergairah. Tantangan ke depan industri AS bagaimana negara ini sanggup menghadapi kebangkitan ekononi Uni Eropa dan serbuan barang-barang murah dari RRC ke seluruh dunia. John Kerry sebagai capres AS pilihan warga internasional harus bisa belajar banyak dari hasil pemilu Australia di mana kubu Konservatif akhirnya tetap memimpin. Padahal Howard juga pembohong seperti halnya Bush jr. Dengan demikian dukungan warga dunia kepada Kerry belum cukup, sebab warga AS yang masih trauma dengan Tragedi WTC, bisa menjadi bumerang bagi Kerry. Tapi bila John Kerry mampu mengalahkan Bush Jr maka akan muncul harapan baru yang lebih baik bagi perdamaian internasional, penarikan mundur pasukan AS dari Irak berkurangnya aksi terorisme internasional. (18) -Eddy Maszudi, Pengamat Masalah Politik Internasional dan Ketua Umum Centre Strategic for Development and International Relations (CSDIR) |