logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Nopember 2004 MURIA
Line

Gedung Kesenian Sosro Kartono

DIAM-DIAM Kudus ternyata telah memiliki gedung kesenian. Gedung - dengan kapital - kesenian baru tetapi lama. Maksudnya, gedung kesenian itu baru dalam hal peruntukannya, namun lama dalam hal keberadaannya. Lho kok? Ya, sebab gedung yang kabarnya segera akan diresmikan itu, hasil renovasi kantor tinggal eks Wedana Cendono, Dawe.

Muncul banyak pertanyaan seiring dengan kehadiran gedung kesenian itu. Mengapa tidak membuat gedung yang benar-benar baru saja? Mengapa seniman - yang notabene kelak jadi ''pemiliknya''- tidak diajak berbicara? Mengapa tempatnya mesti di Cendono yang relatif jauh dari pusat kota? Pendek kata, sejumlah pertanyaan berlintasan di kepala.

Akan tetapi, mari berpikir positif dan bersikap sehat-sehat saja. Apa pun, kehadiran gedung kesenian yang konon akan diberi nama Sosro Kartono itu patut direspons dengan suka cita. Dengan demikian, paling tidak biaya sekian ratus juta sekian yang telah dikeluarkan tidak percuma.

Karena itu, sungguh sangat jauh dari niat menyoal, memprotes, lebih-lebih menggugat bila tulisan ini dibuat. Sebagai bagian dari berpikir positif dan bersikap sehat, siapa pun perlu diberi ruang kesempatan untuk terlibat serta peduli atas keberadaan gedung kesenian itu. Memberi masukan dalam bentuk kritik, mengingatkan atau pertanyaan adalah wujud konkret dari keterlibatan dan kepedulian dimaksud.

Siapa pun dia, yang merasa sebagai seniman Kudus, diniscayakan sangat menginginkan adanya sebuah gedung kesenian. Gedung kesenian dalam arti sebenarnya. Sebuah gedung yang layak sekaligus pantas disebut gedung kesenian. Bisa dimanfaatkan untuk aktivitas segala macam kesenian. Representatif. Terkait dengan hal itu, beberapa tahun silam Bung Supriyadi, seniman tari pemilik Sanggar Puringsari, bahkan telah menyiapkan rancang bangun gedung kesenian ideal yang dia gagas. Kalau tidak salah ingat, waktu itu tempat yang direncanakan sekitar kampus Universitas Muria Kudus. Namun, entah mengapa hal itu berhenti hanya sebatas gagasan. Tertuang di atas lembar kertas semata.

Tidak hanya seorang dua orang seniman yang menganggap akan perlu dan pentingnya gedung kesenian. Dalam setiap perbincangan di kaki lima dengan banyak rekan sesama seniman, tertangkap kuat betapa seniman-seniman Kota Kretek ini sangat merindukannya. Banyak harapan - bahkan impian - digantungkan pada keberadaan gedung kesenian. Dari masalah belajar dan pembelajaran seni, penyuburan talenta seniman atau calon seniman, hingga eksplorasi kreativitas individu seniman masing-masing cabang kesenian, terbayangkan bakal marak seiring sejalan dengan adanya gedung kesenian.

Namun, mesti diperhatikan terkait dengan gedung kesenian, yaitu kelangsungan keberadaan dan fungsinya. Berharap dan bermimpi sah-sah saja. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, khususnya oleh para seniman, adalah berkarya. Sebab, bukan harapan dan impian - apalagi omong doang - yang dapat menjaga kelangsungan keberadaan dan fungsi sebuah gedung kesenian tetapi karya. Sekali lagi, karya.

Ada dua hal sangat penting yang harus dipikirkan kapan kita bicara soal kelangsungan keberadaan dan fungsi gedung kesenian. Pertama, soal pemeliharaan. Benar, pemeliharaan fisik gedung, khususnya pendanaan, menjadi tanggung jawab Pemkab. Akan tetapi secara nonfisik, terutama yang bersangkut-paut dengan pemeliharaan dan penerapan tata krama serta estetika seluruh gedung, tentu tidak lepas dari tanggung jawab seniman. Dalam hal ini seniman dituntut untuk tidak hanya bisa menggunakan secara rutin, namun juga harus mau menjaga sekaligus mengawal ketertiban serta tata krama di dalamnya. Mitos yang menganggap seniman tidak bisa tertib dan sopan adalah omong kosong.

Kedua, masalah agenda kegiatan. Demi menjaga fungsi gedung kesenian secara proporsional dan profesional, agenda kegiatan seyogianya dirancang dengan memperhatikan asas pemerataan berkeadilan. Sekadar informasi, di kota ini hidup ratusan komunitas ragam kesenian. Dengan memperhatikan asas pemerataan berkeadilan diharapkan akan tersusun agenda kegiatan yang dapat memberi kesempatan sama kepada semua komunitas untuk tampil sebagai pengisi kegiatan secara berkala.

Masalah yang dikemukakan di atas, jauh-jauh waktu perlu dipikirkan serius. Realitas mendedahkan, karena abai terhadap hal itu, banyak gedung kesenian di kota-kota lain yang kondisinya amat menyesakkan: mangkrak, terbengkelai, atau beralih fungsi menjadi gedung untuk resepsi mantenan. (90j)

- Penulis adalah penyair, Ketua Keluarga Penulis Kudus, dan guru SMP 3 Kudus.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA