| Selasa, 02 Nopember 2004 | MURIA |
Pondok MUS dan MIS Sarang Kian BerkembangBanyak Pejabat Negara yang DatangKALA itu ada sesosok dermawan yang gemar mendermakan hartanya untuk melestarikan dan mengembangkan ajaran mulia Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah KH Ghozali (Saliyo bin Lanah) yang hidup di daerah perbatasan Jateng dan Jatim, di Kecamatan Sarang, Rembang. Uluran tangan KH Ghozali terhadap masyarakat Sarang cukup banyak. Di luar itu, masih ada perjuangan untuk umat Islam yang dirintis oleh kiai dermawan tersebut melalui pendirian sebuah surau. Setelah surau itu jadi, oleh KH Ghozali dimanfaatkan untuk shalat berjamaah dan mengajarkan agama Islam kepada para pengikutnya (santri). Dari hari ke hari, pengikut kiai dermawan itu semakin bertambah sehingga membutuhkan tempat untuk mengajar yang lebih besar. Karena itu, dari sebuah bangunan surau terus dikembangkan menjadi pondok pesantren. Namun belum selesai perjuangannya, pada 1859 KH Ghozali dipanggil oleh Yang Mahakuasa. Meski Kiai Ghozali telah tiada, bukan berarti pondok pesantren itu tutup. Perjuangan Kiai Ghozali diteruskan oleh menantunya yang bernama KH Umar bin Harun. Sejak itu, nama pondok pesantren Sarang semakin dikenal oleh banyak orang baik masyarakat lokal maupun luar daerah. Pada saat pondok pesantren berkembang, Kiai Umar tak lagi sanggup meneruskan perjuangan orang tuanya karena sakit. Kemudian beliau meninggal pada 1890. Setelah pergantian kepemimpinan, kendali pesantren dipegang oleh KH Fathurrohman (putra KH Ghozali) hingga 1962. Selanjutnya, pimpinan pesantren berikutnya adalah KH Syu'aib yang dibantu oleh dua putranya, KH Achmad dan KH Imam Kholil. Setelah Kiai Syu'aib meninggal, pondok pesantren Sarang itu dibagi menjadi dua, yaitu Pondok Pesantren Ma'had Ilmisy Syar'i (MIS) yang diasuh oleh KH Imam Kholil dan Pondok Pesantren Ma'hadul Ulumisy Syar'iyyah (MUS) yang diasuh oleh KH Achmad dan KH Zuibair Dahlan. Generasi pimpinan berikutnya adalah KH Abdurrochim. Itulah sejarah berdirinya Pondok Pesantren Sarang khususnya MIS dan MUS yang kini semakin berkembang dan dikenal banyak orang. Kini, pondok pesantren MUS diasuh oleh KH Moh Said AR dan dibantu oleh KH Adib AR dan KH Ma'ruf. Selama Ramadan, kegiatan di Pondok Pesantren MUS tidak diliburkan. Menurut keterangan Gus Adib (KH Adib AR), khusus untuk Ramadan dilaksanakan kegiatan pembelajaran kitab-kitab seperti tafsir Al Jalain, Al Kawakib Al Lama'ah, Al Adzkar Al Nawawiyyah, Al Mawabib Al Saniyyah, Is'afu Ahli Al Iman, Arba'in Al Nawawi, Jawahir Al Bukhori, Al Ushfuriyyah, Uqud Al Lujain, dan Al Asymawy. Disinggung soal jumlah santri, Gus Adib mengatakan, secara keseluruhan jumlah santrinya ada 1.200 orang, terdiri atas 925 santri putra dan 275 santri putri. ''Jika dihitung dengan santri tak tetap (santri yang tinggal di rumah masing-masing), jumlahnya bisa lebih besar lagi,'' ucap Gus Adib. Terlepas dari semua itu, yang jelas Pondok Pesantren MUS dan MIS yang lokasinya satu kompleks itu sudah melahirkan ratusan kiai sehingga menambah kewibawaannya. Terbukti, banyak pejabat negara yang datang di pondok tersebut. Karena itu Pemkab Rembang berkewajiban melestarikan pondok tersebut. (Djamal A Garhan-90j) |