| Selasa, 02 Nopember 2004 | MURIA |
Petani Geruduk DPRD
KUDUS- Puluhan warga petani dari tiga desa yakni Ngemplak, Wates, dan Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus, kemarin menggeruduk Gedung DPRD. Mereka yang menumpang truk dan kendaraan pikap tersebut, menggelar poster, berorasi, dan wakilnya menyampaikan tuntutan kepada anggota DPRD. Aksi itu mereka lakukan karena pasokan air dari sistem/jaringan irigasi Waduk Kedungombo belum juga sampai di lahan mereka yang terdapat di paling hilir (bawah) di Kudus. Padahal, umur benih padi sudah kritis dan musim tanam (MT) 1 tahun 2004/2005 hampir lewat. Suplai air bagi areal di wilayah lumbung padi Kota Kretek itu tak lancar, antara lain disebabkan air yang didistribusikan lewat saluran irigasi Klambu-Wilalung diserobot oleh sejumlah pompa liar yang terdapat di jaringan itu. Keluhan akibat penyerobotan seperti itu selalu terjadi tiap musim kemarau berkepanjangan. Namun, kata sejumlah petani, mulai sekitar pukul 10.30 kemarin air sudah mengalir hingga saluran yang masuk lahan paling hilir waduk tersebut. ''Air baru sampai sini,'' cetus Rabo, petani di Desa Ngemplak. Sejumlah petani menyambut dengan sukacita kelancaran pasokan air itu. Benih di puluhan petak pembibitan di tiga desa (Ngemplak, Wates, dan Karangrowo) kini rata-rata berumur 40 hari. Bila ditanam dengan umur tersebut, kemungkinan bisa tumbuh sempurna teramat sulit. Idealnya, umur benih dicabut lalu ditanam saat berumur 25 hari. Lima wakil petani yakni Rahmadi (Kades Karangrowo), Abu Bakar, Jambari, Siswoto, dan Sarijo diterima anggota DPRD yang dipimpin ketuanya, Drs Asyrofi Masytho. Hadir Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Undaan, Kaspono, Kasi Operasional dan Pengelolaan Data (OPD) Balai Pengelolaan Sumber Daya Air wilayah Sungai Serang, Lusi, dan Juwana (BPSDA Seluna) V Doko Wintarto, Kabid Pengairan DPUK Arumdiyah, Kepala Kesbanglinmas Supardi, Camat Undaan Ali Rifa'i, dan Kapolsek AKP Ramainulis. Bentuk Tim Mempertegas penjelasan wakil petani Abu Bakar, anggota DPRD M Suharso (yang juga warga Undaan) menyatakan, kasus ketidaklancaran pasokan air merupakan masalah mendesak yang harus ditangani. Menurutnya, warga petani mendapati sejumlah pintu air (dari besi pelat) yang hilang. Fakta tersebut mereka potret. Ketua P3A Kaspono menerangkan, pasokan air tidak sampai ke sasaran atau hingga lahan yang paling bawah terjadi juga karena ketidakdisiplinan petani. ''Sejumlah petani di wilayah hulu (atas) berlomba-lomba menyedot air dari saluran irigasi dengan menggunakan pompa diesel ukuran besar,'' tuturnya. Dalam pengamatannya, air yang ''hilang'' karena disedot pompa liar berkisar 15-20 m3/detik. Informasi yang sama disampaikan Kasi OPD BPSDA Wintarto. ''Jadi yang tak bisa mencabut bibitnya untuk segera ditanam tak hanya di tiga desa itu, tetapi hal sama juga terjadi di Desa Kutuk dan Undaan Tengah,'' ucap Kaspono. Dia menerangkan, air akhirnya mengalir sekitar pukul 10.30 kemarin sampai di areal paling hilir, setelah pihaknya sepanjang Minggu malam hingga Senin dini hari kemarin melakukan ronda bersama petugas pengairan Bambang Tugiantoro hingga sampai Bendung Klambu, Grobogan. ''Kami tidak yakin nanti air akan tetap mengalir seperti itu. Sebab seperti yang sudah-sudah, biasanya rekan petani di bagian atas akan seenaknya membuka pintu sadap kembali dan mengoperasikan pompa liar mereka,'' paparnya. Mencermati keluhan dan kondisi di lapangan seperti yang disampaikan petani, Ketua DPRD Asyrofi minta agar segera dibentuk tim terpadu guna mengatasi persoalan untuk jangka pendek serta mencari solusi menyeluruh untuk jangka panjang. (yit-90s) |