| Selasa, 02 Nopember 2004 | MURIA |
Dishubpar Sediakan Tenda di Terminal SlekoPATI- Untuk mengantisipasi pemudik Lebaran 1425 H, yang masuk ke Terminal Bus Sleko, Pati, tapi waktunya terlalu malam, Dinas Perhubungan dan Pariwisata (Dishupar) akan memasang tenda mulai H-7. Dengan demikian pemudik yang datang dengan kendaraan bus, bisa istirahat sejenak untuk menunggu kendaraan yang akan membawa mereka kembali ke tempat asal. Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Ir Suharyono MM mengatakan hal tersebut, kemarin. Terlepas fasilitas yang disediakan itu dimanfaatkan oleh para pemudik atau tidak, pihaknya berusaha memberikan pelayanan optimal. Berdasarkan pertimbangan, bila armada bus bagi penumpang yang ditumpangi masuk terminal terlalu malam, seharusnya memanfaatkan fasilitas tersebut. Selain mereka bisa beristirahat, juga akan lebih baik bila menunggu kendaraan yang membawa mereka ke tempat asal pada pagi hari. Alasannya, selain perjalanan jauh untuk mudik dari Sumatera atau Jakarta sudah dilewati, mengapa tidak bersabar menunggu kendaraan penumpang umum yang akan membawa mereka ke desa asal. Dengan kata lain, meskipun untuk keperluan itu mereka yang datang satu rombongan, bisa saja mencarter kendaraan lain. Namun, dari sisi biaya tentu akan lebih mahal bila dibandingkan dengan menggunakan kendaraan penumpang umum. Apalagi pengalaman yang sudah-sudah, ketika para pemudik berdatangan tentu banyak kendaraan yang sebenarnya bukan untuk penumpang umum banyak digunakan sebagai kendaraan carteran. ''Bila hal itu dilakukan pemudik dan terjadi hal-hal yang membahayakan, yang rugi mereka sendiri,'' ujarnya. Ojek Lebih riskan lagi, kata Suharyono, bila pemudik tiba di terminal pada malam hari, karena buru-buru ingin sampai di rumah kemudian memilih untuk naik ojek. Hal tersebut bukan berarti pihaknya mendiskreditkan para tukang ojek, tapi demi mengutamakan keselamatan, misalnya terpaksa harus naik ojek pilihlah tukang ojek yang berpangkalan jelas. Di samping itu, juga pilihlah pengojek yang mempunyai kelompok resmi seperti yang tergabung dalam paguyuban atau perkumpulan ojek Terminal Sleko. Dengan demikian, identitas mereka bisa mudah dikenali. Sebab tidak tertutup kemungkinan dalam kondisi seperti itu bisa saja dimanfaatkan oleh orang yang sengaja ingin berbuat tidak baik. Apalagi sekarang banyak pemilik sepeda motor, sehingga pada saat puncaknya arus mudik mereka menjadi tukang ojek tiban, yang sama sekali tidak diketahui identitasnya. Karena itu, pihaknya mengimbau kepada para tukang ojek yang ada di setiap pos untuk membekali anggota kelompoknya dengan identitas. Misalnya, dengan membuatkan tanda anggota yang bisa dipakai dengan cara dikalungkan di leher. Identitas lain bisa juga dengan seragam kaus lengan panjang dilengkapi topi, sehingga memudahkan calon penumpang mengenali mana yang benar-benar tukang ojek atau tukang ojek tiban.(ad-90s) |